Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

HUT ke-18 Gerindra, DPC Gerindra Mataram Bersama TNI-Polri dan Warga Bersihkan Pantai Tanjung Karang

Lalu Mohammad Zaenudin • Jumat, 6 Februari 2026 | 10:12 WIB
Ketua DPC Partai Gerindra Abd Rachman saat memimpin aksi bersih pantai Tanjung Karang dalam rangka HUT Gerindra ke-18.
Ketua DPC Partai Gerindra Abd Rachman saat memimpin aksi bersih pantai Tanjung Karang dalam rangka HUT Gerindra ke-18.


LombokPost
 — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kota Mataram menggelar aksi bersih-bersih Pantai Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, Jumat (6/2/2026), dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Gerindra ke-18. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wujud kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang menyerap aspirasi masyarakat pesisir, khususnya nelayan.

Ketua DPC Partai Gerindra Kota Mataram yang juga Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram Abd. Rachman mengatakan aksi bersih pantai merupakan implementasi semangat HUT ke-18 Gerindra dengan tagline Kompak Bergerak Berdampak, yakni menghadirkan kegiatan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Ketika kami melakukan bersih-bersih pantai dalam rangka HUT ke-18 di Pantai Tanjung Karang, kami tidak hanya membersihkan sampah, tetapi juga menerima aspirasi dari warga nelayan di lingkungan Kelurahan Tanjung Karang,” ujar Rachman.

Istri Gubernur NTB Sinta Agathia Soedjoko, bersama pengurus dan kader Gerindra Kota Mataram di sela aksi bersih pantai.
Istri Gubernur NTB Sinta Agathia Soedjoko, bersama pengurus dan kader Gerindra Kota Mataram di sela aksi bersih pantai.

Ia mengungkapkan, salah satu persoalan utama yang disampaikan nelayan adalah abrasi pantai yang terjadi hampir setiap tahun, ditambah angin dan ombak besar, sehingga menyulitkan nelayan memarkir perahu di pinggir pantai.

“Akibat abrasi, pinggiran pantai kita terus terkikis dan areal parkir perahu semakin menyempit. Nelayan akhirnya harus menaikkan perahu ke darat. Kondisi ini tentu tidak bisa dibiarkan terus-menerus,” katanya.

Menurutnya, nelayan di sepanjang kurang lebih sembilan kilometer garis pantai Kota Mataram berharap adanya pembangunan jeti atau riprap penahan gelombang. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk menciptakan perairan yang lebih tenang sekaligus menyediakan ruang parkir perahu yang aman.

 

“Harapannya, pembangunan jeti atau riprap penahan gelombang sepanjang sembilan kilometer garis pantai bisa direalisasikan secepat mungkin. Dengan adanya riprap atau jeti, air di dalamnya bisa dibuat seperti telukan yang lebih tenang sehingga menjadi tempat parkir perahu ke depannya,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika pemerintah berencana menata kawasan pesisir menjadi kawasan wisata, maka persoalan dasar nelayan harus diselesaikan lebih dulu.

“Kalau pantai mau ditata menjadi daerah wisata, tentu permasalahan nelayan di sembilan kilometer ini harus kita selesaikan terlebih dahulu. Nelayan dan pariwisata harus bisa berjalan berdampingan,” tegasnya.

Baca Juga: Solid dan tanpa Cela, Duet Alexandra Eala–Janice Tjen Tembus Semifinal Mubadala Abu Dhabi Open 2026

Selain persoalan abrasi dan parkir perahu, Rachman juga menyoroti isu kebersihan pantai yang erat kaitannya dengan aliran sampah dari hulu sungai.

“Kita tidak bisa memungkiri, sampah dari hulu sungai itu menumpuk di hilir, termasuk di pantai. Ini fakta serius karena Kota Mataram dilalui beberapa sungai besar. Harus ada inovasi bagaimana mencegah sampah agar tidak sampai ke pantai,” ujarnya.

Meski diakui terdapat keterbatasan anggaran, ia menilai persoalan kebersihan tetap bisa diatasi jika menjadi prioritas bersama.

“Kalau kita serius dan menjadikannya prioritas, apa yang tidak bisa? Dengan kemauan keras dan kebersamaan, pasti bisa dicarikan jalan keluarnya,” katanya.

Ia mencontohkan hasil nyata dari aksi bersih pantai yang dilakukan bersama berbagai pihak.

“Tadi kita lihat sendiri, pantai yang sebelumnya kotor sekarang sudah terlihat bersih. Ini berkat partisipasi banyak pihak, mulai dari TNI, Polri, unsur provinsi, hingga kader-kader Partai Gerindra,” ujarnya.

Rachman berharap, semangat gotong royong yang terbangun dalam aksi tersebut dapat terus dipelihara, tidak hanya saat momentum HUT partai, tetapi menjadi budaya bersama dalam menjaga lingkungan pesisir.

“Ketika kita bersama-sama bergotong royong, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Bersatu kita teguh. Dengan kebersamaan, persoalan lingkungan dan persoalan nelayan di pesisir ini bisa kita atasi bersama,” pungkasnya. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Aspirasi nelayan #aksi bersih pantai #Gerindra kota mataram #abrasi pantai #Pantai Tanjung Karang