Latar belakang kerja di hotel berbintang tak lantas membuat Iqbalul Musdiqi betah.
Kecintaannya pada dunia akuatik, terutama ikan hias, mendorongnya mengambil keputusan besar, dengan resign dan banting setir total menjadi pedagang ikan.
Bisnisnya membuktikan, kaca akuarium bisa jauh lebih menjanjikan daripada lampu hotel.
-----------------
Berawal dari hobi, kini Iqbalul Musdiqi menjadi Ketua Sentra Pasar Ikan Hias Rembiga, yang tak hanya melayani penghobi lokal Mataram, tetapi juga mengirim ikan hingga ke luar pulau, bahkan sampai NTT.
“Dulu saya pernah di Bali, pernah. Di Merumatta, pernah. Di Santika, pernah. Di Raja Hotel, pernah," kenangnya.
Baca Juga: Wow, Ini Livery Spesial Pertamina Enduro VR46 untuk MotoGP Mandalika 2025
Namun, tiga tahun lalu, sebuah keputusan besar diambil. Hobi yang ditekuni menjadi panggilan baru.
“Awal mulanya itu hobi,” jawabnya singkat.
Keseriusan Iqbal muncul setelah sering bepergian ke luar daerah dan memahami peta harga dari pusatnya, seperti Kediri dan Tulungagung.
“Makin tahu harga lagi, makin berminat lagi coba. Akhirnya datang ikan, resign kerja, jualan ikan," ujarnya.
Keputusan itu terbukti tepat. Bisnis ikan hiasnya terbilang fantastis.
“Kalau sepinya, omset Rp 100 juta sebulan. Cuma kalau lagi rame, omset yang perbulannya kadang sampai Rp 200 juta sampai Rp 250 juta pernah," ungkap Iqbal.
Omset ini didapat dari berbagai titik penjualan—Rembiga, Lingsar, dan Gunung Sari—serta jalur grosiran dan online.
Bisnis ini memang sedang naik daun. Iqbal menyebutkan, pasokan ikannya dari Jawa mencapai 20 ribu ekor per minggu. Angka ini hanya dari dirinya sendiri, belum termasuk pedagang lain di sentra.
“Saya juga lupa karena terlalu banyak," katanya, menggambarkan betapa luasnya keragaman jenis ikan hias yang mereka sediakan.
Saat ini, tren yang paling diminati pelanggan adalah Aquascape, yaitu seni menata akuarium layaknya ekosistem atau lanskap air.
“Tren ikan hias sekarang ya aquascape model kayak gini. Jadinya nanti bisa disetting maunya kayak gimana dari customernya,” jelasnya.
Untuk akuarium lengkap dengan setting aquascape seperti yang dipamerkan, harganya dibanderol Rp 1,5 juta.
Namun, harga ikan hias itu sendiri sangat bervariasi. Mulai dari yang ramah di kantong, seperti Glowfish, Maskoki, dan Koi biasa yang dijual mulai Rp 5 ribuan, hingga ikan sultan yang berharga puluhan juta rupiah.
Baca Juga: Jorge Martin Dipastikan Absen di MotoGP Mandalika, Operasi Tulang Selangka Berjalan Sukses
"Ada ikan yang 10 juta satunya ada. Ada kadang Arowana, kadang Pari air tawar,” sebutnya.
Ia memastikan, sentra ikan hias Rembiga melayani semua kalangan, dari anak-anak yang membeli ikan cupang hingga kolektor atau sultan.
Iqbal meyakinkan, perawatan ikan hias modern tidak serumit yang dibayangkan.
“Perawatannya paling diganti air aja. Ganti air sama kalau misalkan kita pakai air PDAM, ada obatnya penetral kaporitnya," katanya.
Ia menambahkan, untuk ikan-ikan yang mereka jual di sentra, sebagian besar tergolong simpel.
Baca Juga: Gratis! Trans Bening Bantu Ribuan Pelajar Mataram ke Sekolah Tanpa Ongkos
“Yang tinggal beli, taruh, bisa,” ucapnya.
Saat ini, Iqbal bersama dengan 30 pedagang di Sentra Pasar Ikan Hias Rembiga, yang berada di bawah naungan Dinas Perikanan dan Dinas Perdagangan Kota Mataram.
Pasar ini menjadi rujukan bagi penghobi, kolektor, bahkan grosiran dari wilayah lain seperti Dompu dan Sumbawa.
“Pengiriman kita bisa sampai NTT,” kata Iqbal.
Untuk pengiriman jarak jauh, ikan dibungkus plastik dengan oksigen dan bisa bertahan hingga 30 jam.
Baca Juga: Jelang MotoGP Mandalika 2025, MGPA Menanti Homologasi Grade A dari FIM
Meski demikian, Iqbal memiliki satu harapan besar.
“Harapannya ikan hias di Kota Mataram biar lebih terekspos lagi lah tentang pasar ini,” tuturnya.
Menurutnya, promosi pasar ini masih minim, sehingga banyak orang di Lombok belum tahu bahwa Mataram sudah memiliki sentra ikan hias.
Ke depan, Iqbal berharap sentra ini bisa berkembang lebih jauh.
“Harapannya kalau emang bisa, itu nanti full dibuat jadi pasar ikan hias," ujarnya.
Editor : Kimda Farida