Di Babakan, hari tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan sebelum matahari naik sempurna, gang-gang sempit sudah lebih dulu diisi aroma roti yang matang perlahan.
---
WANGI adonan keluar dari dapur-dapur rumah. Mengalir mengikuti arah angin, lalu menetap, menjadi identitas kawasan ini.
“Kalau pagi sampai siang, aromanya paling kuat,” ujar Siti Aminah, pelaku industri roti rumahan di Babakan, sambil tersenyum, bertutur pada Lombok Post, Rabu (14/1).
Di kawasan ini, roti bukan sekadar makanan. Ia telah menjadi bahasa hidup warga.
Hampir setiap rumah kini memiliki tungku dan oven produksi sendiri. Pekarangan sempit, dapur yang diperluas, hingga bangunan tambahan di samping rumah disulap menjadi ruang kerja keluarga.
“Lahan di sini kan terbatas. Jadi rumah ya sekalian jadi tempat usaha,” terangnya.
Masuk ke Babakan serasa melangkah ke wilayah dengan denyut berbeda. Di sepanjang jalan lingkungan, oven-oven berdiri berjejer.
Asap tipis keluar dari cerobong sederhana. Bau roti bercampur dengan aroma kue kering dan jajanan tradisional. Di jalan utama, etalase toko-toko kecil penuh oleh aneka roti.
“Hampir semua tetangga bikin roti. Jenisnya beda-beda, tapi baunya nyampur jadi satu,” ujarnya.
Tak berlebihan rasanya menyematkan Babakan sebagai “surga roti” di Kota Mataram. Dari roti manis, roti sisir, hingga jajanan khas seperti kuping gajah, semuanya mudah ditemukan.
Produksi berlangsung hampir sepanjang hari, menyesuaikan ritme pesanan pasar. “Kalau lagi ramai, kami bisa mulai dari subuh dan baru selesai malam,” terangnya.
Baca Juga: Hakim Lepas Laras dari Penjara, Vonis Penghasutan Demo Picu Sorak Sidang
Di balik semerbak aroma itu, roda distribusi terus bergerak. Kendaraan kecil hingga truk besar hilir-mudik keluar masuk kawasan.
Roti-roti Babakan tak hanya dikonsumsi warga Kota Mataram, tetapi juga menyebar ke Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Barat. Bahkan menyeberang ke Pulau Sumbawa.
“Biasanya diambil pagi, langsung dibawa keluar daerah. Kalau telat sedikit saja, bisa kehabisan,” ujarnya.
Keterbatasan lahan pertanian menjadi latar penting lahirnya kampung roti ini. Warga Babakan sadar betul mereka tak lagi bisa bergantung pada sawah atau kebun luas.
Maka, rumah dijadikan pusat produksi. Keluarga menjadi tenaga kerja utama.
“Yang bantu ya keluarga dulu. Kalau pesanan sudah banyak, baru tambah orang,” katanya.
Siti Aminah mulai menekuni usaha roti sekitar tahun 2015. Ia mengaku lupa tanggal persisnya, tetapi ingat betul fase awal yang serba terbatas.
Kini, ia mempekerjakan sekitar 10 orang. Sebagian berasal dari keluarga, sebagian lain dari luar daerah, termasuk beberapa pekerja asal Jawa—rekan lama suaminya.
“Awalnya cuma sedikit. Pelan-pelan nambah, ikut kemampuan,” tuturnya.
Di dalam tempat produksi miliknya, denyut Babakan terasa paling nyata. Ruangannya luas, beratap rangka besi sederhana, dengan dinding seng yang membiarkan cahaya masuk dari sela-sela.
Baca Juga: Masyarakat Selagik Lombok Timur Desak Sekdes Mundur
Di lantai, tikar-tikar plastik digelar. Di sanalah tangan-tangan bekerja tanpa henti.
Keranjang plastik putih bertumpuk tinggi, sebagian berisi roti matang, sebagian lain menunggu giliran diisi. Di sudut ruangan, loyang-loyang tersusun rapi, berjejak sisa tepung dan minyak.
Meja panjang di tengah dipenuhi adonan, plastik kemasan, dan roti yang siap dipilah. Suasana riuh, tapi teratur.
“Kalau sudah ramai begini, semua kebagian kerja,” katanya.
Perempuan-perempuan duduk bersila, memilah dan membungkus roti satu per satu. Ada yang cekatan menata isi plastik, ada yang menghitung, ada pula yang mengikat kemasan dengan karet.
Baca Juga: Indonesia Serukan ASEAN Kembali Jadi Jangkar Damai, Bukan Arena Rivalitas
“Kalau siang begini biasanya paling padat. Pesanan harus selesai sebelum sore,” ujarnya.
Di antara tumpukan roti dan kemasan, aroma manis terus mengambang. Bau pisang matang dari jajanan yang baru digoreng bercampur wangi roti panggang.
Siti Aisyah menyebut, sebagian besar pekerjanya adalah keluarga dan tetangga sekitar. “Yang penting bisa kerja bareng,” katanya.
Semua dikerjakan secara berantai, rapi, dan terukur. “Order sebenarnya banyak, bahkan dari luar daerah. Tapi yang dari dalam saja sudah kewalahan kami penuhi,” ujarnya.
Soal peralatan, ia menyebut oven dan perlengkapan dasar relatif sudah memadai. Yang kini paling dibutuhkan adalah mesin mixer berkapasitas besar.
“Oven alhamdulillah sudah cukup. Kalau ada bantuan mixer, produksi bisa lebih cepat dan jumlahnya bisa ditambah,” katanya, berharap perhatian pemerintah dan wakil rakyat menyentuh kebutuhan riil pelaku usaha.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin