LombokPost — Pemerintah Kota Mataram kini berada di bawah pengawasan ketat pemerintah pusat. Ibu kota NTB ini resmi masuk radar sebagai kandidat percontohan nasional pengelolaan konflik kepentingan.
Fokus utama pengawasan ini menyasar celah-celah nepotisme, terutama pada sektor pengadaan barang dan jasa (PBJ) serta pengisian jabatan di lingkup birokrasi.
Plt Inspektur Inspektorat Kota Mataram, Baiq Nelly Kusumawati, mengungkapkan bahwa sektor pengadaan barang dan jasa merupakan area yang paling rentan terhadap praktik penyimpangan.
“Pengadaan barang dan jasa ini yang sangat riskan. Jangan sampai proyek Penunjukan Langsung (PL) diberikan kepada yang masih ‘berbau’ nepotisme,” tegas Nelly.
Nelly menekankan bahwa pejabat pengadaan tidak boleh memberikan proyek hanya berdasarkan kedekatan personal atau hubungan keluarga. Penentuan rekanan harus didasarkan pada penawaran terbaik dan profesionalisme kerja.
Menurutnya, mengutamakan keluarga dalam proyek pemerintah adalah pintu masuk utama terjadinya konflik kepentingan yang merugikan keuangan daerah.
Selain urusan proyek fisik, pengisian jabatan melalui Panitia Seleksi (Pansel) juga mendapat sorotan tajam. Nelly, yang juga menjabat sebagai Asisten III Setda Kota Mataram, menegaskan pentingnya sistem meritokrasi.
Ia mewanti-wanti agar pembentukan talent pool bukan sekadar formalitas untuk memuluskan langkah orang-orang dekat pejabat.
Namun, ia memberikan catatan bahwa kelulusan kerabat tetap sah secara aturan jika melalui prosedur yang benar.
“Kalau sudah melalui pansel, uji kompetensi, dan masuk tiga besar, itu hak prerogatif kepala daerah untuk memilih. Secara kompetensi sudah terukur dan sesuai ketentuan, jadi tidak masalah,” urainya.
Pengetatan pengawasan ini merupakan bagian dari persiapan besar menyambut seleksi nasional yang akan dimulai pada tahun 2026 mendatang. Masuknya Mataram sebagai nominasi dianggap sebagai hasil survei objektif dari pemerintah pusat.
“Ini menjadi momentum bagi Mataram untuk membuktikan bahwa tata kelola pemerintahan kita benar-benar bersih dan transparan,” pungkas Nelly.
Editor : Pujo Nugroho