Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Agus Permadi Drummer Jebolan Indonesia Mencari Bakat, Belajar Rakit Drum dari Ember dan Panci

nur cahaya • Minggu, 22 Desember 2024 | 11:59 WIB

 

 

TUNJUKKAN SKILL: Drummer Agus Permadi bermain drum saat menghibur penonton pada acara pernikahan di salah satu hotel di Senggigi, beberapa waktu lalu.  
TUNJUKKAN SKILL: Drummer Agus Permadi bermain drum saat menghibur penonton pada acara pernikahan di salah satu hotel di Senggigi, beberapa waktu lalu.  

 

Kerja keras tidak akan menghianati hasil. Itu salah satu prinsip yang dipegang Agus Permadi. Dia bisa sampai seperti ini, berkat kemauan yang tinggi. Untuk bisa bermain drum, dia harus merakit sendiri. Merakit dari ember dan panci.

Mataram

Studio musik Agus masih eksis berdiri. Terletak di Gang Jaya II, Cakranegara. Disitulah tempat drumer Agus Permadi mengembangkan diri.

Studionya masih eksis. Yang lebih banyak menyewa adalah para pemain band senior. Tidak seperti 15 tahun lalu, studio musik banyak dikunjungi para anak muda yang belajar nge-band. ”Ini tempat latihan sama temen nge-band yang mengisi acara di tempat hiburan,” kata Agus.

Dia tidak menyangka bisa mendirikan studio musik. Sebab, dia terlahir dari keluarga yang berkecukupan. “Tidak berlebihan,” kata dia.

Studio itu dibangun dari modal pribadinya. Menabung dari hasilnya bermain musik. ”Saya bermain musik sejak tahun 2002. Saat itu saya masih duduk dibangku sekolah dasar (SD),” kata dia.

Dia mengenal drum dari temannya yang juga hobi bermain musik. Tetapi, temannya didukung penuh orang tuanya. “Di belikan alat musik,” ujarnya.

Tetapi, dirinya yang tidak ingin kalah tidak putus asa meskipun hidup berkecukupan. Pria kelahiran 4 Februari 1993 itu tetap ingin berkreasi. “Saya merakit drum sendiri. Saya buat dari ember dan panci sebagai simbalnya,” kata dia.

Dari situ, dia belajar mengenai kepekaan pukulan. Sehingga, caranya bermain drum terus terasah. Hingga menguasai sejumlah teknik. ”Belajar-belajar sendiri dah. Belajar kepekaan mengenai musik dari sering mendengar,” jelasnya.

Saking seringnya mendengar musik, dia bisa belajar lebih banyak. ”Saya ikuti tempo main drumnya dengan mengikuti irama drum-nya,” bebernya.

Dengan terus terasahnya bermain drum, selepas SMA, Agus membentuk klub perkusi. Namanya, Las Vegas. ”Kita ikut acara IMB (Indonesia Mencari Bakat),” ujarnya.

Tetapi, gagal tembus hingga ke semifinal. Sebab, pesaingnya juga cukup ketat. ”Kami hanya bisa tembus 21 besar,” ujarnya.

Setelah dari pembuatan grup perkusi itu, Agus kembali nge-band. Bergabung bersama Sould Id. ”Band-nya sering diundang bermain di acara pernikahan,” kata dia.

Bahkan, mendapatkan kontrak untuk mengisi band pada tempat hiburan. ”Kalau sekarang lagi race. Kontrak saya baru berakhir di Paragon,” bebernya.

Kini Agus tidak bisa lepas dari dunia musik. Lewat musik dirinya bisa bahagia. ”Kalau nge-drum sudah menjadi pekerjaan,” kata dia.

Lewat musik dia bisa menafkahi keluarga kecilnya. ”Saya punya dua anak. Alhamdulillah, dari pekerjaan nge-drum juga bisa hidup,” ujarnya.

Meski sudah mahir bermain drum. Agus tetap rendah diri. “Tetap mengasah kemampuan. Setiap hari harus bermain drum. Mainnya di studio,” kata dia.

Jika tidak berlatih, tangan akan sedikit kaku. Jika terjadi, bermain musik bisa berabe. ”Nyawa dari setiap kita bermain musik ada di drum. Sebab, disitu temponya,” pungkasnya. (SUHARLI/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post
#ember #Paragon #Indonesia #merakit #musik #mencari #kontrak #bakat #modal #drum