LombokPost – Strategi berani Pedro Acosta di MotoGP Malaysia 2025 terbukti membuahkan hasil manis.
Pembalap Red Bull KTM Factory Racing itu sukses mengamankan podium kedua setelah melakukan pertaruhan besar di Sirkuit Sepang akhir pekan lalu.
Tanpa pikir panjang, Pedro Acosta memutuskan melepas kontrol traksi dan sistem elektronik dari motor KTM RC16 miliknya — langkah yang jarang dilakukan di level MotoGP.
Tujuannya jelas: mengurangi keausan ban belakang yang selama ini menjadi masalah utama bagi KTM.
“Saya pikir ini tidak mungkin lebih buruk lagi, jadi saya meminta mereka untuk melepas semuanya. Saya sendiri yang menangani semuanya sebaik mungkin: akselerasi, rem, dan perangkat. Jika saya terjatuh, seperti biasa, saya yang akan menanggung akibatnya,” ujar Acosta jujur.
Start dari posisi kelima, Acosta langsung melesat ke posisi ketiga di lap pertama. Ia bahkan menyalip Francesco Bagnaia (Ducati Lenovo Team) pada Lap 13 dan mempertahankan posisi kedua hingga garis finis.
Hasil ini menjadi podium keempatnya musim ini dan menegaskan progres luar biasa sang pembalap muda asal Murcia.
Kendali Manual, Hasil Maksimal
Langkah nekat Pedro Acosta itu berawal dari hasil buruk di balapan Tissot Sprint sebelumnya, di mana ia kesulitan menjaga daya cengkeram ban belakang. Dalam sesi Warm Up, ia mencoba pengaturan baru namun tak puas dengan hasilnya.
“Kemarin saya sangat kesulitan dengan keausan ban. Hari ini, saya mencoba sesuatu saat Warm Up. Saya tidak terlalu puas, jadi saya berpikir, ‘Ini tidak mungkin lebih buruk lagi,’” ungkapnya.
Hasilnya tak mengecewakan. Dengan kendali penuh di tangan sendiri, Acosta tampil lebih konsisten sepanjang balapan.
Meski sempat kesulitan di tiga lap terakhir, ia berhasil mempertahankan jarak aman dari Joan Mir (Honda HRC Castrol) dan mengamankan podium dengan percaya diri.
Lebih Sedikit Podium, Tapi Lebih Banyak Poin
Dengan dua seri tersisa, Pedro Acosta kini berada di posisi kelima klasemen MotoGP 2025.
Meski jumlah podium lebih sedikit dibandingkan musim debutnya tahun lalu, torehan poinnya justru lebih banyak — menandakan peningkatan konsistensi dan kedewasaan balapnya.
“Podium saya lebih sedikit dibandingkan musim lalu, namun poin saya lebih banyak. Saya kembali konsisten, tidak membuat kesalahan besar setelah jeda musim panas,” tutur Acosta.
Baginya, pencapaian ini bukan sekadar hasil di atas podium, tapi juga bagian dari proses menuju level tertinggi MotoGP.
“Saya tidak tahu apa yang saya perjuangkan saat ini, tapi saya telah menemukan sesuatu yang memberi pemahaman lebih dalam tentang MotoGP dan apa yang dibutuhkan untuk mencapai level tertinggi,” tambahnya.
Editor : Rury Anjas Andita