Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tak Melaut, Hanya Andalkan Simpanan dan Pinjaman Bank

Sanchia Vaneka • Rabu, 19 November 2025 | 18:18 WIB

  

Seorang nelayan Kampung Bugis yang libur melaut akubat besarnya gelombang laut
Seorang nelayan Kampung Bugis yang libur melaut akubat besarnya gelombang laut


Hantaman ombak di kawasan ini tidak hanya merusak rumah, tetapi juga mengancam mata pencaharian.

Perahu-perahu kecil, jaring, dan peti-peti ikan diletakkan sangat dekat dengan garis pantai, sementara sebuah bangunan kecil tempat penyimpanan atau pasar sementara tampak hancur.

 -------------------

Terik matahari membayangi perahu-perahu yang tertambat lesu di bibir pantai Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Ampenan.

Angin Barat, si rutinitas tahunan yang membawa serta ombak ganas, telah tiga hari memaksa para nelayan untuk tidak melaut. 

Di tengah kondisi ini, wajah Muksin, salah seorang nelayan, memancarkan kecemasan yang mendalam, berbalut dengan ketegaran seorang kepala keluarga.

Di pantai yang berpasir gelap, tampak perahu milik Muksin yang dicat warna-warni merah muda, hijau, dan sedikit putih teronggok di daratan.

Di antara perahu itu, Muksin bersama dua pria lain duduk merunduk, mengutak-atik jaring ikan berwarna hijau yang terhampar di atas papan kayu penyangga perahu.

Mereka terlihat berusaha memperbaiki atau sekadar merapikan alat tangkap, sebuah pekerjaan yang menjadi satu-satunya aktivitas di tengah larangan melaut.

Muksin, yang mengenakan kaus biru, sesekali mengangkat kepala sambil berbicara.

Tepat di belakang mereka, debur ombak putih memecah di bibir pantai dengan suara yang keras.

Garis cakrawala terlihat buram di bawah langit yang mendung, memperkuat gambaran cuaca yang tidak bersahabat.

Baca Juga: Belasan Rumah Rusak Akibat Abrasi, Warga Bintaro Mataram Berharap Segera Direlokasi 

Muksin, seorang ayah dari dua anak yang masih bersekolah, hanya bisa menatap lautan yang kini bergelora dengan ketinggian ombak sekitar dua meter. 

 “Ya, perahu sih ada. Jaring ada. Tapi cuaca  seperti ini,” tuturnya, mengacu pada kondisi perahu dan jaringnya yang aman, namun tak berguna saat cuaca seperti ini.

Kondisi ombak besar yang diakibatkan oleh angin barat bukan hal baru. Setiap tahun, menjelang akhir tahun, cuaca buruk ini datang menjemput dan menyandera kehidupan nelayan.

“Iya, tiap tahun kayak gini. Cuaca buruk sudah setiap tahun itu,” ujarnya. 

Ironisnya, satu-satunya pekerjaan Muksin adalah melaut. Ia tidak memiliki pekerjaan sampingan lain yang bisa diandalkan selama musim paceklik ini.

 “Nggak ada, nelayan aja,” katanya, mengonfirmasi bahwa penghidupannya sepenuhnya bergantung pada hasil laut.

Saat cuaca normal, Muksin biasanya melaut setiap hari dan pulang di hari yang sama. Hasil tangkapannya bervariasi, namun rata-rata bisa mencapai 20 hingga 50 kilogram sekali melaut.

Pendapatan dari hasil melaut ini yang kemudian harus dikelola untuk menafkahi keluarganya. Dalam keadaan seperti ini, harga ikan laut segar pun merangkak naik.

 Baca Juga: Abrasi Pantai Mataram Kian Kritis, Dana Darurat BTT Rp 5 Miliar

Saat ini, sudah tiga hari Muksin tidak melaut. Dan yang lebih mengkhawatirkan, prakiraan ketidakberanian melaut ini bisa berlangsung jauh lebih lama.

 “Sekitar dua bulan mungkin. Sampai akhir tahun dong,” Muksin mengiyakan.

Selama dua bulan penuh ini, sumber pendapatan utamanya terhenti total. Bahkan, nelayan yang nekat melaut pun seringkali pulang dengan tangan hampa.

“Ikan masih di Bali, soalnya. Belum di sini dia,” jelas Muksin, mengungkapkan bahwa saat cuaca buruk, ikan-ikan cenderung menjauh, membuat upaya melaut menjadi percuma. 

Kondisi ini memaksa para nelayan berhadapan dengan pertanyaan, bagaimana bisa bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari? 

“Itu yang kita pikirkan,” jawab Muksin jujur. 

Beruntung, Muksin telah belajar dari pengalaman tahunan. Ia mengandalkan cadangan yang selama ini ia kumpulkan.  

“Waktu belum cuaca buruk kan ada aja simpenan,” jelasnya. 

Ia memperkirakan, biaya hidup sehari-hari yang harus ia keluarkan untuk keluarganya dengan istri dan dua anak yang bersekolah minimal mencapai Rp 100 ribu per hari.

Seluruh urusan keuangan dan tabungan diserahkan kepada istrinya, sementara ia fokus mencari nafkah di lautan.  

“Kalau urusan ini, anak-anak itu istri saja. Kalau kita cuma nyari saja,” ujarnya.

Namun, tidak jarang pula ia menghadapi kesulitan yang lebih parah. 

Baca Juga: Rekor! Penonton MotoGP 2025 Tembus 3,6 Juta, Valencia Jadi Puncak Ledakan Antusiasme

“Kalau tidak ada ya terkadang minjam sama tetangga,” ucapnya pasrah.

Bahkan, ia pernah terpaksa harus meminjam uang ke bank demi menyambung hidup.

Tinggalnya di dalam, bukan di tepi pantai, sedikit memberinya ketenangan dari ancaman abrasi langsung, namun tidak dari ancaman ekonomi.

 

Editor : Kimda Farida
#Ampenan #Mataram #Abrasi