
Lombok Post-Perayaan Maulid Nabi Muhammad di Desa Pringgasela pada tahun ini sedikit berbeda. Kalangan ibu-ibu tidak lagi disibukkan mengurus dulang (makanan) untuk dibawa ke masjid.
Semua urusan itu diambil alih laki-laki. Maulid kali ini sekaligus menjadi momen untuk membudayakan penggunaan kain tenun di tengah masyarakat.
Ratusan jamaah, perempuan dan laki-laki, memadati area Masjid Jam’iyatul Qudsiyyah Pringgasela. Mereka terlihat khusyuk mendengarkan tausiah yang disampaikan penceramah.
Ratusan jemaah, baik laki-laki maupun perempuan, hari itu menggunakan seragam kain tenun khas Pringgasela.
Pemandangan berbeda tidak hanya terlihat dari kain yang digunakan. Ibu-ibu juga tidak tampak sibuk membawa atau mengurus dulang (makanan) untuk para tamu. Mereka justru lebih sibuk menyiapkan posisi duduk untuk mengikuti pengajian.
Baca Juga: Seribu Jong Bayan Jadi Pembuka Maulid Adat
Ketua Panitia Maulid Desa Pringgasela Iwan Setiawan menjelaskan, pada perayaan Maulid tahun ini panitia membuat konsep berbeda. Salah satunya urusan dulang yang diambil alih laki-laki.
“Selama ini ibu-ibu hanya sibuk untuk menyiapkan dulang, dan itu sangat menyita waktu dan biaya,” terang Iwan Setiawan.
Kebiasaan itu bahkan membuat ibu-ibu sering kali tidak bisa mengikuti pengajian saat perayaan Maulid. Karena itu, tahun ini semua urusan konsumsi diambil alih laki-laki agar para perempuan bisa mengikuti pengajian dengan tenang.
Konsep ini diterapkan karena panitia ingin mengembalikan esensi Maulid sebagai momentum untuk memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat. Masyarakat tidak lagi disibukkan dengan makanan.
“Peran perempuan sangat penting dalam keluarga. Karena itu, kami ingin memberikan kesempatan kepada para perempuan untuk mengikuti pengajian,” katanya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





