Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Toko Pakaian di Mataram Ramai, Semoga Tak Ada Klaster Korona “Baju Lebaran”

Administrator • Senin, 18 Mei 2020 | 07:29 WIB
KERUMUN: Warga menyerbu toko pakaian untuk berburu baju lebaran di Kota Mataram, kemarin (17/5). (Satpol PP NTB For Lombok Post )
KERUMUN: Warga menyerbu toko pakaian untuk berburu baju lebaran di Kota Mataram, kemarin (17/5). (Satpol PP NTB For Lombok Post )
MATARAM—Upaya pembatasan social untuk mencegah penularan korona di Kota Mataram terancam gagal. Skema pembatasan yang dirancang sulit terjadi terutama di totookoko pakaian yang diizinkan buka jelang lebaran.

Pantauan Lombok Post, Minggu (17/5) sejumlah toko pakaian di kawasan Cakranegara jelang lebaran semakin ramai. Sayang, padatnya pengunjung membuat  sebagian besar toko tak mampu menerapkan protokol pencegahan Covid-19.

“Jumlah pengunjung harusnya diatur. Ada jarak. Bukannya numpuk,” ungkap Kasi Operasional dan Ketertiban Umum Satpol PP Kota Mataram I Made Agus Jewe, kemarin.

Satpol PP Kota Mataram bersama pihak kecamatan Cakranegara turun melakukan patroli. Mereka melihat sejumlah toko pakaian padat pengunjung.

"Seperti Fahion One, Roxy, Apollo Fashion sudah sangat ramai," tuturnya.

Sayangnya, lanjut Made, pelaku usaha tidak mengindahkan protokoler penanganan Korona. Padahal, mereka sudah membuat kesepakatan dengan Pemkot Mataram untuk menerapkan protokol pencegahan Covid-19.

“Alasan pelaku usaha kadang tidak masuk akal. Tidak bisa membendung pengunjung yang masuk,” kesal Made.

Dia cukup geram mendengar pelaku usaha menyalahkan pengunjung. Karena menurutnya, pengunjung secara otomatis akan menuruti aturan yang diterapkan pelaku usaha. Apalagi mereka butuh.

Mestinya, ujar dia, pengunjung yang masuk dibatasi. Bukan dibiarkan masuk semuanya tanpa ada pembatasan. Belum lagi, pengunjung yang tak pakai masker diberikan masuk begitu saja.

“Ini rumahnya di Ampenan, datang ke Cakranegara tak pakai masker,” tutur Made.

Jika para pelaku usaha tidak mengindahkan penanganan Covid-19, dia tidak akan segan-segan merekomendasikan penutupan toko tersebut. "Daripada Korona ini terus menyebar," terangnya.

Made tak ingin kejadian di Hotel Maktal terulang. Sudah mulai beroperasi tiba-tiba ada pasien positif menginap. “Sampai sekarang Maktal ditutup,” kata Made.

Dia melihat ada tren penurunan jumlah pasien positif di Kota Mataram. Sebelumnya, ia selalu mengawal pasien positif yang dijemput di Wisna Nusantara untuk dilakukan perawatan di RSUD Kota Mataram. “Beberapa hari ini tidak ada penjemputan,” kata dia.

Kini lanjut dia, NTB masuk peringkat kedua terbaik soal jumlah pasien sembuh. Jangan sampai tingkat kesembuhan pasien sembuhdimanfaatkan pelaku usaha semaau-maunya. Harus tetap waspada dengan penyebaran Korona. “Kami tak ingin gara-gara pelaku usaha lalai, jumlah pasien bertambah,” katanya.

Camat Cakranegara M Erwan tidak menampik beberapa pelaku usaha lalai menerapkan protokoler penanganan Korona. Jaga jarak belum bisa diterapkan. Bahkan ada juga para pengunjung yang tidak mengenakan masker. “Saya rasa pelaku usaha harus tegas,” katanya.

Dia tidak ingin para pelaku usaha hanya mengejar keuntungan saja. Tanpa mengindahkan protokoler penanganan Covid-19. “Jika tak sanggup mengindahkan protokoler lebih baik tutup,” ungkap Erwan.

Erwan hanya mengingatkan kepada pelaku usaha untuk menerapkan protokoler Covid-19. Karena sejauh ini ia melihat social dan physical distancing tidak jalan. (dit/jay/r3) Editor : Administrator
#Virus Korona #Mataram #Baju Lebaran