LombokPost – Proyek pembangunan kembali Jembatan Perumahan Mahkota Bertais yang amblas diterjang banjir Juli lalu kini menjadi sorotan. Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mengambil langkah drastis: merombak total desain jembatan Mahkota Bertais menjadikannya lebih panjang dan kuat dari konstruksi awal.
Perombakan ini dilakukan untuk menjamin keamanan dan ketahanan jembatan di masa depan, terutama mengingat struktur tanah yang didominasi tanah urugan.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, menyatakan bahwa progres pekerjaan berjalan positif, dengan pengerjaan pondasi beton kokoh sedang dikebut.
* Panjang Awal: Jembatan yang amblas sebelumnya hanya memiliki panjang sekitar 5 meter.
* Panjang Baru: Desain baru akan menambah panjang bentang jembatan hingga 10 meter, mengikuti lebar sungai yang ada.
* Alasan Perpanjangan: "Konstruksi jembatan yang seharusnya berada di luar bibir sungai jangan pas-pasan. Ini menyebabkan tergerus,” terang Lale, merujuk pada pelajaran dari kasus serupa seperti Jembatan Karang Kemong.
Baca Juga: Targetkan Atasi Banjir, PUPR Kota Mataram Berencana Bangun Satu Kolam Retensi di Tiap Kecamatan
Menariknya, meskipun bentangan diperpanjang, lebar jembatan justru diperkecil dari 10 meter menjadi 7 meter. Pengurangan ini wajar karena jembatan tersebut hanya menjadi akses bagi warga satu perumahan saja. Meskipun lebih kecil, jembatan 7 meter ini dipastikan sudah berfungsi untuk dua jalur.
Pembangunan Jembatan Mahkota Bertais ini menjadi proyek restorasi dengan biaya paling besar dibandingkan kerusakan jembatan lain akibat banjir di Mataram, karena memerlukan perombakan secara menyeluruh.
* Satuan Kerja: Dinas PUPR Kota Mataram.
* Pagu Anggaran: Rp 2.831.740.000.
* Pemenang Tender: CV Dewi Wangi, dengan harga negosiasi Rp 2.744.974.000.
* Sumber Dana: Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Mataram.
Saat ini, rekanan CV Dewi Wangi sedang mengerjakan rangka jembatan yang dicetak di workshop. Di lokasi, PUPR juga menyiapkan pemasangan bronjong di sekitar jembatan menggunakan batu kali berukuran besar untuk penguatan struktur.
Kontrak pengerjaan dimulai sejak Oktober dan harus rampung di penghujung tahun, dengan batas waktu 31 Desember mendatang. Lale Widiahning optimis proyek vital ini dapat diselesaikan tepat waktu.