Langit belum benar-benar jingga. Namun langkah-langkah kecil para pemuda tergesa menuju masjid di kampung.
---
MUSHAF dibawa. Sarung dilipat. Dan suara salam mulai terdengar pelan.
Setiap Ramadan, menjelang waktu berbuka, Lingkungan Tebelo memiliki denyut yang berbeda. “Tradisi ini telah hadir sejak dulu,” ungkap Lurah Mandalika Lalu Heru Nuryadin, Jumat (27/2).
Bukan di lapangan. Melainkan di masjid Dawa'il Qulub.
Anak-anak dan remaja datang bergelombang. Sebagian membawa Alquran dari rumah.
Mereka duduk melingkar di serambi. Tadarus dimulai.
Suara ayat suci bergantian mengisi ruang. Tradisi itu dikenal warga sebagai “Menyambut Senja.”
Selama satu bulan penuh Ramadan, remaja Tebelok mengisi waktu menjelang magrib dengan tadarus, pengajian, dan siraman rohani. Kegiatan berlangsung setiap hari.
Tanpa jeda. Tanpa perlu pengumuman.
“Alhamdulillah, suasana Ramadan di Mandalika sekarang lebih kondusif. Salah satu kuncinya karena remaja masjid punya kegiatan seperti ini,” imbuhnya.
Menurut Heru, kegiatan senja di Tebelok bukan program baru. Ia telah berlangsung puluhan tahun.
“Turun temurun,” tekannya.
Sejak masa ulama sepuh Lombok, almarhum Tuan Guru Haji Izuddin Bukhari. Tokoh agama yang juga satu garis keturunan dengan Tuan Guru Haji Saleh Hambali Bengkel.
Dari generasi ke generasi, tradisi itu terus dijaga. “Di Tebelok itu unik. Selama satu bulan penuh menjelang buka, anak-anak remaja semua berkumpul di masjid. Mereka tadarus, dengar tausiah, lalu berbuka bersama. Tradisi ini sudah sangat lama dan tidak pernah putus,” ujarnya.
Di dalam masjid, waktu berjalan lebih pelan. Ayat dibaca perlahan.
Ustaz menyiapkan tausiah singkat. Dari dapur kecil belakang serambi, aroma teh manis mulai tercium.
Bagi kampung, senja bukan lagi waktu rawan. Ia berubah menjadi waktu pulang.
“Dulu mungkin ada kekhawatiran anak-anak keluyuran menjelang magrib. Sekarang tidak. Mereka sudah punya tempat berkumpul—masjid. Ini yang membuat Ramadan di lingkungan lebih tertib dan damai,” katanya.
Tradisi itu juga menyatukan usia. Yang kecil belajar membaca.
Yang besar membantu mengatur kegiatan. Orang tua datang menjelang berbuka.
Semua duduk dalam saf yang sama. “Ini bukan hanya kegiatan ibadah, tapi pembinaan karakter. Anak-anak diajarkan kebersamaan, disiplin, dan cinta masjid sejak kecil. Itu warisan dari para tuan guru kita dulu,” lanjutnya.
Langit Tebelok perlahan berubah jingga. Suara azan magrib akhirnya pecah dari pengeras suara.
Baca Juga: Promo Tambah Daya Listrik Diskon 50% dari PLN, Ramadan 2026 Makin Terang! Cek Syaratnya
Tadarus berhenti. Doa berbuka dipanjatkan bersama.
Di luar masjid, kampung tetap sunyi dan tertib. Tak ada petasan.
“Tak ada kerumunan liar,” tekannya.
Senja di Tebelo telah menemukan jalannya sendiri. Remaja pulang ke masjid dan Ramadan berjalan teduh di kampung mereka.
“Tradisi ini yang bagaimanapun caranya harus dipertahankan,” tegasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin