Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tempah Dedoro: Inovasi yang Mampu Pangkas 50 Persen Sampah di Mataram

Sanchia Vaneka • Minggu, 11 Januari 2026 | 07:10 WIB

 

Peogram tempah dedoro di lingkungan marong karang tatah
Peogram tempah dedoro di lingkungan marong karang tatah


LombokPost – Tempah Dedoro, inovasi ini merupakan modifikasi lubang biopori (gumbleng) raksasa yang dirancang multifungsi untuk mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, menjelaskan bahwa Tempah Dedoro bukan sekadar tempat pembuangan sampah, melainkan upaya mengubah pola pikir masyarakat.

Secara visual, alat ini tampak seperti meja semen permanen berbentuk bundar dengan warna hijau mencolok. Di tengahnya terdapat penutup besi yang menutupi lubang sedalam 2 hingga 2,5 meter. Lubang ini siap menampung:

* Sisa makanan dan sisa dapur.
* Dedaunan kering.
* Air cucian beras (Leri).

"Modelnya unik, bisa jadi tempat bersantai, dan yang paling penting tidak ada bau sama sekali," ujar Denny. 

berdasarkan laporan kepala lingkungan, penggunaan satu titik sistem ini mampu memangkas volume sampah harian secara drastis dari 180 kilogram menjadi hanya 80 kilogram saja.

Keberhasilan ini tidak hanya terlihat dari penyusutan kuantitas limbah, tetapi juga dari kualitas pengelolaan di mana jenis sampah sisa kini murni hanya sampah anorganik, sementara masalah bau dan penumpukan yang sebelumnya dikeluhkan kini telah bertransformasi menjadi hasil sampingan yang bermanfaat berupa 150 kilogram pupuk kompos berkualitas.

Dengan kedalaman lebih dari dua meter, satu lubang Dedoro diklaim mampu menampung sampah organik rumah tangga hingga satu tahun lamanya sebelum penuh dan siap dipanen menjadi pupuk.

Melihat keberhasilan di titik percontohan, Pemerintah Kota Mataram bergerak cepat. Wali Kota Mataram mencanangkan program wajib bagi setiap kelurahan untuk memiliki minimal satu lingkungan percontohan Tempah Dedoro di tahun 2026.

Detail Program Ekspansi:
* Target: 25 titik baru di seluruh Mataram.
* Estimasi Biaya: Rp 1 Juta per titik (termasuk pajak dan pembuatan kursi).
* Keunggulan Konstruksi: Bisa dibuat rata dengan jalan (flat) untuk wilayah dengan lahan sempit, berfungsi juga sebagai lubang biopori penyerap air.

Denny menekankan bahwa 60 persen sampah di Mataram adalah sampah organik. Jika setiap lingkungan menerapkan inovasi ini, beban sampah yang dibawa ke TPS Sandubaya atau TPA Kebon Kongok akan berkurang drastis.

"Sisa sampah anorganik yang tidak masuk ke lubang bisa dikelola oleh bank sampah atau pemulung untuk dijadikan barang bernilai ekonomis seperti paving block," pungkasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
#sampah #TPA #lingkungan #Mataram #DLH