Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menilai gelombang serangan ini sebagai bukti ambisi Moskow untuk terus melanjutkan peperangan yang telah berlangsung selama empat tahun.
Melansir laporan Angkatan Udara Ukraina, pasukan pertahanan udara dilaporkan berhasil menetralisir mayoritas ancaman tersebut. Dari total 205 drone yang diluncurkan oleh Rusia, sebanyak 176 unit berhasil ditembak jatuh atau dilumpuhkan sistem pengacau sinyal.
“Sebagian besar berhasil ditembak jatuh dan saya berterima kasih kepada semua prajurit kita yang berhasil memukul mundur serangan ini,” ujar Zelensky, sebagaimana dikutip dari Euronews, Jumat (2/1/2026).
Otoritas di Wilayah Odesa mengonfirmasi bahwa serangan dilakukan Rusia dalam beberapa gelombang. Meskipun mengakibatkan kerusakan fisik pada sebuah bangunan tempat tinggal dua lantai dan satu unit apartemen di lantai 17, laporan resmi menyatakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Pihak Moskow mengeklaim bahwa operasi udara ini merupakan respons langsung atas tindakan Kyiv yang dituduh meluncurkan puluhan drone jarak jauh ke kediaman resmi Putin pada 28-29 Desember lalu. Sebaliknya, pemerintah Ukraina secara tegas membantah tudingan tersebut dan melabelinya sebagai pernyataan yang tidak berdasar.
Hingga saat ini, prospek kesepakatan damai antara kedua negara masih jauh dari realisasi. Di tengah eskalasi yang terjadi, Moskow juga melaporkan adanya serangan drone susulan oleh pihak Ukraina di wilayah Kherson yang saat ini diduduki oleh Rusia.
Sementara itu, dalam pidato tahun barunya, Presiden Vladimir Putin kembali menegaskan keyakinannya terhadap kemenangan militer Rusia. Ia memuji para prajurit yang dikerahkan sebagai pahlawan bangsa yang tengah berjuang demi keadilan dan kedaulatan tanah air.
“Kami percaya kepada Anda dan pada kemenangan kita,” ujar Putin, seperti dikutip dari kantor berita Rusia, Tass.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih dalam posisi siaga tinggi, menandakan bahwa tahun 2026 akan menjadi periode krusial lainnya dalam dinamika konflik di Eropa Timur ini.
Editor : Redaksi Lombok Post