Langkah antisipasi sudah direncanakan pemkot. Mulanya hendak menggunakan asrama haji. Sebagai lokasi screening sekaligus karantina para santri selama 14 hari. Guna mengetahui apakah mereka terpapar virus Korona atau tidak.
Namun, rencana penggunaan asrama haji akhirnya dibatalkan. Camat Sekarbela Moh Yusuf mengatakan, penggunaan asrama haji berpotensi memunculkan penolakan dari warga sekitar. Seperti kasus jamaah tablig yang dari Gowa. Belum ditambah dengan ribetnya birokrasi di internal pengurus asrama haji yang dimiliki Pemprov NTB itu.
Menyikapi situasi tersebut, Sekda Kota Mataram H Effendi Eko Saswito mengatakan, pemkot akan mengontrak satu tempat. Rencananya di Wisma Nusantara. Yang nanti bisa digunakan untuk keperluan karantina lainnya.
”Kalau asrama haji, penanganan di provinsi. Dan kita tidak tahu keseriusan mereka,” kata Eko.
Dengan mengontrak satu tempat, pemkot bisa mudah melakukan pengawasan. Sekaligus memantau pergerakan setiap orang di lokasi tersebut.
Kata Eko, biaya untuk menyewa akan disiapkan dari kantong APBD. Pemkot ingin segala penanganan pencegahan penyebaran virus Korona bisa dilakukan dengan cepat. Tanpa harus terganjal wilayah birokrasi.
”Memang ada beberapa tempat yang bisa kita kontrak. Gak masalah disewa, ini juga untuk kepentingan masyarakat,” tuturnya.
Direktur RSUD Kota Mataram dr HL Herman Mahaputra mengatakan, sudah ada skenario yang mereka siapkan. Pertama, harus memastikan berapa jumlah santri asal Kota Mataram. Sebab, yang pulang menggunakan rombongan bus itu, ada juga berasal dari Lombok Barat maupun Lombok Tengah.
”Kalau yang dari Mataram, kita ambil untuk melakukan pemeriksaan,” katanya.
Screning awal dilakukan kepada mereka yang sakit. Pemeriksaan, kata dia, bisa dilakukan dengan foto thorax atau rontgen. Cara ini memang tidak bisa memberi kepastian positif atau negatif dari virus Korona.
Foto thorax, hanya sebagai pengecekan awal. Guna mengetahui indikasi. Dengan merontgen, petugas kesehatan bisa melihat apakah ada tanda-tanda pneumonia di paru-paru maupun saluran pernapasan. Pneumonia ini menjadi salah satu gejala dari paparan virus Korona.
”Kalau ada tanda-tanda, baru kita lakukan swab, untuk memastikan apakah positif atau tidak,” jelasnya.
Menurut dr Jack, sapaan karibnya, foto thorax juga bisa memberi keyakinan kepada masyarakat. Jika mereka memiliki sakit dengan gejala serupa virus Korona, tapi ternyata hanya sakit biasa.
”Banyak kan yang waswas begitu. Jadi pas periksa kita foto saja, kelihatan. Kalau tidak ada tanda, berarti ya panas demam biasa,” tandas dr. Jack. (dit/r5)
Editor : Administrator