“Tumben naiknya (harga kedelain) lama sekali,” ujar Masidah, pengusaha Tahu di Lingkungan Karang Pande, Kelurahan Abian Tubuh, kepada Lombok Post, Kamis (18/2/2021).
Biasanya, harga normal kedelai per kuintal antara Rp 700 ribu hingga Rp 750 ribu. Paling tinggi Rp 800 ribu. “Tadi kami beli Rp 1 juta 10 ribu per kuintal,” ujarnya.
Dengan kondisi seperti ini, alternatif yang bisa dilakukan para pengusaha tahu tempe adalah menipiskan bentuk tahu yang dibuat. Tentu dengan konsekuensi keuntungannya juga berkurang. Karena pemasarannya pun tidak selaris sebelumnya.
“Kami berusaha tetap menjalankan usaha tahu tempe dengan keuntungan yang tipis. Karena mau cari pekerjaan lain sekarang juga sulit. Ya, dapat sedikit daripada nganggur,” ungkapnya.
Sarniah, pengusaha tahu tempe lainnya juga mengaku kondisi penjualan tahu tidak seperti sebelumnya. Dengan kondisi pandemi Korona, omzet pedagang mengalami penurunan. Ditambah dengan melonjaknya harga kedelai. “Kami berharap agar harga kedelai kembali (menurun),” ucapnya.
Situasi saat ini semakin membuat para pengusaha tahu tempe kian terjepit. Di era jayanya. Tahu Abian Tubuh dulu dikirim ke Bali dan Pulau Sumbawa. Namun permintaan sekarang terus mengalami penurunan.
Jika tidak ada upaya serius dari pemerintah membantu pengusaha tahu tempe dengan menstabilkan harga kedelai, bukan tidak mungkin mereka gulung tikar.
Hal tersebut diungkapkan oleh anggota DPRD Kota Mataram Dapil Sekarbela H Syahrial Azmi. Ia yang berasal dari Keluarahan Kekalik mengaku sebagian besar warganya yang bekerja sebagai pengusaha tahu tempe banyak yang mulai tutup. Akibat terus naiknya bahan baku kedelai untuk membuat tahu tempe.
“Harus ada upaya kongkret dari pemerintah untuk membantu pengusaha tahu tempe di Kota Mataram. Ini belum pernah kami lihat ada upaya serius,” sesalnya. (ton/r3)
Editor : Baiq Farida