Para pedagang menyambut realita berupa lonjakan harga aneka jenis plastik. Kenaikan dipicu sentimen konflik global.
----
DI salah satu pertokoan pemasok alat pengemasan
Kota Mataram, Ana sibuk menata tumpukan plastik. Tangannya cekatan, setiap kali ada pelanggan yang datang membeli.
Sejak April ini, ia harus berulang kali memberikan penjelasan yang sama, kalau harga plastik lagi naik. Bulan April ini pasca-puasa, jika biasanya kenaikan barang terjadi perlahan dalam hitungan ratusan perak, kali ini lonjakan harga plastik terjadi layaknya balapan yang tak kunjung mencapai garis finis.
“Awalnya itu cuma naik 4 ribu rupiah. Dari harga Rp 8 ribu ke Rp 12 ribu, kemarin naik lagi seribu, sekarang sudah jadi Rp 13 ribu,” kata Ana sembari menunjukkan tumpukan plastik kresek.
Baca Juga: 500 Santunan Kematian Mandek, Warga Mulai Bertanya
Fenomena ini tergolong unik sekaligus mencekik. Jika biasanya harga-harga barang melonjak drastis di momen tertentu akibat tingginya permintaan, plastik justru menunjukkan taringnya tepat setelah momen Lebaran berlalu.
Menurut Ana, saat bulan puasa kemarin, harga masih relatif stabil atau hanya mengalami kenaikan tipis. Namun, memasuki pertengahan April, grafik harga tersebut melesat vertikal.
Yang paling mencolok adalah plastik kresek. Barang yang paling sering dicari oleh pedagang kecil dan rumah tangga.
Jika dihitung secara matematis, kenaikan dari harga awal Rp 8 ribu menjadi Rp 13 ribu mencerminkan lonjakan sebesar 62,5 persen. Kenaikan ini merata di hampir semua ukuran, mulai dari ukuran kecil (15), sedang (21), hingga besar (28).
Semuanya kompak naik harga. Tidak ada ruang bagi pembeli memilih alternatif yang lebih murah karena seluruh lini produk plastik seolah sepakat untuk mahal.
Baca Juga: Labkesda Jadi Mesin PAD Baru, Dinkes Mataram Tancap Gas Usai Berstatus BLUD
Tak hanya plastik kresek, perlengkapan dagang para pelaku kuliner kekinian pun ikut terdampak. Cup plastik atau gelas plastik sekali pakai yang biasa digunakan menjual minuman dingin turut merangkak naik.
“Plastik cup es ini juga naik. Dari harga awal Rp 15 ribu sekarang sudah di angka Rp 16 ribu. Rata-rata memang kenaikannya seribu rupiah untuk item tertentu,” tambahnya.
Bahkan, produk kemasan yang lebih premium seperti thinwall atau lunch box transparan yang tahan panas mengalami kenaikan yang lebih signifikan. Produk yang semula dibanderol Rp 31 ribu kini harus ditebus dengan harga Rp 34 ribu per pak.
Selisih Rp 3 ribu ini, sangat berpengaruh bagi pedagang makanan yang margin keuntungannya sudah tipis. Saat ditanya mengenai penyebab di balik fenomena ini, Ana hanya bisa memberikan jawaban berdasarkan informasi yang ia terima dari pihak distributor besar.
Ternyata, pangkal masalahnya bukan berada di pasar lokal, melainkan ribuan kilometer jauhnya di belahan bumi lain. “Mungkin karena itu, perang. Informasinya begitu, karena ada perang jadi pengaruh ke harga produksi dan pengiriman,” ungkapnya.
Baca Juga: Rekrutmen ASN Mataram 2026: Tambahan Tipis, Beban Tetap Dijaga
Memang bukan rahasia lagi, plastik produk turunan minyak bumi. Ketegangan geopolitik global seringkali memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia, yang kemudian memberikan efek domino hingga ke dasar rantai pasok.
Meski jumlah pembeli belum menunjukkan penurunan drastis, namun gelombang keluhan sudah mulai membanjiri meja kasir. Para pelanggan, yang mayoritas pedagang makanan dan pemilik warung, mulai merasa tercekik.
“Ada banyak yang mulai mengeluh, terutama pedagang-pedagang. Mereka bingung, mau menaikkan harga jualan takut tidak laku, tapi kalau tidak naik, biaya operasional untuk plastik saja sudah mahal sekali,” ceritanya.
Di sisi lain, Ika pedagang jajanan tradisional hanya bisa mengelus dada. Plastik komponen biaya produksi yang mau tidak mau harus ia beli setiap hari.
“Bingung saya, mau tidak pakai plastik tidak mungkin. Orang kalau beli jajan di sini pasti minta dibungkus,” ujarnya.
Baca Juga: Rekrutmen ASN Mataram 2026: Tambahan Tipis, Beban Tetap Dijaga
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin