Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dari Tradisi ke Wisata: Namatan Karang Taliwang Mulai Dilirik Jadi Daya Tarik Baru

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 17 Maret 2026 | 21:19 WIB

 

Anak-anak menyantap dengan lahap gibungan yang disiapkan panitia Nuzulul Qur'an Masjid Qubbatul Islam, Karang Taliwang, Kota Mataram.
Anak-anak menyantap dengan lahap gibungan yang disiapkan panitia Nuzulul Qur'an Masjid Qubbatul Islam, Karang Taliwang, Kota Mataram.

LombokPost – Tradisi Nuzulul Quran atau lebih populer dinamakan namatan yang digelar masyarakat Karang Taliwang terus dirawat sebagai bagian penting dari identitas budaya sekaligus ruang memperkuat kebersamaan warga lintas generasi.


Lurah Karang Taliwang Lalu Halit Wahyu Jati menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarana menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.


“Ini kegiatan namatan untuk menjaga tradisi budaya kita. Di samping itu juga menjadi edukasi bagi anak cucu agar tradisi-tradisi positif dari leluhur bisa terus dijaga dan diteruskan,” ujarnya, Senin (16/3). 


Menurutnya, namatan mencerminkan nilai gotong royong yang kuat. Seluruh masyarakat terlibat secara kolektif dalam menyiapkan makanan yang kemudian dibagikan kepada seluruh lapisan warga.


“Budaya namatan ini adalah bentuk kerja kolektif masyarakat Karang Taliwang. Semua bahu-membahu menyiapkan makanan untuk dibagikan,” katanya.

Ketua panitia Nuzulul Qur'an Habibi memantau pembagian gibungan pada jamaah yang hadir.
Ketua panitia Nuzulul Qur'an Habibi memantau pembagian gibungan pada jamaah yang hadir.


Libatkan Diaspora Taliwang


Tahun ini, pelaksanaan namatan memasuki tahun kedua dengan konsep yang lebih luas. Untuk pertama kalinya, masyarakat Taliwang yang berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) maupun diaspora yang tinggal di Kota Mataram turut diundang.


Langkah ini disebut sebagai terobosan untuk memperkuat keterhubungan lintas generasi dan lintas daerah.


“Kita undang masyarakat Taliwang yang bermukim di luar, termasuk diaspora di Mataram. Ini menjadi ruang silaturahmi lintas generasi dan lintas daerah agar mereka tetap ingat akar budaya mereka,” jelasnya.


Momentum ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi yang sarat nilai historis, bahkan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya dan religi.

Jamaah menggelar zikir dan doa sebelum menikmati buka puasa dan santap gibungan.
Jamaah menggelar zikir dan doa sebelum menikmati buka puasa dan santap gibungan.


Menuju Ekowisata Budaya


Ke depan, pihak kelurahan berupaya mengembangkan namatan tidak hanya sebagai tradisi, tetapi juga sebagai bagian dari ekowisata edukasi berbasis budaya dan religi.


“Namatan ini memiliki banyak nilai, mulai dari historis, religi, hingga nilai egaliter dan persaudaraan antara masyarakat Taliwang di Mataram dan di Sumbawa. Ini berpotensi menjadi wisata edukasi,” katanya.


Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang wisata keluarga yang mempertemukan kembali anggota keluarga yang lama tidak bertemu.


Libatkan Seluruh Lapisan Masyarakat


Pelaksanaan namatan melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial. Mulai dari takmir masjid, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga komunitas pemuda ikut ambil bagian.


“Semua lapisan masyarakat kita libatkan. Tidak ada sekat. Semua berkontribusi untuk menyukseskan kegiatan ini,” tegasnya.


Keterlibatan kolektif ini diharapkan mampu memperkuat tali silaturahmi, baik antarwarga Karang Taliwang maupun dengan masyarakat Taliwang yang berada di luar daerah.


Redam Stigma Negatif


Lurah Halit juga menilai, kegiatan-kegiatan positif seperti namatan menjadi salah satu cara efektif untuk meminimalisir stigma negatif terhadap lingkungan Karang Taliwang.


“Dengan memperbanyak kegiatan positif, kita ingin mengurangi stigma-stigma negatif terhadap kampung ini. Ini bagian dari kerja nyata masyarakat,” ujarnya.


Ia menambahkan, Karang Taliwang merupakan wilayah yang heterogen, dihuni berbagai latar belakang etnis dan agama, sehingga nilai toleransi menjadi hal yang terus dijaga.


“Lingkungan kami ini seperti miniatur Kota Mataram. Ada Arab, Hindu, Kristen, Tionghoa. Karena itu, toleransi menjadi hal penting yang terus kita rawat,” jelasnya.


Jaga Harmoni Ramadan dan Nyepi


Dalam momentum Ramadan tahun ini yang beririsan dengan Hari Raya Nyepi, pihak kelurahan juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga harmoni dan saling menghormati.


“Kami berharap masyarakat bisa saling menghormati, baik dalam merayakan Idulfitri maupun Nyepi, sehingga semua bisa menjalankan ibadah dengan tenang,” tutupnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Karang Taliwang Mataram #Tradisi namatan Taliwang #Wisata budaya religi #budaya lombok #Diaspora Taliwang