Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cuaca Ekstrem Landa Mataram, Dinas Kesehatan Klaim Kasus DBD Masih Terkendali

Sanchia Vaneka • Jumat, 6 Februari 2026 | 22:35 WIB

  

Ilustrasi pasien DBD.
Ilustrasi pasien DBD.

LombokPost - Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram terus memelototi tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di awal tahun 2026.

Meski cuaca ekstrem kerap melanda ibu kota, angka penyebaran virus yang dibawa nyamuk Aedes aegypti ini diklaim masih dalam kategori landai jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram Emirald Isfihan mengungkapkan, pihaknya sedang melakukan validasi data menyeluruh untuk memastikan angka pasti kasus di bulan Januari. Namun, ia memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus kematian akibat DBD di Kota Mataram.  

“Kami cek dulu datanya secara detail, mudah-mudahan tidak banyak. Yang jelas, sampai detik ini belum ada laporan terkait kematian. Kita semua berharap kondisi ini tetap terkontrol,” ujar Emirald. 

Baca Juga: Kasus DBD Anak Muncul, Wagub NTB Minta Penanganan Cepat dan Terpadu

Berdasarkan data evaluasi, sepanjang tahun 2025 lalu, tercatat ada sebanyak 519 kasus DBD yang ditemukan di Kota Mataram.

Emirald optimis, dengan intervensi yang dilakukan sejak dini, angka tersebut dapat ditekan lebih rendah pada tahun 2026 ini. Ia mengakui bahwa tren kasus pada Januari 2026 terpantau lebih positif dibandingkan Januari tahun lalu yang cenderung lebih tinggi.

Sebagai langkah antisipasi, Dikes telah mengeluarkan instruksi khusus kepada seluruh jajaran Puskesmas dan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P). Salah satu poin utamanya adalah penerapan standar operasional prosedur (SOP) Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) pasca hujan.

“Kami memiliki SOP 3x24 jam. Begitu hujan reda atau setelah tiga hari berturut-turut tidak hujan pasca cuaca basah, seluruh jajaran harus bergerak melakukan PSN secara serentak. Ini yang kami tekankan kepada teman-teman di Puskesmas untuk berkoordinasi langsung dengan kelurahan,” jelasnya.

Baca Juga: Selidiki Dugaan Perundungan Murid SD di Pringgabaya

Terkait pemetaan wilayah, Emirald menyebut kawasan Kecamatan Cakranegara dan Sandubaya masih menjadi atensi khusus. Hal ini disebabkan oleh tingginya mobilitas masyarakat dan kepadatan aktivitas di wilayah tersebut yang memiliki potensi transmisi lebih tinggi.

Disinggung mengenai permintaan fogging, Emirald menyadari adanya kecemasan di tengah masyarakat. Seringkali, warga meminta fogging hanya karena rasa takut meskipun belum ada kasus terkonfirmasi di lingkungannya.

“Kami tetap memfasilitasi dan memberikan atensi khusus, termasuk permintaan yang sifatnya situasional. Misalnya, ada warga yang bekerja di lokasi yang ada kasusnya, lalu merasa khawatir. Namun, edukasi tetap kami kedepankan bahwa PSN adalah kunci utama, bukan sekadar fogging,” tambahnya.

Saat ini, tim dari masing-masing wilayah puskesmas sedang melakukan asesmen lapangan. Gerakan PSN mandiri oleh masyarakat di lingkungan masing-masing diharapkan menjadi benteng utama agar lonjakan kasus DBD tidak terjadi di tengah siklus musim hujan tahun ini.

"Upaya kita adalah pencegahan kolektif. Ada atau tidak ada kasus, PSN pasca hujan wajib dilaksanakan," pungkasnya. 

 

Editor : Marthadi
#DBD #aedes aedypti #Dikes Mataram #Mataram