Di tengah menguatnya harga sawit global, produksi yang stagnan membuat para pengusaha tidak bisa serta-merta melepas produknya ke pasar internasional.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendesak percepatan program peremajaan sawit untuk mendorong pertumbuhan produksi dan menjaga ketersediaan pasokan.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyatakan bahwa harga CPO internasional berpotensi bertahan di level USD 1.100–1.200 per metrik ton dan diperkirakan akan terus membaik hingga akhir 2025. Namun, kondisi ini tidak diimbangi dengan kenaikan produksi.
“Kalau kita lihat data, produksi sawit Indonesia lima tahun ini stagnan. Produksi Malaysia juga sama. Sementara permintaan dunia terus meningkat, tidak hanya untuk sawit tapi juga minyak nabati lainnya,” ujar Eddy.
Salah satu penyebab stagnasi adalah lambatnya realisasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Eddy menyebut dari sekitar 3 juta hektare kebun sawit rakyat yang layak diremajakan, progresnya masih sangat rendah.
"Petani enggan menebang karena khawatir kehilangan penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Padahal produktivitas mereka sudah sangat rendah, hanya sekitar 10 ton tandan buah segar per hektare per tahun, bahkan di bawah itu," jelas Eddy.
Di sisi lain, rencana pemerintah untuk meningkatkan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 tahun depan juga berpotensi menekan ekspor jika tidak ada peningkatan produksi.
“Kalau produksi stagnan sementara kebutuhan domestik naik, maka ekspor yang akan dikurangi. Indonesia adalah pemasok besar minyak nabati dunia, sehingga penurunan ekspor bisa mendorong harga minyak nabati global melonjak,” ungkapnya.
Untuk mencegah krisis pasokan dan harga global, GAPKI meminta pemerintah fokus pada percepatan program peremajaan sawit, yang merupakan kunci untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga posisi Indonesia sebagai produsen sawit terkemuka di dunia.(*)
Editor : Redaksi Lombok Post