Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gunakan Dana Kelurahan, Lurah Pejeruk Sebar Puluhan Tempah Dedoro Baru di Kawasan Percontohan

Lalu Mohammad Zaenudin • Minggu, 24 Mei 2026 | 12:01 WIB

 

Lurah Pejeruk Lalu Bagus Afriadi saat menjelaskan teknis penanganan sampah di wilayahnya. (ZAD/LOMBOK POST)
Lurah Pejeruk Lalu Bagus Afriadi saat menjelaskan teknis penanganan sampah di wilayahnya. (ZAD/LOMBOK POST)

 

LombokPost – Pemerintah Kelurahan Pejeruk terus memperluas program pengelolaan sampah berbasis rumah tangga melalui program Tempah Dedoro dan biopori di sejumlah lingkungan. Program tersebut mulai menunjukkan hasil dengan munculnya produksi kompos dari sampah organik warga.

 

Lurah Pejeruk Lalu Bagus Afriadi mengatakan, pembangunan Tempah Dedoro tahap awal telah dilakukan di Lingkungan Pejeruk Bangket dan Taman Sejahtera. “Pertama di Pejeruk Bangket sudah ada lima titik dari bantuan Pak Dewan pak Afifian. Kemudian ditambah tujuh lagi, jadi total sementara dua belas,” ujarnya.

 

Dalam waktu dekat, pemerintah kelurahan kembali akan menambah sekitar 24 titik baru sehingga total keseluruhan diperkirakan mencapai sekitar 30 titik Tempah Dedoro di wilayah Kelurahan Pejeruk.

 

“Besok akan kita tambah lagi. Sekitar tiga puluhan nanti akan terealisasi di Kelurahan Pejeruk Bangket,” katanya, Minggu (24/5/2026).

 

Baca Juga: Dua Minggu Langsung Penuh, Emak-emak di Pejeruk Mataram Ketagihan Minta Tambah Lubang Biopori!

 

Menurut Afriadi, idealnya setiap lingkungan memiliki minimal lima titik Tempah Dedoro di samping biopori agar pengurangan sampah rumah tangga bisa lebih maksimal. Namun untuk tahap awal, pemerintah masih menerapkan sistem percontohan atau pilot project.

 

“Kita coba dulu di satu lingkungan sebagai pilot project. Tapi dari yang sudah berjalan ini cukup efektif,” ujarnya.

 

Ia memastikan program tersebut sudah mulai berjalan dan dimanfaatkan masyarakat. Bahkan hasil pengolahan sampah organik berupa kompos mulai dihasilkan warga.

 

“Yang berhasil jadi kompos sudah ada,” katanya.



Baca Juga: Kementerian LH Ingatkan Krisis Sampah Mengintai Mataram, Biopori Dinilai Jadi Solusi Murah dan Efektif

Selain Tempah Dedoro, Kelurahan Pejeruk juga telah memiliki sekitar 60 lubang biopori yang digunakan warga untuk mengelola sampah organik sekaligus membantu resapan air.

 

Untuk menjaga keberlanjutan program, pemerintah kelurahan telah mengalokasikan anggaran khusus melalui dana kelurahan.

 

“Yang dua puluh empat titik tambahan itu sudah kita anggarkan di kelurahan dan insya Allah direalisasikan tahun ini,” ujarnya.

 

Afriadi menegaskan, pengawasan program akan melibatkan kader lingkungan dan PKK karena pengelolaan sampah rumah tangga dinilai sangat bergantung pada partisipasi ibu-ibu rumah tangga.

 

“Karena yang paling banyak mengelola sampah rumah tangga itu ibu-ibu, maka kader dan PKK harus turun juga,” katanya.



Baca Juga: Mahasiswa Ilmu Lingkungan Unram Turun Edukasi Biopori dan Pengelolaan Sampah di Pejeruk

Sejauh ini, program disebut belum menemui kendala berarti. Pemerintah kelurahan tetap melakukan pemantauan rutin minimal satu kali dalam seminggu untuk memastikan Tempah Dedoro dan biopori dimanfaatkan dengan baik oleh warga.

 

“Alhamdulillah belum ada kendala. Tetap kita pantau seminggu sekali,” ujarnya.

 

Dalam praktiknya, warga juga mulai memanfaatkan bahan sederhana di rumah untuk mempercepat proses penguraian sampah organik menjadi kompos.

 

“Sementara ini yang paling sederhana kita sarankan pakai air cucian beras. Airnya dibuang ke dedoro supaya membantu proses penguraian,” jelasnya.

 

Menurutnya, penggunaan bahan sederhana dipilih karena tidak semua warga siap membeli atau menyiapkan bahan tambahan pengurai seperti EM4 atau aktivator kompos lainnya.



Baca Juga: Lurah Pejeruk Bongkar Modus Pembuang Sampah Liar: Malas Bayar Iuran, Nekat Selundupkan Pakai Mobil Bak!

“Kalau yang sederhana kan masyarakat pasti punya. Setiap hari masak nasi, jadi air cucian berasnya tinggal dibuang ke situ,” tutupnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #lubang biopori #dana kelurahan #Tempah Dedoro