Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengintip Pentas "Tuselak" di Ampenan: Saat Botol Plastik Bekas Menjelma Jadi Cerita Penyelamat Laut

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:27 WIB
SIAP TAMPIL: Anak-anak dari Gerakan Literasi Paus Biru saat tampil memainkan wayang botol dari sampah di mini Amfiteater Pantai Ampenan. (DOK. KOMINFO)
SIAP TAMPIL: Anak-anak dari Gerakan Literasi Paus Biru saat tampil memainkan wayang botol dari sampah di mini Amfiteater Pantai Ampenan. (DOK. KOMINFO)

 

 

Langit Pantai Ampenan perlahan menguning menjelang senja. Debur ombak bercampur suara anak-anak yang saling memanggil dari balik layar sederhana di tepi pantai. 

———

DI tangan mereka, botol-botol plastik bekas berubah menjadi tokoh cerita. Ada yang menjelma gurita raksasa, ikan laut berwarna-warni, hingga karakter lucu dengan mata besar dari tutup botol dan potongan sedotan.

 

Anak-anak itu berdiri gugup menunggu giliran tampil dalam pementasan wayang botol bertajuk “Tuselak: Gurite Raksasa Pantai Ampenan”.

 

“Mereka adalah anak-anak dari Gerakan Literasi Paus Biru,” terang Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram M Ramadhani, Jumat (29/5).

 

Baca Juga: Diorama bikin Koleksi Jadi Lebih Realistis, Pembuatan Butuh Banyak Sentuhan Sentimental

Mereka, selama beberapa bulan terakhir belajar memahami sesuatu yang selama ini begitu dekat dengan hidup mereka: sampah plastik.

 

Sementara, kehadiran pemkot di cara itu, simbol keterbukaan. Merangkul komunitas kreatif dan kelompok anak muda dalam pembangunan kota.

 

Ramadhani mengatakan pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan komunitas agar pesan-pesan itu hadir dengan cara yang lebih segar dan dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.

 

“Kami ingin anak-anak muda dan komunitas kreatif merasa mereka punya ruang untuk terlibat dalam pembangunan kota. Pemerintah harus hadir untuk bersinergi, mendengar ide, gagasan, termasuk aspirasi mereka,” ujarnya.

 

Menurutnya, pendekatan kreatif seperti wayang botol menjadi contoh bagaimana pesan lingkungan dapat dikemas lebih hidup dan menyentuh masyarakat. “Kadang masyarakat lebih mudah tersentuh lewat karya dan cerita dibanding sekadar slogan,” katanya.

 

 

Baca Juga: Mimpi Masa Kecil Bertransformasi Jadi Cuan, Proses Impor Makan Waktu Lama

Bagi sebagian orang, botol plastik mungkin hanya benda sekali pakai yang selesai urusannya setelah dibuang. Namun di tangan anak-anak itu, plastik berubah menjadi cerita.

 

Menjadi cara sederhana berbicara tentang laut, pantai, dan keresahan kecil yang selama ini mereka lihat setiap hari: tentang sampah.

 

“Kamu merasa apa saat melihat plastik di pantai?”

 

Pertanyaan itu ditulis seorang anak di secarik origami kuning saat sesi refleksi berlangsung. Anak lainnya menulis kalimat sederhana yang diam-diam mengusik pikiran orang dewasa: “Menurut kamu plastik ini datangnya dari mana?”

 

Pertanyaan-pertanyaan polos itulah yang kemudian menjadi denyut utama “Dari Sampah Plastik Menjadi Cerita: Edukasi Lingkungan dan Kreasi Reuse melalui Wayang Botol.”

Baca Juga: Bahasa Prancis Disarankan Jadi Ekstrakurikuler Saja, Prabowo Instruksikan Pengajaran di Sekolah setelah Sebelumnya Bahasa Portugis

 

Sebuah inisiatif mengajarkan anak-anak memilah sampah. Mengajak mereka memahami persoalan plastik jauh lebih besar dari sekadar kebiasaan membuang sampah sembarangan.

 

Program tersebut lahir setelah Amor terpilih sebagai penerima Algalita Student Mini Grants. Dukungan internasional untuk pengembangan edukasi dan aksi terkait polusi plastik.

 

Namun alih-alih memilih pendekatan kampanye yang penuh angka dan presentasi formal, Amor membawa isu lingkungan ke ruang yang lebih dekat dengan masyarakat: seni, budaya, dan anak-anak.

 

“Kalau hanya bicara data, anak-anak mungkin cepat lupa. Tapi ketika mereka ikut membuat cerita dan memainkan sendiri tokohnya, pesan itu tinggal lebih lama dalam diri mereka,” ujar Amor.

 

Menurutnya, anak-anak sebenarnya memiliki kepekaan yang sangat kuat terhadap lingkungan sekitar. Hanya saja sering kali tidak diberi ruang menyampaikan suara mereka.

Baca Juga: Berlaku Mulai Hari Ini, BMKG Minta Nelayan dan Pemburu 'Sport Fishing' Hindari 3 Selat Krusial Ini

 

“Kami ingin anak-anak merasa keresahan mereka tentang pantai dan laut itu penting. Mereka bukan hanya penonton, tapi bagian dari solusi,” katanya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#wayang botol mataram #gerakan literasi paus biru mataram #kominfo mataram #Dispar Mataram