Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bukan Proyek Instan! Abd Rachman Kawal Aspirasi Warga Marong Melalui Pokir Selama 5 Tahun Tanpa Putus

Lalu Mohammad Zaenudin • Minggu, 19 April 2026 | 12:54 WIB
Abd Rachman (baju abu) saat mengecek hasil pengerjaan thalud di sungai kawasan Marong Karang Tatah.
Abd Rachman (baju abu) saat mengecek hasil pengerjaan thalud di sungai kawasan Marong Karang Tatah.

 

DI bantaran sungai Lingkungan Marong Karang Tatah, perubahan itu tidak datang tiba-tiba. Berawal dari tumbuh pelan.

Bertahap. Dan nyaris tanpa sorotan.

“Dulu, kawasan ini hanya dikenal sebagai tempat pembuangan sampah,” tutur Kepala Lingkungan Marong Karang Tatah Lalu Muhammad Yakub, pada Lombok Post, Kamis (16/4).

Bau menyengat. Kotor. Dan tak terurus.

“Tidak ada yang mau ke sini,” imbuhnya.

Lahan itu bukan milik pribadi. Warga menyebutnya sebagai “tanah GG” atau Government Ground.

Lebarnya sekitar empat meter, memanjang hingga puluhan meter di sepanjang aliran sungai. “Dan kerap ditanami pohon pisang,” ucapnya.

Di Lingkungan Marong Karang Tatah sendiri tidak ada fasilitas umum. Tidak ada ruang bermain.

Sedangkan pemukiman warga sangat masif. Padat.

Baca Juga: Bagai Pungguk Merindukan Bulan, AC Milan Klub dengan Ekspektasi Ketinggian


Anak-anak hanya punya gang sempit sebagai tempat beraktivitas. Di situlah gagasan kecil muncul.

Bukan dari rapat besar. Bukan dari program resmi.

Melainkan dari keresahan sederhana. “Warga butuh ruang hidup,” ucapnya pelan.

Yakub kemudian mengajukan usulan ke pemerintah kota. Namun usulan langsung ataupun melalui forum MPBM gaungnya tak terdengar sama sekali.

Seperti banyak aspirasi warga lainnya, usulan itu tak langsung mendapat respons. Menguap hilang bak minyak angin.

Baru ketika Anggota DPRD Kota Mataram Abd Rachman, turun dan melihat langsung kondisi di lapangan, perubahan mulai bergerak. “Awalnya kami ajukan untuk penguatan dulu. Karena tanah ini terus tergerus sungai, dan bang Rachman langsung ‘oke’ lewat pokirnya,” tuturnya, bagaimana cepatnya respons Ketua DPC Gerindra Kota Mataram itu memenuhi harapan mereka.

Langkah pertama bukan memperindah. Melainkan menyelamatkan.

Bronjong dipasang. Tanggul diperkuat. Sepanjang 30 meter pertama.

“Itu awalnya. Setelah itu berlanjut lagi. Setiap tahun bertambah 30 meter,” katanya.

Proses itu tidak instan. Tidak sekaligus selesai. Namun konsisten.

Baca Juga: The Next Bergkamp! Arsenal Siapkan Dana Fantastis Boyong Julian Alvarez ke London


“Kamipun sadar keterbatasan beliau (Rachman, Red) beliau kan anggota dewan, tapi kami sangat menghargai komitmennya begitu menyetujui membantu kami,” ujarnya.

Selama lima tahun. Aspirasi itu terus diperjuangkan tanpa putus. Lewat Pokir.

Setiap tahun, pembangunan dilanjutkan sedikit demi sedikit. Dari 30 meter ke 60 meter.

Lalu terus memanjang. Hingga kawasan itu kini jauh lebih kokoh.

Perubahan mulai terlihat. Tanah yang dulu rapuh kini menguat.

Sampah yang dulu menumpuk perlahan hilang. Dan warga mulai mendekat.

Tak berhenti di situ, penataan berlanjut. Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) ikut masuk dengan pembangunan tambahan seperti batu sikat dan penataan permukaan.

Ruang itu pun berubah fungsi. Dari tempat yang ditinggalkan, menjadi tempat yang dicari.

“Kini, anak-anak punya ruang bermain,” ujarnya penuh syukur.

Warga punya tempat berkumpul. Dan bantaran sungai tak lagi menjadi “belakang rumah” yang dilupakan.

Baca Juga: Gabriel Martinelli Masuk Radar PSG, Masa Depannya di Arsenal Mulai Goyang

 


Perubahan itu bahkan mulai menarik perhatian. Sejumlah pejabat datang melihat.

Namun bagi warga, yang paling terasa bukan kunjungan itu. Melainkan proses panjang yang akhirnya membuahkan hasil.

Bagi Yakub, peran Rachman menjadi titik penting dalam perjalanan itu. Karena dari sanalah aspirasi warga benar-benar mulai didengar.

“Semua bronjong ini dari aspirasi Pak Rachman. Setiap tahun tidak pernah putus selama lima tahun,” ujarnya.

Pembangunan tidak selalu datang dari proyek besar. Kadang, lahir dari usulan kecil yang diperjuangkan dengan sabar.

“Yang penting sekarang warga punya tempat, anak-anak punya ruang bermain, dan lingkungan kita jadi lebih baik,” ujarnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Marong Karang Tatah #Taman Tibu Jowet #Abd Rachman Gerindra #aspirasi masyarakat