LombokPost - Saat perayaan HUT RI ada sejumlah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat. Salah satunya yang anti-mainstream dengan menggelar upacara di tempat tak biasa.
Momen inilah yang coba ditangkap tempat penyewaan alat-alat pendakian dan camping. PT Shelterindo Nusa Tenggara, milik Asep Noorman Tanjung salah satuya.
Usaha yang telah dirintis sejak tahun 1988 ini mengalami lonjakan permintaan terutama dari komunitas pendaki, pelajar, hingga penyelenggara acara yang merencanakan upacara kemerdekaan di alam terbuka seperti gunung, bukit, dan pantai.
Noorman mengungkapkan usaha penyewaan alat camping dan mendaki ini bermula dari kecintaannya terhadap kegiatan alam bebas. Hobi mendaki yang sudah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku SMA dan terus berlanjut hingga masa kuliah, menjadi pondasi utama lahirnya usaha tersebut.
“Waktu itu saya punya perlengkapan mendaki sangat lengkap, karena memang hobi, teman-teman sering pinjam, tapi sayangnya banyak yang tidak kembali. Dari situ saya mulai berpikir, kenapa tidak disewakan saja? Karena peralatan ini juga tidak murah,” jelasnya.
Kini, bisnis yang lahir dari hobi tersebut telah bertahan lebih dari tiga dekade dan menjadi salah satu penyedia alat outdoor terlengkap di wilayah NTB.
Memasuki bulan Agustus, berkah itu menghampiri Noorman. Permintaan terhadap perlengkapan mendaki melonjak tajam. Masyarakat dari berbagai kalangan mulai melakukan reservasi sejak sebulan sebelumnya untuk memastikan ketersediaan alat.
“Puncaknya itu sehari sebelum 17 Agustus. Banyak yang booking lebih awal, bahkan dari sebulan sebelumnya. Karena siapa cepat dia dapat. Kami juga sudah catat semua tanggal pemesanan, ada yang belum, dan biasanya sudah DP untuk memastikan,” terangnya.
Shelterindo menyediakan berbagai jenis perlengkapan outdoor dengan harga yang kompetitif. Harga sewa berlaku per hari, dengan pilihan peralatan lengkap.
Di antaranya tenda 12 orang (double layer) Rp 150.000. Tenda 4-5 orang (double layer) Rp 40.000. Tenda 2 orang (double layer) Rp 35.000. Jaket gunung Rp 20.000. Sepatu gunung Rp 20.000. Carrier (ransel besar) Rp 20.000.
Berikutnya, kursi, meja, dan toilet tenda masing-masing di harga Rp 20.000. Flysheet Rp 15.000. Trekking pole Rp 15.000. Sleeping bag, kompor, nesting masing-masing di harga Rp 10.000 dan Matras Rp 7.500.
Harga yang terjangkau ini menjadi alasan utama mengapa banyak pendaki memilih untuk menyewa ketimbang membeli. Apalagi, kegiatan mendaki biasanya dilakukan hanya sekali atau dua kali dalam setahun, sehingga membeli peralatan baru dianggap kurang efisien.
Dengan lonjakan permintaan yang begitu besar, Noorman mencatat omzet penyewaan alat mendaki selama bulan Agustus bisa menembus lebih dari Rp 20 juta. Angka ini jauh melampaui hari-hari biasa yang hanya ramai pada akhir pekan.
“Omzet terbesar memang dari penyewaan tenda, tapi perlengkapan lain seperti carrier, sleeping bag, hingga kompor portable juga hampir tidak pernah luput disewa,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada penyewaan alat, PT Shelterindo Nusa Tenggara juga menjalankan usaha Trekking Organizer yang telah resmi terdaftar di Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Dengan legalitas tersebut, mereka dapat menyelenggarakan paket perjalanan lengkap termasuk logistik dan perlengkapan untuk grup atau perorangan yang ingin melakukan pendakian ke Rinjani maupun destinasi outdoor lainnya.
“Ditambah ini juga alhamdulillah, banyak yang memakai jasa kami,” ujarnya.
Konsumen Shelterindo bukan hanya dari kalangan pendaki. Pelajar SD, SMP, hingga SMA kerap menyewa perlengkapan untuk kegiatan kemah sekolah. Tak hanya itu, instansi pemerintahan dan event organizer juga menjadi pelanggan tetap, terutama ketika menggelar acara di luar ruangan.
“Biasanya hari Jumat sampai Minggu sudah ramai, tapi kalau Agustus bisa setiap hari penuh. Hampir semua alat keluar. Kami sampai harus keluarkan stok cadangan kalau alat utama sudah habis,” jelasnya.
Untuk menghadapi lonjakan permintaan di bulan Agustus, Shelterindo melakukan persiapan sejak jauh hari. Satu bulan sebelumnya, seluruh perlengkapan dicek secara menyeluruh, termasuk menjahit tenda yang robek, mengganti tali yang putus, dan menyiapkan spare part cadangan.
“Kami tidak ingin mengecewakan pelanggan. Jadi setiap alat kami rawat dan pastikan dalam kondisi siap pakai. Kalau ada yang rusak, langsung kami perbaiki atau ganti. Spare part selalu tersedia di gudang,” ujarnya.
Kemudian seluruh perlengkapan yang disewakan selalu dalam kondisi bersih dan layak pakai. Mereka memiliki mesin cuci industri yang mampu mencuci perlengkapan besar seperti sleeping bag dan tenda setelah setiap pemakaian.
“Kami pastikan semua alat bersih saat dikembalikan ke konsumen berikutnya. Karena kalau tidak dicuci, penyewa merasa risih. Ini soal kenyamanan juga,” kata Noorman.
“Peralatan outdoor itu mahal. Tidak semua orang mampu beli, apalagi kalau hanya digunakan sesekali. Jadi menyewa adalah solusi paling masuk akal,” tandas Noorman.
Editor : Siti Aeny Maryam