Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Transgender “Mangkal” di Sangkareang, Warga Mataram Beri Respons Beragam

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 10 Agustus 2024 | 13:20 WIB
SISI LAIN: Warga melintas di gerbang masuk taman Sangkareang dan panggung Mataram Harum. Taman ini menjadi sorotan menyusul viralnya video goyang erotis ala transgender di lokasi tersebut.
SISI LAIN: Warga melintas di gerbang masuk taman Sangkareang dan panggung Mataram Harum. Taman ini menjadi sorotan menyusul viralnya video goyang erotis ala transgender di lokasi tersebut.

LombokPost--Pengunjung Taman Sangkareang mengungkapkan ketidaksetujuannya, taman kebanggaan Kota Mataram ini sebagai lokasi mangkalnya para transgender.

Keresahan ini dipicu viral video tiktok sejumlah remaja melakukan tarian erotis ala transgender.

“Kalau bisa jangan (lokasi mangkal transgender, Red),” ucap Fadli dengan gestur risih, Jumat (9/8).

Taman Sangkarang selama ini adalah lokasi warga untuk berkumpul mengikuti berbagai hiburan.

“Ya, gimana ya, risih aja,” imbuhnya.

Fadli mengatakan ia sering ke taman ini bersama istri dan anaknya.

Tetapi ia belum pernah bertemu langsung dengan para transgender yang dikabarkan kerap mangkal di sana.

“Denger-denger sih malam sering kumpul di sini. Tapi belum pernah lihat langsung,” ucapnya.

Saat melihat video viral remaja bergoyang erotis ala transgender, Fadli mengerutkan dahi.

Ia memperlihatkan gestur bergidik.

“Geli,” celetuknya.

Fadli mengatakan taman itu memang fasilitas umum. Tidak boleh ada larangan untuk menikmati fasilitas yang disediakan pemerintah tersebut.

Hanya saja menurutnya, sebaiknya ada pengecualian untuk kondisi tertentu. Agar taman menjadi lokasi yang nyaman untuk berbagai kegiatan hiburan dan edukasi.

“Saya pernah baca artikel kalau lesbian, gay, bisekual, dan transgender itu masuk kategori penyakit mental yang bisa disembuhkan,” ucapnya.

Dengan kata lain, para penyandang penyakit mental ini sebaiknya disembuhkan dulu, baru boleh mengakses fasilitas umum. Jangan sampai, keberadaanya malah ‘menularkan’ penyakitnya ke orang lain.

“Sama seperti kalau ada orang yang mengidap penyakit menular, bukankah sebaiknya disembuhkan dulu baru boleh berinteraksi dengan orang lain. Jadi bukan membatasi haknya, tetapi menjaga agar penyakit yang dideritanya tidak merugikan orang lain. Haknya dibatasi hak orang lain yang ingin sehat,” ucapnya.

Lain halnya dengan Siska. Pengunjung yang masih duduk di bangku SMA itu tidak mempermasalahkan transgender berkumpul di taman Sangkareang.

“Habisnya, mereka (para transgender, Red) seru-seru dan rame,” celetuknya sambil tersenyum.

Kalaupun transgender dianggap sebagai penyakit, harusnya tidak jadi masalah. Bagi Siska, semua kembali ke setiap individu.

Siska menilai penyakit mental berbeda dengan penyakit menular yang disebabkan virus. “Kalau penyakitnya karena virus, ya sebaiknya di karantina.

Tapi ini (transgender) kan penyakit yang bukan disebabkan virus. Banyak kok teman-teman saya yang bergaul dengan waria tapi tidak pernah tertular jadi waria,” ucapnya.

Leo, pengunjung lainnya sepakat dengan Siska. Penyakit mental tidak perlu dirisaukan seperti penyakit menular.

“Cuma saya setuju, tempatnya yang kurang tepat,” ucapnya.

Leo mengatakan, taman Sangkareang berada tak jauh dari bangunan yang menjadi simbol pemerintahan. “Tempat nongkrong yang lain banyak, seharunya jangan cari tempat yang dapat membuat kontroversi. Di sini kan ada kantor wali kota, pendopo, kantor Gubernur, juga ada markas TNI, ya teman-teman transgender, Red) ini jangan cari sensasi di sinilah,” sarannya.

Pemerintah dan aparat keamanan menurutnya identik dengan image yang maskulin. Ada norma, kepatutan, dan kelayakan yang diutamakan.

Sementara itu, sebagian besar warga kota, sudah pasti menolak transgender. Leo menilai ini adalah norma yang berlaku umum di tengah masyarakat.

“Teman-teman transgender sebaiknya cari tempat lain, banyak kok taman yang ramai. Kalau ternyata teman-teman ini paham norma, saya menduga mereka datang ke sini bukan sekadar cari hiburan tapi memang ingin buat sensasi. Wajar akhirnya picu kontroversi,” sesalnya. (zad/r3)

 

 

 

 

 

Editor : Kimda Farida
#Transgender #Taman Sangkareang