Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Buktikan Skema Pembiayaan Kreatif, Dinkes Mataram Sukses Gelar Workshop Stunting Tanpa Bebani APBD!

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:30 WIB
Kegiatan Workshop Aksi Cegah Stunting dengan tema Peran Tenaga Kesehatan dalam Percepatan Penurunan Stunting Melalui Sistem Rujukan Berjenjang dan Tatalaksana Gizi Buruk, yang berlangsung di Hotel Lombok Plaza kemarin (21/5).
Kegiatan Workshop Aksi Cegah Stunting dengan tema Peran Tenaga Kesehatan dalam Percepatan Penurunan Stunting Melalui Sistem Rujukan Berjenjang dan Tatalaksana Gizi Buruk, yang berlangsung di Hotel Lombok Plaza. (ZAD/LOMBOK POST)

 


LombokPost
— Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Kesehatan terus menunjukkan komitmen agresif dalam mengakselerasi penurunan angka stunting di wilayahnya. Langkah strategis terbaru diwujudkan melalui gelaran "Workshop Aksi Cegah Stunting: Peran Tenaga Kesehatan dalam Percepatan Penurunan Stunting Melalui Sistem Rujukan Berjenjang dan Tatalaksana Gizi Buruk", yang berlangsung di Hotel Lombok Plaza pada Kamis, 21 Mei 2026.


Kegiatan krusial ini menjadi bukti nyata keberhasilan Pemerintah Kota Mataram dalam menerapkan strategi creative financing (pembiayaan kreatif dan inovatif). Di tengah keterbatasan fiskal daerah (APBD), Dinas Kesehatan Kota Mataram berhasil membangun kolaborasi strategis dengan sektor swasta, BUMN, BUMD, serta lembaga sosial untuk membiayai peningkatan kapasitas tenaga kesehatan tanpa membebani keuangan daerah. 

“Workshop berskala besar yang menghadirkan pakar nasional ini sepenuhnya didukung oleh PT Sarihusada (Generasi Maju Bebas Stunting),” terang Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. H. Emirlad Isfihan, MARS., MH., CMC., FISQua., Kamid (21/5). 

 

Tren Penurunan Stunting Kota Mataram: Menuju Target Nasional

 

Berdasarkan data resmi yang dipaparkan, Kota Mataram mencatatkan tren penurunan angka prevalensi stunting yang sangat progresif dan konsisten dari tahun ke tahun: Tahun 2021 sebesar 19,64 persen, tahun 2022 sebesar 17,13 persen, tahun 2023: sebesar 8,9 persen, tahun 2024 sebesar 7,9 persen. 

“Dan di tahun 2025 ini sebesar 5,53 persen,” terangnya. 


Keberhasilan menekan angka hingga mencapai 5,53 persen pada tahun 2025 ini menempatkan Mataram sebagai salah satu kota dengan performa terbaik. “Namun demikian, intervensi tidak boleh mengendur demi mencapai target integratif yang bersih dari stunting,” tekannya. 

 

Mengadopsi Best Practice Surabaya Lewat Pakar Nasional

Baca Juga: Warga Mataram Bisa Lapor! Ini Cara Ajukan Permohonan Pemotongan Pohon Rawan ke Dinas LH

Untuk memberikan penguatan edukasi dan peningkatan kapasitas, Dinas Kesehatan Kota Mataram menghadirkan narasumber otoritatif tingkat nasional, yakni Dr. dr. Nur Aisiyah Widjaja, Sp.A, Subsp. N.P.M (K), seorang Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik dari RSUD Dr. Soetomo / Universitas Airlangga, Surabaya.


Selain Dr. Nur Aisiyah, workshop ini juga difasilitasi oleh para dokter spesialis anak terkemuka, yaitu dr. Ruth Daisy Suriadji, Sp.A, Mbiomed dan dr. Eriska Ayu Wirindri, Sp.A, dengan dipandu oleh moderator I Gusti Bagus Bagiayasa, SH.
dr. Emirlad mengungkapkan bahwa kehadiran tim ahli dari RSUD Dr. Soetomo bertujuan untuk mentransfer praktik baik atau best practice penanganan stunting di Kota Surabaya. Yang kini dinobatkan sebagai wilayah dengan angka stunting terendah kedua di Indonesia.


"Secara petunjuk teknis (juknis), petugas kami di lapangan sebenarnya sudah melaksanakan prosedur. Namun, melalui workshop ini, kami memberikan penguatan materi dan strategi agar penanganan di lapangan jauh lebih maksimal," ujar dr. Emirlad.


Workshop ini diikuti oleh 80 peserta yang terdiri dari garda terdepan puskesmas se-Kota Mataram. Setiap puskesmas mengirimkan delegasi lengkap yang terdiri dari satu dokter, satu bidan, dan dua nutrisionis (ahli gizi), serta perwakilan dari poli anak RSUD Kota Mataram.


Mekanisme Baru: Tatalaksana Ketat dan Intervensi Pangan Medis Khusus (PKMK)


Poin substansial yang membedakan penanganan stunting pasca-workshop ini adalah penekanan pada ketepatan tatalaksana gizi dan sistem rujukan yang terstruktur ketat dari tingkat Posyandu, Puskesmas, hingga Rumah Sakit. dr. Emirlad menjelaskan stunting merupakan kondisi gizi kronis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pemberian protein biasa, melainkan memerlukan intervensi medis spesifik.


Mekanisme tatalaksana rujukan berjenjang yang kini diwajibkan adalah sebagai berikut:


Level Posyandu (Pencegahan - Weight Faltering): Pemantauan tumbuh kembang dilakukan rutin setiap bulan. “Jika ditemukan balita yang berat badannya tidak naik (weight faltering) meski hanya sekali, Posyandu harus segera mengintervensi dengan pemberian pangan protein hewani. Ini adalah langkah preventif sebelum anak jatuh ke kondisi stunting,” jelasnya.

Level Puskesmas: Jika berat badan tetap tidak menunjukkan kenaikan setelah intervensi dasar. “Maka penanganan dinaikkan ke level Puskesmas untuk pemeriksaan deteksi dini dan identifikasi faktor risiko,” paparnya. 

Level Rumah Sakit (Rujukan Spesialis): Jika anak terindikasi stunting atau gizi buruk. “Di level ini Puskesmas wajib merujuk pasien ke Rumah Sakit untuk ditangani langsung oleh Dokter Spesialis Anak,” terangnya. 


Di rumah sakit, pasien akan mendapatkan PKMK (Pangan Olahan Kondisi Medis Khusus)—suatu formulasi nutrisi khusus berbentuk susu yang berfungsi sebagai obat klinis stunting—serta pengobatan terhadap penyakit penyerta (retardasi/penyakit penyerta kronis).

Baca Juga: Masih Memakai Seragam Dinas, Begini Syahdunya Anggota Satpol PP Mataram Mengaji Bersama di Pendopo Wali Kota


Sistem Rujuk Balik (Monitoring Berkelanjutan): Setelah mendapatkan intervensi PKMK dari rumah sakit, pasien dikembalikan ke Puskesmas. Petugas Puskesmas wajib melakukan monitoring berkala setiap dua minggu sekali.
“Tujuannya memantau perkembangan status gizi dan memastikan pemulihan berjalan optimal,” paparnya. 


Implementasi Nyata Creative Financing di Kota Mataram


Penghargaan dan reputasi Kota Mataram dalam hal creative financing dibuktikan secara konkret dalam acara ini. Menyadari keterbatasan ruang fiskal daerah, Dinas Kesehatan aktif melobi dan membangun sinergi lintas sektor agar program pemulihan kesehatan masyarakat tetap berjalan masif.


Selain menggandeng PT Sarihusada sebagai mitra utama workshop, Dinas Kesehatan turut mengundang jajaran pimpinan lembaga pembawa Corporate Social Responsibility (CSR) yang selama ini menyokong penanganan stunting di Mataram. Di antaranya adalah Baznas Kota Mataram, OJK NTB, Bursa Efek Indonesia (BEI), PT PLN Wilayah Ampenan, PT Bank NTB Syariah, hingga General Manager The Mandalika ITDC.
"Kami sengaja mengundang para mitra strategis dari BUMN, BUMD, dan OJK agar mereka melihat langsung bagaimana tatalaksana klinis yang kita jalankan.

Melalui skema proposal dan advokasi yang kami lakukan, lembaga-lembaga ini telah dan akan terus berkontribusi menyalurkan bantuan logistik krusial, mulai dari alat ukur antropometri standar kit, telur, hingga bantuan pangan khusus," urainya. 


Ia menambahkan, jika mengandalkan APBD murni, mendatangkan narasumber konsultan nasional dan membiayai pelatihan bagi puluhan tenaga kesehatan akan sangat membebani daerah. "Kolaborasi inilah kunci utama kami bertahan dan melompat maju di tengah keterbatasan fiskal," imbuhnya.

 

5 Kunci Pencegahan Stunting yang Harus Dikawal

 

Di akhir arahannya, dr. Emirlad menegaskan kembali lima pilar utama pencegahan stunting di tingkat keluarga yang wajib diedukasikan oleh seluruh nakes pasca-pelatihan. Antara lain:
 Pemenuhan Gizi Seimbang: Memastikan ibu hamil mendapat asupan dan istirahat cukup, memberikan ASI Eksklusif (0-6 bulan), dan melanjutkan dengan MPASI bergizi tinggi protein hewani.
Pola Asuh yang Tepat: Memberikan stimulasi psikologis, kasih sayang, dan interaksi aktif (mengajak anak berbicara dan bermain).

 

Baca Juga: Sentil Pemkot Mataram, Ketua Komisi II DPRD Minta Penghargaan Keuangan Kreatif Bukan Sekadar Indah di Level Presentasi


Akses Air Bersih dan Sanitasi: Membudayakan cuci tangan dengan sabun dan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal.
Pelayanan Kesehatan Berkala: Menjamin pemenuhan imunisasi lengkap serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin di Posyandu guna deteksi cepat penyakit penyerta.


Peran Aktif Keluarga: Menempatkan keluarga sebagai pelaksana utama yang peduli terhadap tumbuh kembang anak secara kolektif.


Melalui sinergi kokoh antara kapasitas medis yang mumpuni, sistem rujukan yang responsif, serta sokongan pembiayaan kreatif dari sektor swasta, Kota Mataram optimis dapat menyajikan pelayanan kesehatan anak yang inklusif. “Sekaligus mewujudkan generasi masa depan yang tangguh dan bebas stunting,” pungkasnya.

 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #penurunan stunting mataram #dr emirlad isfihan #Dikes Mataram