LombokPost - Hian Eng ke Surabaya tak hanya mengunjungi Jawa Pos yang didirikan sang ayah. Ia juga menelusuri rumah keluarga, menemui sepupu, serta mengobati kerinduan terhadap kuliner tanah kelahirannya.
MASA kecil Hian Eng dihabiskan di sebuah rumah lawas kawasan Pregolan, Surabaya.
Tempat itulah yang kali pertama ia susuri saat menginjakkan kaki di Kota Pahlawan, tempat sang ayah mendirikan Jawa Pos pada 1 Juli 1949, pada awal bulan ini.
“Benar-benar berubah. Saya sampai tidak mengenali, tapi nomornya memang sesuai,” ucap perempuan 90 tahun tersebut tentang rumah yang dia tempati bareng keluarga tak sampai dua dekade itu.
Di usia yang menjelang satu abad, Hian masih mengingat dengan lumayan detail lintasan masa kecil. Saat melewati beberapa kawasan lain di Surabaya, misalnya, dia berusaha mengingat rumah saudara-saudaranya dahulu.
Hian akhirnya berhasil menemui salah satu sepupunya yang tinggal di kawasan Jalan Ciliwung. Mereka sudah dua dekade tak dia temui. “Ayahnya dan ibu saya adalah kakak beradik, jadi kami masih cukup dekat,” jelasnya kepada Jawa Pos yang mengikuti penelusurannya pada Selasa (2/12) pagi dua pekan lalu.
Sang sepupu dan putrinya menyambut langsung. Hian yang tinggal di London, Inggris, itu pun girang sekali.
Mereka membincangkan banyak hal, mulai dari kenangan masa kecil sampai kondisi kehidupan masing-masing.
“Dia banyak membantu saya mengetahui kabar saudara-saudara kami saat ini. Kami seperti mengabsen mereka satu per satu,” ucap perempuan yang terakhir ke Surabaya pada 1991 itu, kemudian tertawa.
Menyusuri Selotapak. Keluarga The Chung Sen tak selalu tinggal di Surabaya. Pada masa penjajahan Jepang, mereka sempat tinggal di Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Hal itu dimaksudkan agar sekeluarga bisa lebih aman.
Hian yang datang ke Surabaya setelah pernikahan saudaranya di Singapura batal itu pun menyiapkan satu hari untuk menyusuri jalanan Trawas. “Sebenarnya ada salah satu pegawai ayah saya yang tahu alamat tepat kami di Trawas,” ucapnya.
Sayangnya, Haryono, pegawai yang dimaksud, sudah terbatas pergerakannya akibat penyakit stroke. Tapi, Hian tetap berangkat pada Kamis (4/12) dua pekan lalu atau dua hari setelah dia singgah di markas redaksi Koran Jawa Pos di Graha Pena Surabaya.
Tanpa pemandu, pencariannya pun dilakukan dalam keremangan ingatan karena tempat tersebut hanya ia tinggali sekitar dua hingga tiga tahun saja. “Yang saya ingat, rumah itu punya bunker sendiri. Ini yang memungkinkan kami bisa bersembunyi jika terjadi sesuatu,” ucapnya.
Hian kemudian mempersempit pencarian rumahnya di kawasan Selotapak, salah satu desa di kecamatan yang berada di lereng Gunung Penanggungan tersebut. Jalan naik turun dan penuh tikungan itu disusuri pelan-pelan.
Namun, sayangnya, ia tak lagi berhasil mengingat. “Sudah banyak sekali yang berubah,” tuturnya tentang desa yang kini telah banyak diisi spot wisata dan hotel tersebut.
Selalu Pesan Makanan Tradisional
Kunjungan Hian ke Indonesia juga untuk memenuhi rasa kangennya terhadap makanan lokal. Selama di Surabaya, perempuan yang sekitar lima tahun menempuh pendidikan di Belanda itu selalu memesan makanan tradisional walau menginap di hotel bintang lima.
Di tengah perjalanan ke Selotapak, ia juga mampir di Rumah Makan Sri Istana Ayam Goreng, Tretes, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Di tempat tersebut, kerinduannya akan sop buntut, ayam goreng, hingga nasi goreng khas Jawa Timuran terpuaskan. Putri pasangan The Chung Sen atau Suseno Tedjo dengan Tjia Giok Eng atau Medah Endah Tedjo tersebut makan dengan lahap.
“Saya tak punya batasan makanan apa pun, tapi di London memang tak sebanyak rempah di sini,” katanya.
Ia juga mengaku kangen masakan khas Manado. “Ibu saya keturunan Manado, jadi sering dimasakkan. Hanya saja belum bisa mampir ke sana sekarang,” tuturnya.
Dalam perjalanan pulang dari Trawas, Hian juga mampir ke Warung Sudi Mampir di kawasan Raya Prigen, Kabupaten Pasuruan. Giliran klepon legendaris yang dia santap sampai habis. “Rasanya enak sekali, ini diisi dengan apa? Lumer, ya,” ucapnya.
Hian pun terkesima dengan wujud tempo doloe rumah Warung Sudi Mampir yang masih terjaga. Dia mengabadikan beberapa sudut interior, termasuk daftar menu dan nomor WhatsApp untuk memesan menu.
Apa ingin klepon-klepon itu dikirim ke London juga? Dia tertawa. “Saya memang suka sekali memotret hal yang menarik perhatian saya. Mungkin sudah ada jutaan foto di telepon saya ini,” candanya. (RETNO DYAH AGUSTINA, Jawa Pos/ttg/JPG/r3)
Editor : Marthadi