Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Musa, Penjual Soto di Sudut Islamic Center: Dewasa Sebelum Waktunya karena "Merarik Kodeq"

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 30 April 2026 | 15:42 WIB
MENUNGGU PEMBELI: Musa, pedagang soto di kawasan Islamic Center Mataram, tetap bertahan menjajakan dagangannya di tengah naiknya harga bahan pokok dan sepinya pembeli di momen tertentu. (ZAD/LOMBOK POST)
MENUNGGU PEMBELI: Musa, pedagang soto di kawasan Islamic Center Mataram, tetap bertahan menjajakan dagangannya di tengah naiknya harga bahan pokok dan sepinya pembeli di momen tertentu. (ZAD/LOMBOK POST)

 


Jualan tidak selalu ramai. Kadang justru paling sepi saat momen besar.

---

DI sudut kawasan Islamic Center, aroma soto masih mengepul dari gerobak sederhana itu. Kuah hangat, irisan telur, dan suwiran ayam tetap tersaji seperti biasa.

Namun pembelinya tak selalu ada. Sepi.

Terutama saat momen yang bagi orang lain justru ramai. “Kalau jelang pemberangkatan haji itu justru sepi, orang-orang banyak makan di acara rowah (zikir, Red) , jadi jualan kurang laku,” tutur Musa dalam bahasa Sasak, pedagang soto asal Lombok Timur, Rabu (29/4).

Ia tak mengeluh soal capek. Bukan juga soal panas atau hujan.

Yang paling berat, justru ketika dagangan tak habis. Karena itu berarti satu hal, penghasilan tak ada.

“Kalau enggak ada yang terjual, rasanya pengen emosi juga, apalagi kalau sampai di rumah ada yang ngomelin,” ujarnya sambil tersenyum tipis.

Musa tahu betul hitung-hitungan hidupnya. Modal sekitar Rp 600 ribu setiap hari.

 

Baca Juga: Baru, Lokasi Nongkrong Terasyik Mataram! Wali Kota Ingin Friday Relax Jadi Denyut Baru Ekonomi Kreatif

Kalau semua terjual, paling tinggi hanya kembali Rp 850 ribu. Artinya, keuntungan bersih sekitar Rp250 ribu.

Kalau tidak banyak laku artinya rugi. Sesederhana itu hitungannya. 

“Kalau habis semua ya segitu, tapi coba bayangkan itu untuk makan, untuk anak, untuk kebutuhan lain, cepat habis,” katanya.

Belum lagi jika dagangan tidak laku. Uang tak berputar. Modal terhenti.

Namun perjalanan Musa bukan dimulai hari ini. Ia sudah mengenal dunia jualan sejak kecil.

Sangat kecil. “Saya sudah jualan dari umur sebelas tahun, karena waktu itu saya sudah menikah,” ungkapnya.

Pernikahan dini yang dalam tradisi lama disebut merarik kodeq, memaksanya cepat dewasa. Tidak ada sekolah. Tidak ada pilihan.

Yang ada hanya tanggung jawab. Dari situlah ia mulai belajar melihat peluang.

Dari pasar. Dari pedagang lain. Dari kehidupan.

 

Baca Juga: Atasi Kendala Izin Online, DPMPTSP Mataram Beri Pendampingan Langsung ke Warga Gomong

“Saya belajar sendiri, lihat orang jualan, terus saya coba,” ujarnya.

Perjalanan membawanya ke Mataram. Mendorong gerobak dari satu tempat ke tempat lain.

Dulu, tubuhnya kecil. Sering diremehkan.

Bahkan tak jarang pembeli tidak mau membayar. “Dulu ada yang pesan sampai enam mangkok, tapi bayar satu saja, karena saya masih kecil dan tidak berani. Siapa lagi pelakunya kalau bukan preman pasar,” gerutunya.

Namun waktu mengubah banyak hal. Gerobak yang didorong setiap hari, perlahan menguatkan tubuhnya.

Yang dulu diledek, kini justru disegani. Harga soto pun ikut berubah.

Dari Rp 5 per mangkok, kini menjadi Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu. “Kalau dulu saat masih kecil paling mahal orang bayar Rp 100,” kenangnya.  

Tapi perubahan harga tak selalu berarti perubahan hidup. Karena biaya juga ikut naik.

“Dulu modal tiga puluh ribu sudah banyak dapat bahan, sekarang enam ratus ribu cuma sedikit,” katanya.

 

Baca Juga: Hari Posyandu Nasional: Bunda Kikin Dorong Posyandu Mataram Jadi Pusat Layanan 6 SPM

Ada alasan lain mengapa Musa memilih bertahan di Mataram, bukan di kampung halamannya. Bukan soal pasar. Bukan juga soal peluang.

Tapi soal perasaan. “Kalau di kampung, yang beli itu keluarga sendiri, rasanya enggak enak kita ambil uangnya,” ujarnya.

Ia pernah mencoba. Hanya dua hari. Lalu berhenti. Karena modal tak pernah kembali.

Berbeda di Mataram. Orang datang, makan, dan membayar. Kalaupun ada yang tak membayar, itu hanya sesekali.

“Kalau di sini lebih enak, walaupun susah, tapi jelas,” katanya.

Hari-hari Musa mungkin sederhana. Menunggu pembeli. Mengaduk kuah. Menghitung sisa nasi.

Namun di balik itu, ada perjuangan panjang yang tak semua orang lihat. Tentang tanggung jawab yang datang terlalu cepat. Tentang hidup yang harus terus berjalan.

Dan tentang harapan yang tetap dijaga, meski dagangan kadang sepi. “Yang penting kita tetap jalan, karena kalau kita berhenti, kita tidak punya apa-apa lagi,” tutupnya. (*/r9)

 

Baca Juga: Vonis Bebas Murni, Nama Baik Mahyuniati Fitria Dipulihkan dari Dakwaan Tipikor

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #pedagang soto #kisah hidup #Kuliner #Islamic Center