LombokPost — Memasuki musim hujan, Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) kembali menegaskan pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sebagai garda terdepan dalam mencegah penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD). Upaya ini dinilai paling efektif, efisien, dan berkelanjutan untuk memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sebelum menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Emirald Isfihan, menekankan PSN harus menjadi kebiasaan bersama, terutama saat curah hujan meningkat dan potensi genangan air semakin besar. Menurutnya, langkah pencegahan jauh lebih penting dibandingkan penanganan saat kasus sudah muncul.
“PSN ini harus menjadi garda paling utama kita untuk mencegah DBD. Risikonya hampir tidak ada, sangat efisien dilakukan, dan kuncinya hanya kemauan serta komitmen kita bersama,” ujar dr. Emirald, Minggu (14/12).
Ia menjelaskan, pendekatan PSN jauh lebih strategis dibandingkan fogging yang selama ini kerap dianggap sebagai solusi utama. Fogging, kata dia, memiliki keterbatasan karena hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyasar jentik nyamuk sebagai sumber utama perkembangbiakan.
“Kalau fogging itu jelas hanya membunuh nyamuk dewasa, tidak bisa membunuh jentiknya. Selain itu, biayanya juga besar dan ada efek samping yang perlu dipertimbangkan, termasuk potensi gangguan kesehatan bagi warga jika dilakukan berulang,” jelasnya.
Karena itu, dikes lebih mendorong masyarakat untuk aktif melakukan PSN secara mandiri dan berkelanjutan, terutama melalui gerakan 3M Plus: menguras, menutup, dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang-barang yang berpotensi menampung air, ditambah langkah pencegahan lainnya.
Sejalan dengan itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Dewi Ayu Murniati, menyampaikan bahwa PSN tidak hanya dilakukan secara rutin, tetapi juga diperkuat pasca hujan sebagai langkah antisipasi dini terhadap munculnya kasus DBD.
“Selain PSN rutin, sebelum kita melakukan fogging saat ada kasus, kami juga melakukan PSN pasca hujan. Ini penting untuk mengantisipasi lebih dini timbulnya kasus DBD,” ungkap dr. Dewi.
Ia menambahkan, setelah hujan, dikes bersama puskesmas akan berkoordinasi dengan lingkungan setempat untuk melaksanakan PSN secara serentak bersama warga. Pendekatan kolaboratif ini dinilai efektif karena melibatkan partisipasi aktif masyarakat di tingkat lingkungan.
Baca Juga: MUSIM HUJAN TIBA! Waspadai “Duo Maut” ISPA dan DBD
Melalui penguatan PSN, Dinas Kesehatan Kota Mataram berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat. Pencegahan DBD bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan upaya kolektif yang dimulai dari rumah masing-masing.
Dengan komitmen bersama dan langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, risiko DBD dapat ditekan sejak dini, terutama di tengah musim hujan yang rawan perkembangbiakan nyamuk. “Biasanya setelah hujan, kami bersama puskesmas berkoordinasi dengan lingkungan untuk melakukan PSN pasca hujan bersama warga. Fokus kami lebih ke arah pencegahan sebelum timbulnya kasus DBD,” katanya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin