Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mataram Dikepung 10.200 Ton Sampah

Sanchia Vaneka • Kamis, 29 Januari 2026 | 08:13 WIB
Gunungan sampah di TPS Sandubaya
Gunungan sampah di TPS Sandubaya

LombokPost – Wajah ibu kota Provinsi NTB saat ini dalam kondisi darurat. Kebijakan pembatasan ritase pembuangan ke Tempat Pemrosesan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok Lombok Barat, menyisakan bom waktu di dalam kota.

Tercatat, sebanyak 10.200 ton sampah kini masih tertahan di sejumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di wilayah Kota Mataram.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi mengungkapkan bahwa penumpukan ini merupakan akumulasi selama kurang lebih dua bulan terakhir sejak pembatasan diberlakukan oleh Pemerintah Provinsi NTB. 

“Kalau kita hitung rata-rata, satu hari itu ada 170 ton sampah. Jika dikalikan 60 hari saja, ada sekitar 10.200 ton sampah yang saat ini masih ada di Mataram dan belum bisa kita buang,” kata Denny. 

 Baca Juga: NTB Darurat Sampah, Dewan Dorong Miq Iqbal Bentuk Tim Percepatan Penanganan Sampah

Denny menjelaskan, pembuangan ke Kebon Kongok bukannya dilarang total, namun jatah pengiriman atau ritase dipangkas habis-habisan.

Sebagai gambaran, pada Desember lalu, Mataram hanya mampu membuang sekitar 30,5 ton atau tidak sampai 20 persen dari total volume sampah harian. Saat ini, per hari Mataram hanya dijatah satu ritase untuk pengangkutan. 

“Masih sesuai surat dari Provinsi, hanya sekitar satu ritase. Padahal kisarannya kita butuh membuang 90 sampai 100 ton per hari agar kondisi bisa normal,” imbuhnya.

Akibatnya, gunungan sampah kini berceceran di sejumlah TPS besar. Denny menyebut beberapa titik l yang saat ini mengalami penumpukan signifikan antara lain TPS Bintaro, TPS Sandubaya, TPS Lawata, hingga TPS Selagalas, dan TPS 45. Diakuinya, sampah-sampah tersebut belum bisa dicicil untuk dibersihkan karena keterbatasan akses pembuangan akhir.

Baca Juga: Inspektorat Mataram Usut Dugaan Pungli PKL di Adi Sucipto

“Mau dibuang ke mana? TPS di dalam kota saja sudah penuh semua. Kondisinya memang sangat berat,” keluhnya.

Ditanya mengenai solusi pengolahan mandiri, Denny mengaku upaya melalui insinerator dan TPST Sandubaya yang ada maggot centre terus digenjot setiap hari. Namun, kapasitas alat tersebut belum sebanding dengan ledakan volume sampah yang mencapai belasan ribu ton.

Kota Mataram saat ini hanya mengandalkan dua unit insinerator, dan TPST Modern Sandubaya di mana kapasitasnya hanya mampu memproses sampah di bawah 50 ton per hari.

“Insinerator tetap jalan, tapi memang tidak seberapa dibanding jumlah sampah yang menumpuk. Belum lagi kendala izin untuk operasional alat pendukung lainnya,” tambahnya.

Satu-satunya harapan saat ini adalah percepatan pembangunan landfill baru di TPAR Kebon Kongok. Denny mengaku telah berkoordinasi dengan Wali Kota Mataram untuk terus memantau progres tersebut ke pihak Provinsi.

“Kami menjadwalkan sebelum bulan Ramadan atau sebelum puasa ini, landfill baru itu sudah bisa dipakai. Jika itu sudah beroperasi, kami pastikan pengangkutan sampah di Mataram bisa kembali normal,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekda Kota Mataram Lalu Alwan Basri mengatakan pihaknya siap untuk melakukan sharing anggaran untuk perluasan landfill TPAR Kebon Kongok.  Hal tersebut sebagai solusi di tengah persoalan sampah yang belum ada jalan keluar.

“Iya kita siap. Sharing anggaran Rp 1,7 miliar sama dengan Pemprov. Dan Lobar 20 persennya,” katanya. 

Editor : Akbar Sirinawa
#sampah #TPA Kebon Kongok #Mataram #tps