LombokPost – Ditengah masifnya persaingan industri perhotelan di Kota Mataram, para pelaku usaha dituntut untuk terus menelurkan terobosan kreatif.
Langkah cerdas inilah yang diambil oleh Puri Indah Hotel and Convention Mataram.
Guna bersaing sekaligus merespons fenomena cuaca yang semakin panas, city hotel ini sukses menerapkan sistem bangunan hijau (green system) melalui pemanfaatan lahan sekecil apa pun untuk penghijauan produktif.
Baca Juga: Kolaborasi Chef dan Pengusaha Lokal, Komoditas Udang Dipromosikan di HUT NTB ke-67
Inovasi tersebut dipaparkan langsung Manajer Hotel, Chef Anton Sugiono.
Pihaknya menjelaskan bahwa hotel tidak ingin sekadar menanam tanaman hias yang memicu pembengkakan biaya (cost) perawatan, melainkan fokus pada tanaman yang bernilai guna bagi operasional internal.
"Kami menciptakan konsep mirip green house yang ramah lingkungan di area hotel. Karena keterbatasan lahan tanah, kami memaksimalkan metode pertanian perkotaan (urban farming) dengan menerapkan dua sistem, yaitu media tanah konvensional dan sistem hidroponik," jelas Chef Anton.
Baca Juga: BI dan Bulog NTB Gelar Lomba Masak Beras SPHP, Finalis Master Chef Indonesia Session 6 Jadi Jurinya
Tekan Cost F&B Lewat Panen Mandiri
Integrasi antara program ramah lingkungan dengan kebutuhan bisnis menjadi kunci utama kesuksesan program ini.
Jenis tanaman yang dipilih disesuaikan secara ketat dengan kebutuhan dapur atau divisi Food and Beverage (F&B) hotel.
Baca Juga: 20 Warga Miskin Mataram Dilatih Chef Bintang, Pulang Bawa Alat dan Modal Usaha Gratis!
Puri Indah Hotel tercatat telah sukses mengembangkan beberapa jenis komoditas sayuran dapur harian.
Sistem Hidroponik (Berjalan 2-3 bulan): Fokus pada budidaya seledri, daun mint, pokcoy hijau, pokcoy merah, dan selada.
Sistem Tanah (Berjalan ~8 bulan): Dimaksimalkan untuk menanam tanaman hortikultura yang tangguh seperti cabai dan terong.
Manajemen hotel sangat memperhatikan kualitas nutrisi dan kadar keasaman (pH) air pada sistem hidroponik mereka. Menurut Chef Anton, ketepatan formula nutrisi ini sangat krusial karena jika kelebihan zat makanan, sayuran yang dihasilkan akan terasa pahit dan tidak layak disajikan ke tamu.
"Hasil panen dari kedua sistem ini terbukti berhasil membantu memenuhi kebutuhan sayur-mayur harian di hotel. Dampak langsungnya, kami bisa menekan biaya pengeluaran (cost) pada sektor F&B secara signifikan," tambahnya.
Strategi Bertahan di Tengah Ketidakpastian Pasar MICE
Lebih lanjut, Chef Anton membeberkan bahwa inovasi hijau ini juga menjadi bagian dari strategi besar hotel untuk memoles citra dan berbenah. Pasalnya, ceruk pasar city hotel di Mataram saat ini tengah menghadapi tantangan berat akibat fluktuasi kebijakan pemerintah yang sulit ditebak arahnya.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya pendapatan hotel sangat bergantung pada sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) serta kegiatan instansi dengan kontribusi mencapai 50 persen dari total revenue, kini situasinya telah berubah drastis.
"Dengan kondisi kebijakan sekarang, mampu mengamankan 20 persen pendapatan dari sektor MICE saja sudah sangat disyukuri. Oleh karena itu, kami tidak bisa lagi pasif mengandalkan acara pemerintah," tegasnya.
Puri Indah Hotel kini fokus menghadirkan suasana baru agar para tamu yang datang tidak merasa monoton.
"Tantangan terbesar city hotel adalah bagaimana cara memikat pasar-pasar alternatif di luar pemerintahan. Kami harus terus menghadirkan terobosan dan kenyamanan baru bagi konsumen, sebab jika tidak berinovasi, hotel pasti akan tergerus oleh persaingan," pungkas Chef Anton.
Editor : Redaksi Lombok Post Online