Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Geger Penemuan Monumen Perang Lombok di Kompleks Kantor Gubernur NTB (1)

Lalu Mohammad Zaenudin • Selasa, 7 Januari 2025 | 23:27 WIB

 

MASA LAMPAU: Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam (kiri) DAN Sekda NTB Lalu Gita Ariadi (jas hitam) saat meninjau langsung, bongkahan sisa monumen perang Lombok yang dibangun pasca Perang Lombok 1894.
MASA LAMPAU: Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam (kiri) DAN Sekda NTB Lalu Gita Ariadi (jas hitam) saat meninjau langsung, bongkahan sisa monumen perang Lombok yang dibangun pasca Perang Lombok 1894.
 

Fondasi yang ditemukan tertanam di kawasan kantor Gubernur NTB diduga berkaitan dengan Monumen Perang Lombok tahun 1894. Monumen ini menjadi simbol mengenang dahsyatnya pertarungan pasukan Hindia Belanda melawan pasukan kerajaan Mataram-Bali.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

MASIH sedang dicari tahu, siapa nama pekerja bangunan yang pertama kali menemukan puing-puing fondasi diduga Monumen Perang Lombok. Namun dari cerita yang beredar fondasi itu ditemukan secara tidak sengaja saat sedang proses perbaikan taman bunga kantor Gubernur NTB.

“Ini seperti cerita yang beredar, bangunan itu secara tidak sengaja ditemukan pekerja bangunan yang tengah menata taman kantor Gubernur,” tutur Yuyun, jurnalis yang bertugas mengawal pemberitaan di Kantor Gubernur NTB, Senin (6/1).

Saat itu pekerja bangunan kebingungan karena tanah yang digali menemukan benda solid. Penggalian di sekitar, akhirnya memperjelas bahwa itu bukan batu.

“Tetapi fondasi bangunan,” imbuhnya.

Sekda NTB H Lalu Gita Aryadi sampai turun ke lokasi, mengecek fondasi tersebut. Kesimpulan sementara mengarah pada Monumen Perang Lombok yang pernah terpancang gagah namun akhirnya ‘hilang’ seiring masif-nya pembangunan di lokasi tersebut.

Bangunan terakhir berdiri di kawasan yang dulu dikenal sebagai Kebon Raja itu adalah kantor Gubernur NTB yang berdiri saat ini. “Pembangunan penataan taman di lokasi tersebut dihentikan, ada garis polisi dipasang untuk menjaga benda tersebut,” terangnya.

Lombok Post kemudian menghubungi Bunyamin, kurator yang juga Tenaga Ahli Permuseuman NTB untuk memperjelas ihwal fondasi yang diduga bernilai sejarah itu. Mantan Kepala Museum NTB itu kemudian menceritakan tentang Monumen Perang Lombok yang pernah ‘hilang’ itu.

Dalam perspektif Bunyamin, perang itu mulanya bukan sesuatu yang direncanakan pemerintah Hindia Belanda. Sekalipun dalam tulisan lain kedatangan Belanda ke Lombok disebut ekspedisi militer.

“Pada tahun 1894, pusat pemerintahan Sunda Kecil (Bali, NTB, dan NTT, Red)  pemerintah Belanda berada di Kota Singaraja, Bali. Belanda mendapat laporan (dari masyarakat Sasak, Red) terjadi kelaparan dan kemiskinan hebat yang mengakibatkan banyak orang meninggal di Lombok,” tuturnya.

Berdasarkan laporan itu, dibentuklah sepasukan militer menjalankan ekspedisi ke Lombok. Pasukan berjumlah 2.375 orang.

“Ekspedisi itu berlangsung pada sekitar bulan Juli (tahun 1894),” imbuhnya.

Pasukan dibawa tiga kapal besar yakni Prins Hendrik, Koningin Emma, dan Tromp. Terdiri atas 107 perwira, 1.320 tentara Belanda, dan 948 tentara pribumi.

Ekspedisi di bawah pimpinan Panglima Mayor Jendral Jacobus Augustinus Vetter dan Panglima Kedua Mayor Jendral PPH Van Ham. “Mereka datang bukan untuk menyerang,” tekannya.

Keyakinan Bunyamin bahwa Vetter, Van Ham, dan pasukan militernya bukan untuk menyerang didasari argumentasi politik adu domba. Hal ini menyusul banyak kepentingan orang Eropa yang lebih dahulu masuk di Lombok sebelum ekspedisi Belanda itu.

“Banyak orang asing yang ada di sana (Lombok, Red) termasuk dari Rusia. Mereka yang menghasut agar kerajaan Mataram-Bali melawan kedatangan Belanda,” ucapnya.

Hasutan tentang kehadiran orang Belanda di Lombok membuat kerajaan Mataram-Bali terusik. Mereka lalu merencanakan penyerangan terhadap kamp Belanda pada bulan Agustus tahun 1894.

Penyerangan tercatat terjadi pada 25 Agustus 1894 pada malam hari ke Kamp Militer Belanda yang berpenghuni 900 orang. Kamp itu didirikan di dekat istana Mayura, Cakranegara.

“Yang melakukan penyerangan bukan dipimpin raja Mataram-Bali, tapi putranya, Anak Agung Ketut Karangasem,” terangnya.

Penyerangan mengakibatkan sekitar 500 orang tewas. Terdiri atas tentara, pelaut, hingga kuli.

“Salah satu yang gugur adalah Jendral Van Ham yang makamnya di Karang Jangkong itu,” terangnya. (bersambung/r3)

Editor : Marthadi
#Gubernur #kantor #kawasan #monumen #Fondasi #NTB #simbol #perang #Lombok