Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dulu Pusing Cari Kembalian, Kini Murdiah Jadi Pedagang ‘Melek Digital’ Berkat QRIS

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 11 Desember 2025 | 10:33 WIB

Hj Murdiah saat menjaga lapaknya di Pasar Dasan Agung.
Hj Murdiah saat menjaga lapaknya di Pasar Dasan Agung.

LombokPost — Di lantai 2 pojok Pasar Dasan Agung tepat di antara tumpukan sawi hijau, kacang panjang, dan terong, seorang perempuan paruh baya tampak lincah melayani pembeli. Namanya Hj Murdiah, pedagang sayur yang sekitar satu tahun terakhir ikut merasakan denyut baru dunia digital: ia menerima pembayaran melalui QRIS.

Mulanya ia hanya ikut-ikutan pedagang lain. “Coba saja dulu,” tuturnya, Kamis (11/12).

Namun, siapa sangka, keputusan sederhana itu mengubah cara ia bekerja setiap hari.

Murdiah tertawa kecil ketika mengenang masa-masa harus mencari uang kecil di bawah terpal lapaknya. Terkadang pelanggan membeli bawang Rp 3 ribu, bayarnya pakai Rp20 ribu.

“Sekarang? Tidak ribet sama sekali,” ujarnya.

QRIS, bagi Murdiah, menghadirkan presisi. Pembeli tinggal memindai kode, memasukkan jumlah pembayaran, selesai. Tidak ada uang salah hitung, tidak ada drama kembalian habis.

Selain soal kembalian, ada satu hal lagi yang membuat Murdiah benar-benar jatuh hati pada QRIS: takut uang palsu.

Pengalaman melihat pedagang lain tertipu membuatnya waspada. “Kalau QRIS kan langsung masuk ke rekening. Tidak ada cerita uang palsu. Saya jadi lebih tenang,” katanya sambil merapikan ikatan kacang panjang.

Bagi pedagang kecil seperti dirinya, kehilangan Rp 50 ribu pun sangat terasa. Karena itu, kepastian transaksi digital membuat ia merasa jauh lebih terlindungi.

Ada satu kejutan yang tidak ia sangka-sangka di awal: QRIS membuatnya… menabung.

“Biasanya uang langsung habis karena dipakai kebutuhan harian. Tapi karena masuk ke rekening, tahunya sudah terkumpul,” ujarnya, matanya berbinar.

Menurutnya, saldo yang pelan-pelan mengendap di rekening, meski nominalnya kecil-kecil, memberikan rasa senang tersendiri.

Baca Juga: Museum Negeri NTB Gelar Pameran Kain Dan Diplomasi Budaya, Refleksi Jejak Budaya Melalui Seutas Benang

Bagi pedagang kecil, konsep menabung kadang sulit dilakukan secara disiplin. QRIS, tanpa ia sadari, menjadi sistem sederhana yang membantu mengatur arus uang masuk.

Para pelanggannya kini makin majemuk. Ada ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga ASN muda yang mampir sebelum berangkat ke kantor.

"Anak muda paling sering. Mereka cepat sekali bayar pakai QRIS,” kata Murdiah.

Ia mengaku merasakan perubahan suasana pasar yang tak lagi sekadar tradisional. “Memang pasar ini masih pasar, tapi rasanya lebih modern,” tuturnya dengan bangga.

QRIS bagi Murdiah bukan hanya alat pembayaran, tapi simbol bahwa pasar tradisional pun bisa naik kelas.

Tidak ada transaksi yang terlalu kecil untuk QRIS. Ada yang bayar Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, bahkan Rp 3 ribu pun tetap dilayani. “Tidak masalah. Yang penting gampang,” ujarnya.

Baginya, akses digital seharusnya tidak eksklusif. Kalau bisa dipakai untuk semua level masyarakat, barulah teknologi benar-benar terasa manfaatnya.

Kisah Hajah Murdiah menggambarkan satu hal penting: digitalisasi bukan hanya milik kota besar atau pelaku usaha besar. Justru dampak paling nyata terlihat pada pedagang kecil, di lapak-lapak sederhana, di pasar tradisional yang masih menjadi denyut ekonomi rakyat.

 Baca Juga: 9.800 Transaksi QRIS! Konyu Caturwarga Jadi Jawara NTB, Pengusaha Lain Patut Belajar

Begitu cara Murdiah menutup percakapan. Transaksi yang hanya ribuan rupiah tampak sepele, tetapi bagi dirinya itu adalah bagian dari transformasi besar. Transformasi yang membawanya dari sekadar pedagang sayur menjadi pelaku UMKM yang melek teknologi.

“Intinya saya merasa dimudahkan. Mau belanja, mau nabung, mau terima pembayaran, semuanya jadi gampang," katanya sambil tersenyum, sebelum kembali melayani pembeli berikutnya.

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Pedagang sayur #UMKM digital #Pasar Dasan Agung #Uang Palsu #QRIS