Berdasarkan anggaran refocusing tahap pertama, screening akses masuk ke Kota Mataram menyedot biaya hingga Rp1,8 miliar. Yang dialokasikan untuk Dinas Perhubungan.
Dana tersebut digunakan untuk pengadaan thermo gun senilai Rp14 juta; road barrier sebesar Rp425 juta; operasional makanan dan minuman selama 20 hari dan enam hari sebanyak Rp697 juta.
Kemudian sewa mobil Rp76,5 juta; pengadaan megaphone Rp1 juta; pengadaan variabel message sign sebesar Rp600 juta; serta banner pengumuman Rp5 juta.
Ismul mengatakan, anggaran sebesar itu tak juga membuat kerja pengawasan menjadi lebih efektif. Selama pelaksanaan bahkan beberapa kali terpantau kendur. ”Yang menjadi perhatian dewan, pengetatan hanya terjadi beberapa hari. Setelah itu longgar,” tuturnya.
Ia menilai kerja pengawasan di batas kota tidak efektif. Terlihat dari kondisi Kota Mataram saat ini. Banyak terdapat kerumunan di pusat perbelanjaan pakaian. ”Yang belanja itu banyak dari luar Kota Mataram,” kata Ismul.
Dengan kondisi tersebut, ia meminta pemkot harus memikirkan cara lain. Tentu yang efektif. Sehingga refocusing anggaran bisa diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang lebih tepat sasaran. Yang fokus pada pencegahan penyebaran Covid-19.
Sementara itu, Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh kembali berencana melakukan pengetatan. Untuk arus masuk ke Kota Mataram. Menjelang Hari Raya Idul Fitri dan lebaran topat. ”Di batas atau gerbang kota itu akan kita perketat lagi penjagaan,” kata Ahyar.
Ahyar menyebut pemkot terus menggencarkan upaya untuk pencegahan penanganan Covid-19. Meski sekarang ini kasus virus Korona di Kota Mataram diklaimnya bisa dikendalikan. ”Kita lihat angka kesembuhan sudah lebih dari 50 persen dari kasus positif sebelumnya,” ujarnya.
Gugus tugas sedang melakukan upaya ekstra agar tidak ada lagi penyebaran kasus. Apalagi sampai muncul kasus-kasus baru. ”Kita sungguh-sungguh untuk melakukan pencegahan penyebaran Covid ini,” tandas Ahyar. (dit/jay/r3)
Editor : Administrator