LombokPost – Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram berkomitmen penuh dalam mengawal kesuksesan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tidak hanya fokus pada porsi utama, Dikes kini memperketat pengawasan terhadap kandungan gizi kudapan (snack) serta aspek higienitas dapur penyedia layanan.
Kepala Dikes Kota Mataram, Emirald Isfihan, menegaskan bahwa pemberian makanan kering atau snack bagi siswa harus memenuhi standar gizi yang seimbang sebagai pendamping makanan utama.
Menurut Emirald, fungsi snack dalam program MBG bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan pelengkap nutrisi harian siswa.
“Nilai gizi makanan kering ini memang kami perhatikan. Fungsinya bukan sebagai makanan utama, melainkan pendamping saja. Kami memberikan rekomendasi jenis makanan yang layak sesuai standar gizi,” ujar Emirald.
Baca Juga: Korwil BGN Mataram Tegaskan Produk Pabrikan Dilarang Masuk Menu MBG
Untuk menjaga konsistensi kualitas makanan di lapangan, Dikes Mataram telah memetakan pola pemeriksaan terhadap Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) atau dapur penyedia. Pengawasan dilakukan dengan dua skema:
* Evaluasi Ketat (Bulanan): Ditujukan bagi dapur yang berdasarkan evaluasi awal masih memerlukan perbaikan signifikan dalam pengelolaan.
* Pemeriksaan Berkala (Tiga Bulanan): Ditujukan bagi SPPG yang sudah memiliki manajemen stabil dan memenuhi standar kualitas.
Aspek legalitas menjadi poin yang tidak bisa ditawar. Dikes mencatat, dari total 45 dapur (SPPG) di Kota Mataram, sebanyak 35 unit telah mengantongi SLHS. Sementara 10 sisanya masih dalam proses pengujian laboratorium dan kelengkapan dokumen.
Emirald menekankan bahwa aturan dari Badan Gizi Nasional (BGN) kini jauh lebih ketat terkait durasi pengurusan izin.
* Deadline Baru: Pengelola dapur kini hanya diberikan waktu satu minggu untuk menuntaskan SLHS, jauh lebih singkat dibanding aturan sebelumnya yang mencapai satu bulan.
* Komponen Wajib: SLHS mencakup pelatihan penjamah makanan (penyaji) dan uji sampel laboratorium untuk memastikan makanan bebas dari kontaminasi berbahaya.
“Targetnya tidak lagi bulan, tapi hitungan minggu. Ini wajib, karena menyangkut kesehatan anak-anak kita,” tegasnya.