LombokPost – Persoalan sampah liar di wilayah Kelurahan Pejeruk semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya dibuang menggunakan sepeda motor, kini sampah rumah tangga hingga limbah bangunan disebut mulai dibuang menggunakan mobil bak terbuka di sejumlah titik pinggir jalan.
Hal itu disampaikan Lurah Pejeruk Lalu Bagus Afriadi saat sosialisasi pemanfaatan biopori dan pengelolaan sampah rumah tangga bersama warga, kader lingkungan, kader posyandu, Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, mahasiswa Universitas Mataram.
“Masalah sampah ini semakin hari semakin banyak. Sekarang bukan hanya pakai motor, tapi open cup. Karung-karung sampah rumah tangga sampai sampah bangunan dibuang di sana,” ujarnya, Minggu (24/5/2026).
Menurutnya, titik pembuangan liar berada di tepat di pinggir jalan. Meski pemerintah sudah memasang papan larangan membuang sampah, pelanggaran masih terus terjadi.
“Sudah kita lakukan imbauan dengan tulisan dilarang membuang sampah, tapi tetap saja ada. Entah dia manusia atau jin, kita enggak tahu,” katanya disambut tawa warga.
Baca Juga: DLH Kota Mataram Optimalkan Biopori Guna Konservasi Air dan Tekan Volume Sampah
Pihak kelurahan bersama linmas bahkan rutin berjaga pada malam hari untuk memantau aktivitas pembuangan liar. Dalam penjagaan itu, petugas hampir setiap malam menemukan pelaku yang membuang sampah sembarangan.
“Dari habis magrib sampai jam sembilan malam itu pasti ada dua sampai tiga orang yang kedapatan,” katanya.
Afriadi menjelaskan, aturan daerah sebenarnya sudah mengatur sanksi tegas bagi pelaku pembuangan sampah liar, mulai dari denda hingga ancaman kurungan.
“Kalau sesuai perda, dendanya sampai Rp 200 juta dan kurungan enam bulan,” ujarnya.
Namun pendekatan persuasif masih dikedepankan karena sebagian pelaku mengaku tidak memiliki akses pengelolaan sampah atau enggan membayar iuran pengangkutan.
Baca Juga: Bank Sampah MTsN 3 Mataram, Ubah Sampah Plastik Jadi Bernilai
“Kita tanya, ternyata mereka malas bayar iuran sampah. Akhirnya dibuang ke sini,” katanya.
Ia mengakui persoalan tersebut juga terjadi pada sebagian warga setempat. Karena itu pemerintah kelurahan mulai mendorong berbagai solusi pengurangan sampah dari sumber rumah tangga.
Salah satunya melalui pemasangan lubang tempah dedoro dan biopori di lingkungan warga. Tahun ini, pihak kelurahan kembali menambah puluhan titik tempah dedoro di sejumlah kawasan.
“Kalau hanya angkut buang, angkut buang terus, ya percuma. Tidak akan mengurangi volume sampah ke Kebon Kongok,” tegasnya.
Saat ini di kawasan Kebon Bawaq telah terdapat sekitar 60 lubang biopori yang dimanfaatkan warga untuk mengelola sampah organik sekaligus membantu resapan air.
Baca Juga: Terungkap! Pelaku Penembakan Dekat Gedung Putih Ternyata Nasire Best, Pemuda 21 Tahun Asal Maryland
Program tersebut diprioritaskan di wilayah Pejeruk Perluasan yang dinilai rawan genangan karena minim lahan terbuka dan sebagian besar halaman rumah sudah dibeton.
“Kalau hujan sedikit saja di sana tergenang. Makanya biopori ini penting untuk resapan air,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah kelurahan juga telah menganggarkan pembagian kantong sampah terpilah kepada warga di delapan lingkungan. Tempat sampah akan dibedakan Kantong warna untuk sampah organik dan anorganik.
“Ibu-ibu rumah tangga punya peran penting. Tolong sampah dipilah, jangan dicampur. Kalau dicampur, program ini tidak akan jalan,” katanya.
Afriadi juga menyoroti ancaman krisis sampah apabila kapasitas TPA Kebon Kongok tidak lagi mampu menampung sampah dari Kota Mataram dan Lombok Barat.
Baca Juga: Bukan Menggusur, Ini Cara Humanis DPMPTSP Mataram Edukasi UMKM Ukir Kawi yang Belum Kantongi NIB
“Kalau Kebon Kongok penuh, Kota Mataram bisa bingung. Karena perluasan TPA juga sudah sulit dilakukan,” katanya.
Ia mencontohkan sejumlah daerah wisata seperti di Bali mulai menutup lokasi pembuangan sampah terbuka karena dinilai mengganggu lingkungan dan pariwisata.
Karena itu, ia berharap masyarakat mulai membangun kesadaran mengelola sampah dari rumah tangga melalui langkah sederhana namun berkelanjutan.
“Satu langkah kecil dari rumah tangga bisa berdampak besar bagi masyarakat yang lain,” tutupnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin