Pastor Paroki Mataram Romo Laurensius Maryono menjelaskan keikutsertaanya bersama warga Katolik NTB dalam Pawai takbiran ini merupakan bagian dari semangat persaudaraan.
Hal ini sekaligus untuk menepis penilaian dari salah satu lembaga yang menyebut Mataram merupakan salah satu kota paling intoleran di Indonesia.
“Kami menolak dan tidak terima (predikat Intoleran ) bahwa kenyataan gereja kami di tengah kaum Muslim,” ujarnya di lokasi acara Jumat (21/4) malam.
https://www.youtube.com/watch?v=MjBsH-IBE7A&t=38s
“Maka dengan peristiwa malam ini meng kilas balik bahwa kami sebetulnya sangat rukun dan damai dan tidak ada masalah kami saja ngalamin gereja kami di tengah kaum muslim tidak ada masalah,” tegasnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Ketua Vihara Dhamma Susena, Hendy Kang Prabowo menurutnya momentum Malam Lebaran ini akan menjadi momen untuk terus merawat semangat kebersamaan dan toleransi yang telah terjalin dengan baik di Kota Mataram.
“Care base Sasak ite pade besemeton (secara Bahasa Sasak Kita Semua Bersaudara, Red),” ujar Hendy.
Pawai Takbiran Ini sendiri digelar di hampir seluruh kabupaten kota di NTB. Di Kota Mataram pawai tahun ini digelar lebih besar dan meriah menyusul pelonggaran yang diberikan pemerintah menyusul dicabutnya status PPKM Pandemi Covid 19.(r2) Editor : Administrator