Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Investor Tawarkan Naik Gunung Rinjani Pakai Helikopter

Redaksi Lombok Post • Rabu, 19 Februari 2020 | 13:43 WIB
PEMAPARAN: Sussy Kusumawardhani, manajer pemasaran PT Airbus Helicopters Indonesia (paling kiri) memaparkan rencana pembukaan fasilitas heli tourism di Balai TNGR, Selasa (18/2).
PEMAPARAN: Sussy Kusumawardhani, manajer pemasaran PT Airbus Helicopters Indonesia (paling kiri) memaparkan rencana pembukaan fasilitas heli tourism di Balai TNGR, Selasa (18/2).

MATARAM-Belum selesai kontroversi rencana pembangunan kereta gantung, kini investor ingin membangun fasilitas heli tourism di Gunung Rinjani. ”Wisata heli ini tidak akan mengganggu market pendakian yang sudah ada,” kata Sales Manager Corporate PT Airbus Helicopters Indonesia Sussy Kusumawardhani, saat presentasi di Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Selasa (18/2).


                Dalam pemaparannya, Sussy menjamin, penyediaan fasilitas heli tourism tidak mengganggu keindahan alam Gunung Rinjani. Mereka tidak banyak membangun infrastruktur. ”Kami tidak membuat helipad, kami menentukan titik landing saja,” jelasnya.


                Titik landing itu, kata Sussy, berupa tanah yang bisa dijadikan tempat mendarat. ”Helikopter Airbus ini dirancang landing di segala medan,” katanya.


                Dia meminta para trekking organizer Rinjani tidak cemas. Mereka membidik pasar tersendiri. Dengan ongkos lumayan mahal, mereka menargetkan turis-turis kelas menengah ke atas. ”Bagi yang suka hiking (mendaki) tetap hiking, pasarnya beda,” kataya.


Sussy menambahkan, keinginan Airbus menyediakan fasilitas helikopter karena kepicut keindahan alam Rinjani. Selama ini keindahan itu hanya diinikmati kalangan tertentu saja. ”Alam Rinjani sangat luar biasa dan begitu lengkap,” katanya.


Ketika orang mau membawa anak dan istrinya menikmati Rinjani, tidak semuanya bisa. Akses orang-orang seperti itu perlu dibuka. Heli tourism menurutnya menjadi solusi. ”Orang yang mau membawa keluarga dan kerabat ke Rinjani bisa pakai helikopter,” katanya.


                Airbus juga tertarik menyediakan fasilitas karena pemerintah Indonesia menjadikan pariwisata sebagai prioritas. ”Akses merupakan kunci dari keberhasilan pariwisata,” ujarnya.


                Dia yakin tambahan fasilitas itu bisa meningkatkan kunjungan ke Gunung Rinjani. ”Di negara-negara lain heli tourism sudah dikembangkan,” jelasnya.


                Rencana penyediaan heli tourism akan bersamaan dengan pembangunan Glamorous Camping  (Glamping) di kawasan Danau Segara Anak. Glamping akan dibangun PT Rinjani Glamping Indonesia (RGI).


                Fasilitas itu diyakini bisa membawa jenis pelanggan baru ke Gunung Rinjani. ”Tidak selamanya orang di dunia ini mencari petualangan, tapi ada orang yang ingin mencari ketenangan,” kata Direktur PT RGI Disyon Toba, dalam presentasi di Balai TNGR.


                Glamping atau wisata camping mewah itu akan dibangun di dekat Danau Segara Anak. ”Fasilitas ini akan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan,” katanya.


                Dia juga menjamin, Glamping Rinjani tidak akan mengganggu usaha guide pendakian yang selama ini sudah ada di sana. ”Kita akan menggunakan tenaga kerja lokal semua,” katanya.


Bangun Fasilias Mewah 


                Disyon Toba mengatakan, pihaknya membutuhkan modal awal Rp 4,5 miliar untuk membangun Glamping Rinjani. ”Kami menyediakan sarana akomodasi semi permanen yang berkualitas,” katanya.


                Fasilitas akomodiasi itu antara lain, tempat menerima tamu, tenda penginapan mewah, tenda makan, pelayanan umum (toilet tent), serta membangun balkon untuk menikmati Danau Segara Anak.


                Di samping itu, mereka juga akan membangun camping ground untuk wisata petualangan. ”Ini untuk menampung pendaki yang bermalam dan transit bagi yang ke puncak,” katanya.


                Disyon menambahkan, dalam rencananya, mereka akan membangun deluxe tents atau tenda besar semi permanen. Di dalamnya terdapat ranjang susun tiga unit sehingga cukup menampung enam orang. ”Tenda dengan luasan 35 meter persegi dibangun menggunakan pondasi batu dan kayu,” jelasnya.


                Kemudian family deluxe tents dengan ukuran 37 meter persegi, dibuat lebih luas untuk menampung satu keluarga dan disediakan fasilitas toilet di dalam tenda. ”Kami akan mendirikan 15 unit tenda deluxe dan lima tenda family deluxe,” jelasnya.


                Investor dalam hal ini sudah menghitung biaya investasi dan semua risikonya. ”Kita akan mencapai break even point setelah tujuh tahun,” katanya.


Rencana pembangunan glamping itu akan didukung PT Airbus Helicopters Indonesia yang menyediakan fasilitas heli tourism. ”Heli tourism ini salah satu paket fasilitas di Gunung Rinjani,” ujarnya.


Dengan adanya heli itu, turis bisa melihat keindahan Rinjani dari atas. ”Kalau mau turun sekadar makan siang bisa,” katanya.


Biaya paket wisata glamping dan heli tourism tergolong mahal. Ongkos naik heli saja Rp 6 juta per orang. Sementara Glamping biayanya antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per malam.


Kepala Balai TNGR Dedy Asriady menjelaskan, investor baru tahap pemaparan keinginan dan rencana mereka membangun fasilitas di tempat itu. ”Dari sisi aturan memungkinkan,” katanya.


Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDAE dan UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, memungkinkan pengusahaan wisata di kawasan hutan. Usaha Glamping masuk di zona pemanfaatan untuk wisata, sehingga memungkinkan. ”Kalau zona inti (taman nasional) gak boleh,” katanya.


Tapi karena masih rencana, banyak sisi yang harus dipertimbangkan. TNGR hanya ingin memastikan usaha tersebut tidak mematikan usaha yang ada. ”Usaha yang baru itu menggairahkan  pasar baru,” katanya.


Dari sisi ekologi, mereka memastikan usaha tersebut tidak merusak kekayaan flora dan fauna di sana. ”Tidak terjadi kerusakan di kawasan dan sampah bisa diminimalkan,” ujarnya.


Dari sisi sosial, usaha itu harus memberi dampak bagi kehidupan sosial masyarakat. Demikian juga dengan kajian dari sisi geologi, pascagempa banyak terjadi retakan di kawasan Rinjani. ”Semuanya harus dihitung,” jelasnya.


Setelah ada studi tentang itu, semua baru akan dikonsultasikan untuk proses selanjutnya. ”Pengajuan izin tentang usaha wisata heli itu belum ada,” katanya.


Kecuali usaha Glamping, mereka sudah mendapat pertimbangan teknis sejak 2017 Dinas Pariwisata KLU dan Balai TNGR. ”Jadi prosesnya sudah lama, tapi masih banyak tahapannya,” katanya. (ili/r5)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Gunung Rinjani #Kereta Gantung #Metropolis