Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

120 Ton per Hari! TPST Kebun Talo Bakal Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar PLTU

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 26 Februari 2026 | 14:20 WIB

 

Kunjungan Komisi 3 DPRD Kota Mataram ke Kementerian PU Dirjen Cipta Karya.
Kunjungan Komisi 3 DPRD Kota Mataram ke Kementerian PU Dirjen Cipta Karya.

LombokPost – Kepastian pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebun Talo akhirnya diperoleh Kota Mataram setelah kunjungan ke Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR.

Proyek pengolahan sampah regional tersebut dipastikan mendapat dukungan anggaran sekitar Rp 98 miliar dengan skema pembiayaan multiyears.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram Ahmad Azhari Gufron mengatakan, kepastian anggaran menjadi hasil utama pertemuan antara pihaknya dengan Kementerian PU Dirjen Cipta Karya. DPRD memastikan proyek tetap berjalan meski sempat tertunda akibat rasionalisasi anggaran tahun sebelumnya.

"Yang terpenting dari pertemuan itu adalah memastikan dukungan anggaran itu benar-benar ada. Nilainya sekitar Rp 98 miliar untuk TPST kapasitas 120 ton per hari,” ujarnya, Kamis (26/2/2026). 

Menurut Gufron, pembangunan TPST Kebun Talo tidak dilakukan dalam satu tahun anggaran, melainkan bertahap selama dua hingga tiga tahun.

Tahapan rinci pekerjaan, termasuk porsi pembangunan fisik hanggar dan mesin pengolahan, masih dalam proses perencanaan kementerian.

"Skemanya multiyears, jadi tahun ini mulai dilaksanakan tapi belum langsung tuntas. Apakah tahap awal hanya bangunan atau sekaligus mesin, itu masih berproses di kementerian,” jelasnya.

Berbeda dengan TPST Sandubaya yang menghasilkan kompos dan paving block, TPST Kebun Talo dirancang memproduksi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif dari sampah kering.

Produk RDF ini nantinya ditargetkan menjadi bahan bakar substitusi bagi PLTU Jeranjang.

“Outputnya RDF, bahan bakar alternatif. Harapannya bisa kerja sama dengan PLTU Jeranjang. Jadi sampah tidak hanya ditimbun, tapi punya nilai energi,” katanya.

Meski pembangunan dipastikan berjalan, Gufron mengingatkan dampak terhadap pengurangan volume sampah kota belum bisa dirasakan dalam waktu dekat karena proses konstruksi memakan waktu cukup panjang.

Karena itu, ia meminta Pemkot tetap menyiapkan solusi sementara pengelolaan sampah.

"Karena pembangunannya dua sampai tiga tahun, TPST ini belum bisa langsung mengatasi sampah harian. Pemkot harus tetap mencari alternatif agar beban TPA tidak terus bertambah,” tegasnya. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Anggaran Rp98 miliar #Investasi Emas Jangka Panjang #Pengolahan sampah Mataram #DPRD Komisi III Mataram #RDF Jeranjang