Dia tidak menampik tahun-tahun sebelumnya titik rawan perang kembang api cukup banyak. Seperti di pinggir Kali Jangkuk Dasan Agung, Jembatan Udayana sampai jembatan Dasan Agung, namun kini sudah mulai berkurang. “Kami bersama Polresta Mataram tetap melakukan patroli di kawasan tersebut,” ucap Irwan.
Diutarakan, pihaknya bersama Polresta Mataram, kelurahan, dan lingkungan tetap melakukan pengawasan. Terutama di sejumlah titik yang rawan terjadinya perang kembang api. “Jika ada anak yang membunyikan petasan segera kita bubarkan,” ucap Irwan.
Menurutnya, berkuranganya perang kembang api karena sejak awal sudah dilakukan antisipasi dengan melakukan pemetaan terhadap kawasan rawan perang kembang api. Guna mengantisipasi timbulnya bencana hingga konflik antar kampung.
Dia menyebutkan, beberapa wilayah yang berpotensi terjadinya perang kembang api di Kelurahan Monjok, Dasan Agung, dan Jalan Udayana. “Di titik-titik rawan kita lakukan patroli pada jam-jam tertentu,” terangnya.
Biasanya lanjut dia, rawan perang kembang api terjadi habis Magrib atau setelah berbuka puasa, saat pelaksanaan salat tarawuih, dan setelah salat subuh.
“Kami juga melakukan razia kepada pedagang yang tidak mengantongi izin. Pedagang eceran yang tidak mengantongi izin kita tertibkan sesuai dengan peraturan daerah (Perda) Ketentraman dan Ketertiban Umum,” pungkasnya.
Fatahi, seorang warga mengatakan, perang kembang api tidak teralu banyak seperti tahun-tahun sebelumnya. Dulu kata dia, setiap jalan ada saja anak-anak yang melakukan perang kembang api, terutama usai salat tarawih dan Subuh. “Kalau sekarang jarang ada orang main kembang api,” pungkasnya. (jay/r3) Editor : Administrator