LombokPost - Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram tengah memberikan atensi khusus terhadap keberadaan Anak Jalanan (Anjal) serta Gelandang dan Pengemis (Gepeng) yang kian marak beroperasi di kawasan pusat perbelanjaan Mataram Mall dan MyStyle. Langkah ini diambil guna menindaklanjuti keresahan pengunjung terkait aktivitas anjal yang dinilai mulai mengganggu kenyamanan publik, terutama dengan pola berjualan yang bersifat memaksa.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram Muzakkir Walad mengungkapkan, meski pihak manajemen pusat perbelanjaan belum melayangkan laporan resmi, pihaknya berinisiatif melakukan jemput bola. Hal ini dilakukan karena adanya indikasi kuat manajemen maupun pengunjung merasa terganggu, namun terkendala mengenai kanal pengaduan yang harus dituju.
“Kami menyadari manajemen mungkin ingin mengadukan masalah ini, cuma karena belum terkonfirmasi kanal pengaduannya, maka siang ini (kemarin, Red) kami langsung turun ke sana. Kami akan bertemu pihak manajemen untuk menyampaikan teknis pengaduan dan memberikan kontak person yang bisa dihubungi jika ditemukan anjal atau gepeng,” kata Muzakkir, Rabu (1/4).
Baca Juga: Belasan Dapur MBG Mataram Ditutup, Aliran Dana Dihentikan!
Muzakkir menjelaskan, berdasarkan pantauan di lapangan, fenomena anjal di titik tersebut cukup memprihatinkan. Mereka seringkali menjajakan tisu hingga jajanan dengan cara yang sedikit memaksa.
Bahkan, dalam beberapa laporan yang diterima secara lisan, tak jarang terjadi aksi verbal yang kurang menyenangkan seperti makian kepada pengunjung jika dagangannya tidak dibeli. Untuk menekan angka gangguan tersebut, Dinsos melakukan konversi tugas Satuan Tugas (Satgas) di lapangan.
Sebanyak 5 hingga 10 personel Satgas yang sebelumnya tersebar di titik lain kini ditarik untuk dikonsentrasikan menjaga kawasan Mataram Mall dan MyStyle secara ketat. “Total ada 68 Satgas yang kami miliki, namun memang kemarin sempat terbagi fokusnya di titik-titik rawan lain seperti kawasan Airlangga, Islamic Center, hingga Dasan Cermen,” imbuhnya.
Baca Juga: BGN Skors 29 Pengelola MBG di Lobar, Satgas MBG Sebut Sudah Beri Peringatan, Ini Daftar Lengkapnya
Hasil pelacakan Dinsos menunjukkan adanya perbedaan profil antara anjal dan gepeng.
Untuk kategori anjal, anak-anak yang kerap terlihat di sekitar mall, rata-rata merupakan warga lokal atau lingkungan sekitar.
Sementara untuk kategori pengamen Badut maupun Manusia Silver, mayoritas berasal dari luar Kota Mataram. Muzakkir menekankan, penanganan anjal anak-anak ini memerlukan pendekatan yang berbeda karena mereka masih memiliki tempat tinggal dan keluarga.
Masalah utama yang dihadapi adalah persoalan mentalitas dan lingkungan. Oleh karena itu, Dinsos mengedepankan proses rehabilitasi sosial dan pembinaan berkelanjutan agar mereka tidak kembali ke jalanan.
“Kami sudah menerapkan digitalisasi untuk merekam jejak rekan para anjal ini. Tujuannya agar ada rekam pembinaan sudah berapa kali dibina, apakah sudah dirujuk, dan sejauh mana perkembangannya. Dengan data digital ini, kita bisa memastikan penanganan yang dilakukan lebih terukur dan meminimalisir kejadian berulang," pungkasnya. (chi/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin