LombokPost - Cuaca ekstrem yang melanda Kota Mataram sejak awal tahun mulai berdampak pada sektor pariwisata. Salah satu yang paling terasa terjadi di kawasan wisata Loang Baloq, di mana lebih dari separuh lapak kuliner hingga kini masih kosong tanpa penyewa.
Kondisi tersebut ikut mempengaruhi capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kota Mataram yang hingga April 2026 baru menyentuh angka sekitar 13 persen dari target Rp 800 juta.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra, mengatakan cuaca yang tidak menentu membuat kunjungan wisatawan menurun dan berdampak langsung terhadap aktivitas pedagang di kawasan wisata.
“Kondisi cuaca ekstrem di awal tahun memang mempengaruhi kunjungan wisatawan, yang berdampak pada pendapatan pedagang,” ujarnya, Jumat (8/5).
Menurut Cahya, hingga saat ini dari total 25 unit lapak kuliner yang tersedia di kawasan Loang Baloq, baru 11 unit yang terisi. Sementara sisanya masih kosong.
Baca Juga: Unram Klarifikasi Pembubaran Nobar Film Pesta Babi, Tegaskan Demi Ketertiban Kampus
Kondisi serupa juga terjadi pada lapak suvenir di kawasan tersebut.
Akibat lesunya aktivitas wisata, realisasi PAD Dinas Pariwisata Kota Mataram hingga April baru mencapai sekitar Rp104 juta atau 13 persen dari target tahunan.
“Iya, realisasinya baru 13 persen. Itu dari lapak Loang Baloq, parkir, dan Pantai Ampenan,” katanya.
Ia mengakui sektor pariwisata saat ini masih menghadapi tantangan cukup berat, terutama karena sumber PAD masih bertumpu pada retribusi sewa lapak dan tiket masuk destinasi wisata.
Karena itu, cuaca ekstrem yang mempengaruhi mobilitas wisatawan otomatis ikut berdampak pada pendapatan pedagang dan kemampuan mereka membayar retribusi.
Baca Juga: Catat Tanggalnya! Duel Maut Peresean di Loang Baloq Kini Punya Jadwal Rutin Tiap Bulan
Meski demikian, Cahya menegaskan kewajiban retribusi tetap harus berjalan sesuai aturan karena berkaitan dengan biaya pemeliharaan fasilitas wisata.
“Tapi retribusi tetap harus berjalan sesuai aturan yang ada,” ujarnya.
Selain kawasan Loang Baloq, Dinas Pariwisata juga tengah berupaya mengoptimalkan potensi wisata di kawasan eks Pelabuhan Ampenan yang memiliki sekitar 50 lapak usaha.
Namun menurut Cahya, pengelolaan kawasan wisata juga kerap menghadapi tantangan sosial ekonomi masyarakat, termasuk keberatan saat penagihan retribusi dilakukan.
“Arahan pimpinan sudah jelas, kita tidak boleh stagnan. Penegakan aturan tetap harus dilakukan demi pemeliharaan fasilitas wisata itu sendiri,” katanya.
Baca Juga: Novak Djokovic Tumbang di Roma! Dino Prizmic Bikin Kejutan Besar, Sang Legenda Tampak Kepayahan
Sebagai bentuk penertiban, Dispar Kota Mataram sebelumnya juga telah melakukan penyegelan terhadap sejumlah lapak di kawasan Loang Baloq yang menunggak pembayaran retribusi.
“Kalau ada yang menunggak ya kita tertibkan sesuai prosedur,” tegasnya.
Meski capaian PAD saat ini masih rendah, Dispar Kota Mataram tetap optimistis angka kunjungan wisatawan akan mulai membaik seiring perubahan cuaca dan meningkatnya aktivitas masyarakat pada pertengahan tahun.
“Target kita minimal bisa di atas 50 persen tahun ini,” tutupnya.
Baca Juga: Iga Swiatek Nyaris Tersungkur di Roma! Sempat Kehilangan Kendali, Juara 3 Kali Itu Bangkit Dramatis
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin