Semarak Karnaval Religi dan Budaya di Gomong Lama, Shalawat Menggema di Jalanan

Hamdani Wathoni • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 23:12 WIB
SEMANGAT MAULID: Warga dan remaja Lingkungan Gomong Lama, Mataram, mengikuti Karnaval Religi dan Budaya dengan mengenakan pakaian bernuansa Islami serta membawa dulang pesaji. .
SEMANGAT MAULID: Warga dan remaja Lingkungan Gomong Lama, Mataram, mengikuti Karnaval Religi dan Budaya dengan mengenakan pakaian bernuansa Islami serta membawa dulang pesaji Rabu (2/9) hingga Kamis (3/9).

 

LombokPost-Suasana Lingkungan Gomong Lama, Kota Mataram, sejak Rabu hingga Kamis (3/9), terasa berbeda. Jalanan yang biasanya menjadi ruang lalu lalang warga berubah menjadi panggung kecil bagi syiar keagamaan dan ekspresi budaya.

Dari satu sudut lingkungan, warga mulai berdatangan. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa mengenakan pakaian bernuansa Islami. Di antara kerumunan itu, tampak dulang pesaji dibawa dalam iring-iringan karnaval.

Bukan sekadar pawai. Karnaval tersebut menjadi cara warga Gomong Lama menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus menjaga tradisi dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Kegiatan bertajuk Semarak Karnaval Religi dan Budaya itu diinisiasi Remaja Lingkungan Gomong Lama bersama Kepala Lingkungan Gomong Lama Halidianto. Mereka mengajak warga untuk menjadikan momentum Maulid sebagai ruang mempererat kebersamaan.

“Tujuannya melalui karnaval ini, kita bersama-sama menghidupkan shalawat di jalanan, menampilkan kreasi budaya, dan mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga,” jelas Halidianto.

Iring-iringan warga kemudian bergerak mengelilingi lingkungan. Dulang pesaji menjadi salah satu bagian yang mencuri perhatian. Di tengah perkembangan zaman, tradisi tersebut tetap dibawa dalam suasana perayaan keagamaan.

Baca Juga: Ketika Maulid dan Kemerdekaan Menyatu di Kediri: Langkah Kaki Warga dan Kehangatan Silaturahmi

Bagi warga, perpaduan antara syiar Islam dan budaya lokal memberikan warna tersendiri. Anak-anak dan remaja pun tidak sekadar menjadi penonton.

Mereka ikut mengambil bagian dalam karnaval, mengenakan busana Islami dan meramaikan jalanan dengan semangat kebersamaan.

Di sinilah nilai utama kegiatan tersebut terasa. Maulid tidak hanya diperingati melalui kegiatan seremonial di masjid. Tetapi juga dihidupkan melalui interaksi warga di ruang publik.

Remaja menjadi salah satu motor penggerak. Mereka diajak mengenal kembali tradisi sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui cara yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

“Harapannya kegiatan ini bisa menjadi agenda yang terus dilaksanakan dan semakin melibatkan masyarakat,” ujar Halidianto.

Setelah karnaval, rangkaian perayaan Maulid Nabi berlanjut dengan kegiatan keagamaan di Masjid Jami' Al Awwabien. Pengajian menjadi puncak kegiatan, sekaligus ruang bagi warga untuk kembali berkumpul dalam suasana yang lebih khidmat.

Baca Juga: Mengintip Perayaan Maulid di Desa Pringgasela

Dari jalanan yang dipenuhi iring-iringan warga, kegiatan kemudian bermuara di rumah ibadah. Semangat yang dibawa pun sama: memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, menjaga tradisi, sekaligus merawat ukhuwah antarwarga.

Karnaval religi dan budaya di Gomong Lama menunjukkan bahwa tradisi tidak harus berjarak dengan generasi muda. Justru ketika dikemas secara kreatif dan melibatkan masyarakat, tradisi dapat menjadi ruang perjumpaan lintas generasi.

Di tengah geliat kehidupan perkotaan, warga Gomong Lama memilih merawat kebersamaan dengan cara sederhana. Membawa dulang pesaji, mengenakan pakaian Islami, berjalan bersama, dan menghidupkan shalawat di jalanan.

Sebuah perayaan yang mungkin sederhana. Namun dari sana, pesan tentang cinta kepada Rasulullah, pelestarian budaya, dan pentingnya menjaga persaudaraan terus diwariskan.



Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
Kota Mataram Gomong Lama Gomong Maulid Nabi Muhamad SAW