Selain soal tanaman hortikultura, Loteng saat ini justru dalam kondisi surplus beras hingga 234 ribu ton. Kamrin mengatakan, meski ada sejumlah desa yang tidak menanam padi, dengan tanaman hortikultura hasilnya digunakan untuk membeli beras.
”Loteng ini justru surplus dan memberikan support untuk daerah lain. Jadi tidak ada itu (rentan rawan pangan,” tukasnya.
Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Loteng menyebut sebanyak 12 desa di kabupaten tersebut yang rentan rawan pangan. Lokasinya didominasi pada sejumlah kecamatan di bagian utara Gumi Tatas Tuhu Trasna (Tastura).
”Rentan rawan pangan ini ada pada prioritas dua, untuk prioritas satu sudah aman namun bukan berarti kita lepas begitu saja, kegiatan-kegiatan harus tetap dilakukan,” ucap Analis Ketahanan Pangan DKP Loteng Sujarni.
Adapun 12 desa yang masuk dalam prioritas dua, kata dia, rinciannya, Desa Selong Belanak dan Desa Mekar Sari di Kecamatan Praya Barat; Desa Batujangkih di Kecamatan Praya Barat Daya; Desa Tumpak di Kecamatan Pujut; Desa Aik Bual di Kecamatan Kopang; Desa Kelebuh dan Desa Dakung di Kecamatan Praya Tengah; Desa Beber di Kecamatan Batukliang.
”Desa Setiling, Desa Aik Berik, Desa Tanak Beak dan Desa Karang Sidemen di Kecamatan Batukliang Utara,” paparnya.
Daerah ini memiliki enam indikator dalam pengaruh rentan kerawanan pangan. Terdiri atas rasio luas lahan pertanian, sarana dan prasarana penunjang, tingkat kesejahteraan masyarakat, akses infrastruktur jalan, akses air bersih dan jumlah tenaga kesehatan di desa.
”Yang paling utama adalah rasio luas lahan, semakin luas lahannya maka yang diproduksi semakin banyak dan jelas berapa banyak kebutuhan masyarakat. Masuknya kedua belas desa ini karena lahan yang digunakan untuk pertanian sangat kurang,” pungkasnya. (ewi/r11)
Editor : Redaksi Lombok Post