Gempuran tren gaya hidup kian modern, Busaini tetap setia menjajakan kilauan batu akik di pinggir jalan dekat Pura Mayura meski masa kejayaannya telah lama berlalu. Baginya, deretan batu mulia ini bukan sekadar barang dagangan, melainkan bentuk kecintaan mendalam atau hobinua yang membuatnya bertahan meski pasar kian sepi.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Sinar matahri sore saat itu, jatuh tepat di atas ratusan batu cincin yang tertata rapi dalam kotak-kotak kayu berlapis beludru merah. Di balik lapak sederhana, seorang pria paruh baya dengan kacamata bertengger di hidungnya sibuk mengelap salah satu koleksinya.
Ia adalah pelanggan yang nampak karib dengan Busaini. Mengenakan kemeja batik motif bunga emas yang nampak kontras dengan sarung yang dikenakannya, jemarinya yang dihiasi beberapa cincin besar tampak lincah memilah-milah batu.
Di hadapannya, ribuan permata berbagai warna mulai dari merah rubi yang pekat, hijau giok yang tenang, hingga batu motif yang unik seolah menunggu tuah dari calon pembeli yang kian jarang melintas.
“Kalau tidak ada rasa suka, sudah berhenti saya sejak lama,” kata Busaini sembari melayani pelanggannya, Kamis (15/1).
Baca Juga: Cerita Insam Hariadi, Bertahan Jual Batu Akik di Mataram Meski Harga Tak Lagi Menggiurkan
Busaini mulai menggelar lapaknya di kawasan ini sejak tahun 2016. Saat itu, demam batu akik di Indonesia, termasuk di Lombok, sedang berada di puncaknya. Kala itu, dari anak sekolah hingga pejabat rela merogoh kocek dalam-dalam demi sebuah batu. Namun kini, ketika tren tersebut telah mendingin, Busaini tetap bergeming di tempatnya.
Koleksi Busaini bukan sembarang batu. Meski berjualan di pinggir jalan, sumber dagangannya menembus batas negara. Ia menjelaskan bahwa batu-batu tersebut tidak semuanya berasal dari bumi Lombok.
“Ada yang dari luar daerah, ada yang luar negeri juga banyak. Seperti dari Afrika, Australia, hingga Sri Lanka yang kelasnya Safir atau Ceylon,” ungkapnya sambil menunjukkan sebuah batu berwarna biru jernih.
Untuk batu mulia mancanegara, ia biasanya mengambil dalam bentuk yang sudah jadi atau sudah dipoles. Namun, untuk batu-batu lokal, Busaini tak jarang terjun langsung memprosesnya. Di sisi lapaknya, terdapat alat pemotong dan pengasah sederhana. Jika ada pelanggan yang membawa bongkahan batu mentah, ia hanya butuh waktu sekitar satu jam untuk mengubahnya menjadi sebuah perhiasan yang melingkar cantik di jari.
“Orang bisa beli batunya saja, gagangnya saja, atau bawa batu sendiri minta dipoles. Ongkos polesnya berkisar Rp 45.000 sampai Rp 100.000, tergantung tingkat kesulitannya,” tambahnya.
Berbeda dengan emas yang harganya cenderung stabil atau naik, batu akik memiliki dinamika pasar yang unik sekaligus kejam bagi sebagian orang. Busaini mengakui, harga batu akik saat ini terjun bebas jika dibandingkan masa kejayaan sepuluh tahun lalu. Ia mencontohkan batu Bacan yang legendaris.
“Dulu, kalau tidak punya uang lima juta rupiah, kita tidak bisa pakai Bacan. Sekarang, uang Rp 350.000 saja sudah bisa pakai. Jauh sekali turunnya,”kenangnya.
Namun, bagi Busaini, nilai sebuah batu akik tidak bisa diukur semata-mata dari angka rupiah. Baginya, daya tarik utama batu ini berasal dari hati.
“Kalau ditanya apa menariknya, ya dari hati saja. Kita senang melihat keindahannya, itu sudah cukup. Tidak ada kategori khusus yang harus begini atau begitu, yang penting hati sreg melihatnya,” tuturnya.
Setiap hari, Busaini berangkat dari rumah pukul 09.30 WITA dan menetap di lapaknya hingga pukul 17.30 WITA. Tak jarang, ia harus pulang dengan kantong yang tidak seberapa karena sepinya pembeli.
“Namanya jualan, kadang di atas, kadang di bawah. Sekarang memang sepi, yang datang biasanya memang orang-orang yang hobi saja,” katanya.
Meski pembeli didominasi oleh kalangan bapak-bapak atau pria berumur, Busaini menyebut masih ada anak muda, termasuk anggota TNI dan Polri, yang sesekali datang mencari batu sebagai aksesoris tambahan untuk menunjang wibawa. Harganya pun sangat variatif, mulai dari Rp 50.000 hingga yang mencapai ratusan ribu rupiah untuk jenis merah rubi yang dijual berdasarkan berat gramnya.
Di tengah hiruk pikuk kendaraan yang melintas di depan Pura Mayura, Busaini tetap setia dengan dunianya. Ia tak khawatir meninggalkan tumpukan kotak batunya sejenak jika harus ada keperluan, karena di sana ada rasa saling percaya antar sesama pedagang.
Bagi Busaini, batu akik mungkin bukan lagi ladang emas seperti dulu. Namun, selama masih ada orang yang mengagumi keindahan dari dalam perut bumi, ia akan tetap di sana mengasah batu, mengelap debu, dan menjaga warisan hobi yang telah menjadi bagian dari napas hidupnya.
Editor : Redaksi Lombok Post