Ketika Mimpi Gadis Desa Difilmkan Hanya dengan Modal iPhone 6
Film Langkah Tanpa Restu, karya siswa-siswi MA NWDI Bagik Polak, bukan hanya menyuarakan isu ketidaksetaraan gender di daerah yang menganggap pendidikan perempuan sebagai pemborosan, tetapi juga membuktikan kreativitas tanpa batas, di mana proses produksi film humanis ini hanya bermodal nekat dan kamera iPhone 6.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Tidak jauh dari hiruk pikuk kota, di lingkungan Bagik Polak, Lombok Barat, terdapat sebuah ironi sosial yang mengakar.
Yakni investasi orang tua pada pendidikan anak perempuan masih dianggap sebagai pemborosan.
Motor dan minyak tanah lebih mudah dibeli, tetapi untuk menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya perempuan, orang tua masih berpikir dua hingga tiga kali.
Isu inilah yang diangkat oleh siswa-siswi Madrasah Aliyah Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyah (MA NWDI) Bagik Polak, melalui karya film terbarunya, Langkah Tanpa Restu.
Film ini bukan sekadar fiksi.
Sutradara sekaligus Pembina Ekstrakurikuler Cinemateens Perfilman Production MA NWDI Bagik Polak Verawati Ningsih, mengungkapkan konsep film ini berakar dari isu sosial yang benar-benar terjadi.
“Di lingkungan Bagik Polak ini, banyak orang tua yang takut untuk berinvestasi ke masalah pendidikan, apalagi ke perempuan. Rata-rata orang tua sini kalau anak perempuannya lulus sekolah, ya sudah, dinikahkan saja,” kata Vera, kemarin (19/10).
Baca Juga: Jalan Penghubung Labuapi–Narmada Ambles, Dewan Minta Pemkab Lobar Segera Bertindak
Langkah Tanpa Restu bercerita tentang Salma, seorang gadis desa dengan mimpi besar untuk melanjutkan pendidikan tinggi demi mewujudkan cita-cita mendiang ibunya.
Namun, cita-citanya terhalang oleh pandangan kolot sang ayah.
Bagi sang ayah, peran perempuan hanya berkutat pada dapur, sumur, kasur, dan setelah lulus sekolah, tujuan akhirnya adalah menikah.
Berbeda nasib dengan Salma, saudara kembarnya yang laki-laki, justru mendapatkan dukungan penuh orang tua untuk berinvestasi pada pendidikannya.
Puncak konflik terjadi ketika Salma dijodohkan oleh ayahnya setelah lulus sekolah.
Namun, semangat Salma untuk melawan budaya yang mengekang hak perempuan untuk berpendidikan tinggi tak padam. Ia nekat memutus rantai tradisi tersebut.
“Dia dilarang untuk punya sekolah tinggi-tinggi. Tapi dia nekat untuk memutus peraturan yang ada di desa tersebut. Dia melawan budaya yang ada, perempuan juga berhak untuk sekolah tinggi-tinggi. Dia jadi satu-satunya perempuan yang bisa sekolah tinggi dengan beasiswa,” jelasnya.
Judul melangkah tanpa restu ini menggambarkan langkah berani Salma dalam mengejar pendidikan tanpa restu utama yang seharusnya ia dapatkan, yaitu dari orang tuanya sendiri. Salma memutuskan kabur setelah mendapatkan beasiswa, memilih pendidikan di atas perjodohan paksa.
Yang membuat karya ini semakin inspiratif adalah proses produksinya. Film Langkah Tanpa Restu diproduksi dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Proses pra-produksi, termasuk penulisan naskah, revisi, dan casting pemain, memakan waktu sekitar dua bulan. Sementara itu, proses shooting dan editing berlangsung selama enam bulan.
Yang paling unik, ini merupakan film ketiga ekstrakulikuler film MA NWDI Bagik Polak.
Namun, mereka tidak menggunakan alat seperti kamera ataupun elektronik yang mahal dalam proses pembuatan film.
“Kami cuma memodalkan iPhone 6 atau iPhone 11, sama mikrofon yang harganya hanya Rp 200 ribu. Bahkan tripod pun yang cuma harga Rp 100 ribu itu,” terangnya.
Baca Juga: Ungkap Kasus Pembobolan Indomaret di Labuapi, Polisi Tangkap Tiga Pelaku
Keterbatasan fasilitas ini tidak lantas memadamkan semangat dan kreativitas siswa-siswi MA NWDI Bagik Polak.
Alih-alih mengeluh, mereka justru membuktikan bahwa keterbatasan bisa menjadi pemantik kreativitas. Hasilnya, film ini berhasil menarik perhatian ratusan penonton.
Penayangan Langkah Tanpa Restu yang ketiga kalinya berhasil menembus angka lebih dari 500 penonton. Vera menjelaskan, penonton yang datang bukan hanya dari kalangan siswa, tetapi juga masyarakat umum, bahkan ada yang datang dari Mataram.
Tiket penayangan yang berbayar Rp 10 ribu, dialokasikan sebagai modal awal untuk kas Cinemateens selama satu tahun dan untuk produksi film selanjutnya.
“Dari sana kita operional untuk film-film selanjutnya,” jelasnya.
Semua pemeran dan kru dalam film ini adalah siswa aktif MA NWDI Bagik Polak serta ikatan alumni yang telah lulus namun tetap berkomitmen dalam tim produksi.
Film ini menjadi upaya edukasi yang sangat penting di lingkungan sekolah tersebut.
Baca Juga: Polisi Ringkus Dua Terduga Pelaku Pencurian Kabel Tower Indosat di Labuapi
Vera menyebutkan, di lingkungan MA NWDI Bagik Polak, tidak banyak lulusan yang melanjutkan ke jenjang kuliah.
Setiap angkatan, hanya sekitar 1 sampai 3 siswa yang beruntung bisa kuliah, dan mayoritas adalah laki-laki. Sisanya lebih memilih untuk menikah atau bekerja, terutama para perempuan.
“Tujuan utamanya untuk mengedukasi kepada orang tua bahwa pendidikan itu hak bagi semua gender, bukan hanya gender laki-laki,” tegasnya.
Keberadaan ekstrakurikuler Cinemateens yang berdiri resmi sejak 2024, dengan film pertama diproduksi 2023 menjadi wadah bagi siswa-siswi untuk menyuarakan isu-isu sosial dan melawan budaya yang dianggap tidak lagi relevan.
“Film ini adalah pengingat bahwa impian anak perempuan untuk berpendidikan tinggi adalah sebuah langkah yang berhak untuk dirayakan, meski pun harus ditempuh tanpa restu,” ujarnya.
Editor : Kimda Farida