LombokPost – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram tengah berupaya menuntaskan persoalan sampah yang masih mengendap di sejumlah Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Sekitar 10 ribu ton sampah dilaporkan masih menumpuk di TPS Sandubaya.
Kondisi ini diperparah dengan belum tuntasnya pembersihan di TPS Bintaro serta terbatasnya jumlah armada pengangkut yang saat ini banyak mengalami kerusakan. Kepala DLH Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi mengungkapkan, fokus utama pihaknya saat ini menyelesaikan sterilisasi di TPS Bintaro sebelum beralih ke titik lainnya.
Meski telah diangkut bertahap, sampah di kawasan tersebut belum sepenuhnya hilang. “Dari kondisi semula, sekarang sampah di TPS Bintaro tinggal seperempatnya lagi. Setengah dari sisa itu akan kita buang ke TPA Kebon Kongok, dan setengahnya lagi akan kita sisihkan sementara di dalam TPS baru yang sudah kita buat di belakang kantor lurah,” katanya, Selasa (31/3).
Pihaknya menargetkan pembersihan di TPS Bintaro dapat rampung dalam waktu satu bulan. Setelah area tersebut benar-benar bersih, DLH berencana mengalihkan seluruh personel dan armada menangani tumpukan sampah di TPS Sandubaya.
“Sekarang kisaran 10 ribuan ton lah,” tambahnya.
Denny mengakui, tumpukan di Sandubaya memang sangat masif. Selama ini belum ada pembuangan stok lama secara besar-besaran.
Saat ini, sistem yang diterapkan di Sandubaya adalah TPS Mobile, di mana sampah dari kendaraan roda tiga langsung dipindahkan ke dump truck untuk dibawa ke TPA. Namun, langkah ini baru sebatas menangani sampah baru (stok harian), bukan mengurai tumpukan sampah lama yang sudah menggunung.
“Masih banyak sekali karena memang belum sempat dibuang. Kami fokus selesaikan Bintaro dulu, baru setelah itu semua armada kita geser ke Sandubaya,”tegasnya.
Persoalan teknis di lapangan semakin pelik dengan kondisi armada pengangkut yang memprihatinkan. Denny memaparkan, dari total 34 unit kendaraan pengangkut yang dimiliki, sebanyak 8 unit saat ini dalam kondisi rusak dan masuk bengkel.
Hanya 26 unit yang beroperasi melayani seluruh wilayah Kota Mataram. Padahal, untuk mencapai kondisi ideal, membutuhkan sedikitnya 50 hingga 51 unit kendaraan.
Meskipun ada tambahan dua unit bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB beberapa waktu lalu, jumlah tersebut masih jauh dari kata sebanding dengan volume sampah yang dihasilkan masyarakat setiap harinya. Sebagai langkah antisipasi, DLH tengah menjajaki bantuan tambahan armada dari pihak ketiga.
“Kami sedang mencoba meminta bantuan ke Bank NTB Syariah untuk pengadaan dua unit lagi, baik itu dump truck maupun pickup,” katanya.
Terkait anggaran operasional, Denny menyebutkan anggaran Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk angkutan sampah pada tahun 2026 ini berada di angka Rp 8 miliar. Anggaran ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar Rp 12 miliar.
Kendati anggaran menyusut, ia berkomitmen memaksimalkan penggunaan BBM untuk kelancaran ritase pengangkutan ke TPA Kebon Kongok. “Anggaran 8 miliar itu kita maksimalkan dulu sampai akhir tahun. Jika nanti memang terjadi kekurangan di tengah jalan, akan kami ajukan tambahan melalui Anggaran Biaya Tambahan (ABT),” pungkasnya. (chi/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin