Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Yuk, Cegah Kematian Mendadak di Usia Muda

Administrator • Sabtu, 22 Februari 2020 | 00:00 WIB
Photo
Photo
Oleh :

dr.Yusra Pintaningrum, SpJP(K),FIHA,FAPSC,FasCC

Penulis adalah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mataram–RSUD Provinsi NTB, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia Cabang Mataram.

 

BARU-baru ini kita dikejutkan dengan berita seorang artis muda berusia 40 tahun yang meninggal mendadak. Sebanyak 15-20 persen penyebab kematian mendadak adalah karena jantung, yaitu hilangnya fungsi jantung secara mendadak, dan seringkali terjadi kurang dari satu jam. Kematian mendadak akibat jantung (sudden cardiac death) terjadi pada 325 ribu orang di  Amerika Serikat setiap tahunnya, dan banyak pada dewasa usia pertengahan 30-40 tahun, dimana kejadian pada laki-laki lebih sering daripada perempuan. Penting sekali memahami bagaimana penyebabnya dan faktor risikonya, sehingga kita perlu waspada lebih awal.

 

Proses Kematian Jantung Mendadak (KJM)

 

Henti jantung mendadak terjadi ketika sistem listrik jantung mengalami malfungsi dan tiba-tiba menjadi sangat tidak teraturan. Jantung berdenyut cepat, otot ventrikel mengalami fibrilasi sehingga darah tidak bisa diteruskan ke seluruh tubuh. Dalam beberapa menit aliran darah ke otak menurun drastis sehingga orang tersebut mengalami kehilangan kesadaran, kematian pun cepat terjadi jika tidak ditangani secara dini.

Penyebab dan prevalensi  KJM tergantung dari usia, umur, etnik, dan genetik. Prevalensi secara keseluruhan di Asia dan Cina adalah 41,8 dari 100.000 orang, lebih rendah daripada prevalensi di Amerika Serikat.  Sebanyak 75 persen penyebab KJM adalah penyakit jantung koroner, 15 persen kardiomiopati atau kelainan otot jantung, 5 persen karena penyakit jantung katup, 2  persen disebabkan sindroma aritmia (gangguan irama jantung) yang diturunkan seperti brugada Syndrome, Long QT syndrome, dan sebagainya.

 

Penapisan Risiko Kematian Jantung Mendadak

 

Mengingat 75 persen dari seluruh KJM disebabkan oleh PJK, maka kita harus memahami faktor risiko PJK, di antaranya laki-laki usia diatas 40 tahun, dislipidemia, diabetes, hipertensi, merokok, dan genetik.

Kematian mendadak usia muda sering terjadi saat aktivitas fisik seperti olahraga, dimana orang tersebut tidak pernah mengalami sakit jantung sebelumnya. Sebenarnya ada tanda dan gejala usia muda memiliki risiko tinggi kematian jantung mendadak, diantaranya apabila ada pingsan tanpa penyebab yang jelas, terutama saat aktivitas, adanya nyeri dada atau rasa tidak nyaman didada yang berkaitan dengan aktivitas, kelelahan atau berdebar berlebihan saat olahraga, pemeriksaan adanya bising jantung, tekanan darah meningkat.

Apabila ada riwayat keluarga meninggal mendadak usia dibawah 50 tahun,  atau keluarga dekat yang menderita jantung usia dibawah 50 tahun, kemudian riwayat keluarga dengan kardiomiopati hipertrofi (penebalan otot jantung ) atau kardiomiopati dilatatif (pelebaran otot jantung) , gangguan irama seperti sindroma long QT, sindroma Marfan, maka disarankan untuk periksa ke dokter spesialis jantung untuk diperiksakan lebih lanjut.

 

Pentingnya Deteksi Dini

 

Pada dasarnya deteksi dini penyakit jantung dilakukan mulai usia 30 tahun. Namun, apabila ada faktor risiko keluarga terdekat dalam satu keturunan memiliki riwayat penyakit jantung atau meninggal mendadak usia muda, maka pemeriksaan bisa dilakukan lebih awal. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP) akan melakukan pemeriksaan fisik lengkap, serta pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi (EKG), echocardiografi atau USG jantung, uji latih beban (tes tridmil) , dan CT Scan jantung / MRI jantung bila diperlukan.

Pemeriksaan EKG dan uji latih beban  bertujuan untuk mendiagnosis penyakit jantung koroner dan gangguan irama. Echocardiogram untuk mengevaluasi gagal jantung, kardiomiopati (kelemahan otot jantung), penyakit jantung katup, dan penyakit jantung bawaan.

Untuk pasien paska henti jantung yang selamat puns harus dilakukan pemeriksaan lebih lengkap seperti angiografi koroner (kateterisasi jantung) untuk mengevaluasi penyakit jantung koroner, tes elektrofisiologi untuk tes aritmia (gangguan irama jantung), tes genetik seperti sindroma Brugada, Sindroma Long QT, dan lain-lain. Bila perlu dilakukan biopsi jantung jika penyebab lainnya tidak ditemukan.

 

Menangani Henti Jantung Mendadak

 

Orang awam sebenarnya bisa memberikan pertolongan pada orang dengan henti jantung. Perhimpunan dokter spesialis kardiovaskular indonesia (PERKI) memberikan panduan bantuan hidup dasar (BHD). Apabila bertemu dengan orang tidak sadar atau henti nafas,   pertama dilakukan adalah panggil bantuan.  Apabila tidak respon, segera lakukan pijat jantung dengan kedua tangan saling bertumpu di tengah-tengah dada orang tersebut dengan kecepatan 100 – 120 kompresi per menit dengan kedalaman 5-6 cm sampai bantuan paramedis datang. Semakin cepat kita memberikan pertolongan, maka harapan hidup semakin meningkat.

Kematian memang takdir Tuhan, namun penting adanya upaya untuk melakukan pola hidup sehat, memahami faktor risiko penyakit jantung yang sudah dimiliki, serta memahami bagaimana melakukan pertolongan pada henti jantung maka kita bisa menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat penyakit jantung. (*)

            Editor : Administrator
#dr Yusra Pintanngrum #serangan jantung #Jantungan