LombokPost — Rampungnya pembangunan Jembatan Mahkota Bertais kini mendapat respons positif dari warga. Fasilitas penghubung yang sempat rusak akibat banjir bandang Juli 2025 itu kini kembali dapat dimanfaatkan, bahkan dengan kualitas konstruksi yang dinilai jauh lebih baik dari sebelumnya.
Perwakilan warga BTN Bayu Septiana, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas langkah cepat Pemerintah Kota Mataram dalam menangani kerusakan jembatan yang terjadi secara tiba-tiba tersebut. “Atas nama warga dan pribadi, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pak wali kota, juga kepada jajaran PUPR dan Bu Lale. Responsnya sangat cepat dan positif untuk warga,” ujar Bayu, Rabu (17/12).
Menurut Bayu, musibah banjir yang merusak jembatan justru berujung pada hasil yang lebih baik bagi masyarakat. Ia menilai, di balik kejadian tersebut terdapat perencanaan yang matang dan keberpihakan pemerintah kepada kepentingan warga.
“Kami belajar berpikir positif. Di balik musibah ternyata ada rencana yang jauh lebih baik. Struktur jembatan yang sekarang dibangun jauh melampaui ekspektasi kami,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, pada awalnya warga hanya berharap jembatan tersebut kembali bisa dilalui kendaraan roda empat. Namun, realisasi pembangunan justru menghadirkan konstruksi yang lebih kuat dan representatif.
“Ekspektasi kami waktu itu sederhana, yang penting bisa dilewati. Tapi ternyata dibangunkan jauh lebih bagus dari yang kami bayangkan,” imbuhnya.
Bayu menyoroti peran langsung Wali Kota Mataram yang turun meninjau lokasi saat jembatan rusak. Saat itu, meskipun belum tersedia anggaran karena sifat kejadian yang mendadak, Wali Kota disebut langsung memberikan arahan penanganan.
“Waktu itu kan kondisi darurat. Tapi Pak Wali langsung turun dan memberi direktif penanganan. Itu yang kami apresiasi, kepedulian beliau terhadap warga,” ucapnya.
Ia tidak menampik, pada tahap awal sempat muncul perdebatan terkait tanggung jawab kerusakan. Apakah masih menjadi kewajiban pengembang atau sudah menjadi ranah pemerintah.
Namun, warga meyakini jembatan tersebut sudah bukan lagi tanggungan pengembang. “Di awal memang ada kontroversi. Dari sisi warga, kami melihat ini sudah bukan tanggung jawab pengembang. Akhirnya Pak Wali memberi atensi luar biasa dan mengambil langkah tegas,” jelas Bayu.
Bayu menilai, keputusan tersebut tentu dilandasi berbagai pertimbangan yang berada di luar ranah warga, baik dari sisi teknis maupun kebijakan. Namun yang terpenting, menurutnya, adalah manfaat langsung yang dirasakan masyarakat.
“Soal pertimbangan sosial, politik, dan lainnya tentu bukan ranah kami. Yang kami lihat, Pak Wali sangat peduli terhadap warga BTN dan itu terbukti dari hasilnya,” katanya.
Terkait proses pengerjaan, Bayu memastikan pembangunan berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Meski sempat terkendala cuaca dan kondisi banjir susulan, progres proyek dinilai tetap on track.
“Kalau melihat papan proyek dan interaksi kami dengan pekerja, pengerjaan sesuai kalender. Targetnya 90 hari dan Alhamdulillah berjalan sesuai rencana,” ujarnya.
Ia menambahkan, antusiasme warga cukup tinggi menyambut rampungnya jembatan tersebut. Bahkan, warga berencana melakukan silaturahmi dengan pemkot sebagai bentuk ucapan terima kasih secara langsung.
“Respons warga sangat antusias. Ada rasa syukur yang besar. Dalam waktu dekat kami juga ingin bersilaturahmi langsung dengan pemkot untuk menyampaikan terima kasih,” tutup Bayu.
Kepala Dinas PUPR Lale Widiahning memastikan pembangunan Jembatan Mahkota Bertais telah resmi memasuki tahap Provisional Hand Over (PHO). Menurutnya, proses PHO jembatan tersebut telah dilakukan pada Sabtu 13 Desember 2025, menandai selesainya pekerjaan fisik sesuai kontrak.
“Jembatan Mahkota Bertais sudah PHO tanggal 13 kemarin,” ujar Lale.
Ia menjelaskan, rampungnya pembangunan jembatan ini tidak lepas dari kebijakan penggeseran anggaran yang dilakukan pemerintah daerah pada pertengahan tahun. Sehingga proyek tetap dapat direalisasikan dalam sisa waktu anggaran yang tersedia.
“Alhamdulillah, dari penggeseran anggaran yang terjadi di pertengahan tahun kemarin, jembatan ini bisa kita wujudkan sesuai dengan sisa waktu yang tersedia dan tidak melampaui akhir tahun,” jelasnya.
Lale menegaskan, pembangunan jembatan tersebut merupakan bentuk nyata pemkot dalam merespons cepat dampak bencana banjir yang terjadi pada Juli lalu. “Ini merupakan wujud nyata dari janji Pak Wali Kota kepada masyarakat, terutama warga yang terdampak bencana,” katanya.
Meski dikerjakan dalam kondisi waktu terbatas dan sempat terkendala cuaca, PUPR memastikan kualitas konstruksi tetap menjadi prioritas utama. Jembatan yang dibangun kini memiliki struktur yang lebih kuat dan aman dibandingkan bangunan sebelumnya.
“Kami tentu berharap jembatan itu dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat serta mendukung kelancaran aktivitas sosial dan ekonomi warga sekitar,” pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin