Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kampung Batik di Pagesangan Indah, Digawangi IRT Berhasil Bikin Batik Khas Mataram

Redaksi Lombok Post • Selasa, 5 September 2023 | 07:25 WIB

SANGGAR BATIK GESANG:  Ibu-ibu Lingkungan Pagesangan Indah saat membatik di Sanggar Batik Gesang belum lama ini.
SANGGAR BATIK GESANG: Ibu-ibu Lingkungan Pagesangan Indah saat membatik di Sanggar Batik Gesang belum lama ini.
Ibu Rumah Tangga (IRT) di Pagesangan Indah, Kelurahan Pagesangan, Kecamatan Mataram, berhasil membuat batik khas Mataram. IRT kreatif ini tergabung dalam kelompok Sanggar Batik Gesang.

 

Supardi, Mataram

 

Esti Ebhi Evolisa, Ketua Sanggar Seni Batik Gesang menceritakan awal munculnya sanggar seni batik ini sekitar tahun 2022 lalu. Kemunculan sanggar batik ini bermula ketika keinginannya untuk menjadikan Lingkungan Pagesangan Indah menjadi kampung batik.

"Saya ingin menjadikan Lingkungan Pagesangan Indah ini menjadi kampung batik. Karena saya ingin ilmu yang saya miliki ini bisa saya terapkan dan bagi kepada masyarakat," beber Esti seraya memperlihatkan gambar batik yang baru selesai di buat, Minggu (3/9) kemarin.

Dari 20 anggota, sebagian besar anggota sanggar seni ini ialah dari ibu-ibu rumah tangga yang ada di Lingkungan Pegasangan indah. Mereka diajarkan membatik mulai dasar. Mulai dari pengenalan batik, sejarah batik, warna pengenalan motif, alat, jenis  kain, hingga ke tahap pembatikan sendiri.

"Betul-betul dari nol saya ajarkan. Karena memang banyak belum mengetahui batik itu. Mereka hanya tahu yang sudah jadi saja tapi tidak dengan pembuatannya," imbuhnya.

Jika peralatan membatik pada umumnya di ruangan khusus dan menggunakan peralatan khusus seperti canting dan lilin panas. Namun tidak dengan ibu-ibu di sanggar ini. Mereka hanya menggunakan alat sederhana yang dibuat sendiri dari bahan plastik.

Jika dilihat sepintas alat yang digunakan itu mirip dengan alat pembuat kue. "Kalau saya pakai malam dingin. Pakai duta tamarin. Tamarin itu biji asam yang saya olah sebagai pengganti lilin panas," katanya.

Karena masih menggunakan alat sederhana, tidak jarang karya batik ibu-ibu ini menjadi belepotan. Kendati demikian, diakui Esti hal itu tidak mematahkan semangat ibu-ibu ini untuk terus belajar membantik.

Di bawah bimbingan Esti, tangan-tangan ibu-ibu di Pagesangan Indah ini sudah mulai lihai dalam membatik dan mewarnai. Hal itu terlihat dengan banyaknya karya-karya yang telah berhasil dibuat. Mulai dari Mukena, baju, shal, dan Jilbab.

Karya-karya yang hasilkan ini ada yang dikoleksi dan sudah banyak yang terjual. Untuk harga jual tergantung dari banyak motif dan jenis kain yang digunakan. Bisanya barik yang memiliymotif yang banyak dijual dengan harga Rp 300 ribu per dua meter. Sementara jika motifnya sedikit dijual dengan harga Rp 250 ribu per dua meter.

"Kami baru bisa memasarkan ke teman-teman. Jika ada yang jadi, kita coba tawarkan dan ternyata banyak juga yang minat. Ada juga yang pesen dan motifnya itu mereka yang tentukan. Hasilnya itu untuk ibu-ibu sendiri dan sebagian juga dimasukkan sebagai khas," bebernya.

Diakui kendala yang dihadapi saat ini adalah modal. Karena untuk bisa menghasilkan satu batik membutuhkan biaya cukup mahal. Dari Rp 500 ribu bahkan Rp 1 juta, tergantung jenis kainnya. Selama ini modal untuk pengadaan bahan-bahan biasanya disiapkan sendiri oleh Esti.

Kendala lain yang dihadapi ialah karena terkendala waktu. Dalam seminggu hanya bisa melakukan pertemuan sekali sampai dua kali dan itu hanya beberapa jam saja. Sebab ia  tidak ingin kegiatan ini mengganggu pekerjaan rumah tangga ibu-ibu yang ikut pelatihan ini.

"Saya memang menyarankan jangan sampai ini menganggu pekerjaan rumah tangga, makanya pertemuan kita lakukan hanya Sabtu dan Minggu saja. Jika tidak di tempat Posyandu, kita pertemuan di rumah saya. Kita juga sudah punya galeri tempat pajang hasil-hasil membatik kita," ungkapnya.

Kedepannya, selain merekrut ibu-ibu rumah tangga. Ia juga berencana akan merekrut anak-anak muda yang masih duduk di bangku SMA, karena memiliki lebih banyak waktu dan lebih energik. Dengan begitu cita-cita besarnya untuk menjadikan Lingkungan Pagesangan Indah menjadi kampung batik bisa terwujud.

Dirinya berharap kedepan ada bantuan modal yang diberikan oleh Pemerintah, baik Pemprov NTB maupun Pemkot Mataram. Agar semakin banyak ibu-ibu yang bisa diberdayakan melalui Sanggar seni Gesang ini.

"Di NTB ini kan yang terkenal hanya batik Sasambo aja, nah saya ingin batik Gesang ini juga bisa dikenal sama orang NTB," pungkasnya. (cr-par/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post
#Pagesangan #batik #Mataram #Sanggar Seni Batik Gesang