LombokPost - Setiap musim kemarau, kita semakin cemas melihat sumber air menyusut. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa krisis air yang terjadi di beberapa daerah di NTB salah satunya disebabkan oleh kerusakan hutan.
Selain itu, masalah sampah merupakan masalah serius yang harus ditangani di NTB. Sampah plastik mengotori pantai-pantai indah yang menjadi kebanggaan kita.
Anak-anak kita tumbuh dengan istilah global warming dan climate change, tetapi sering tidak tahu cara bertindak lokal untuk menyelamatkan lingkungan mereka sendiri.
Di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata ini, ada harta karun yang sering terabaikan: kearifan ekologis yang tertanam dalam budaya Lombok (Etnosains).
Etnosains merupakan studi tentang pengetahuan ilmiah dalam praktik budaya bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan kurikulum hidup untuk pendidikan berkelanjutan yang bisa kita bawa ke ruang kelas.
Lihatlah ke sekitar kita. Sistem subak atau menong yang mengatur pembagian air untuk persawahan secara adil dan bergilir adalah sebuah masterclass dalam manajemen sumber daya alam terbatas dan keadilan sosial.
Tradisi Bau Nyale bukan hanya ritual budaya; ia adalah observasi ekologi yang cermat tentang siklus reproduksi cacing laut (Eunice viridis) yang terkait dengan fase bulan dan musim sebuah pelajaran tentang koneksi ekosistem pesisir.
Pengetahuan tentang tanaman obat (loloh) dan pewarna alami tenun adalah ensiklopedia biodiversitas yang mengajarkan pemanfaatan tanpa pemusnahan.
Bahkan arsitektur bale Sasak yang sejuk dan tahan gempa adalah contoh sempurna desain berkelanjutan yang adaptif terhadap iklim dan geologi.
Sayangnya, di sekolah, sains dan isu lingkungan sering diajarkan secara abstrak, terpisah dari konteks lokal. Anak-anak bisa menghafal penyebab pemanasan global, tetapi tidak diajak memahami bagaimana nenek moyang mereka menjaga kelestarian mata air atau merotasi tanaman. Padahal, dalam kondisi krisis lingkungan seperti sekarang, pendidikan harus mampu membentuk agen perubahan lokal individu yang tidak hanya paham masalah global tetapi juga punya kapasitas untuk bertindak di komunitasnya.
Di sinilah etnosains Lombok menjadi jawaban strategis. Dengan menjadikan etnosains sebagai media pembelajaran, kita melakukan tiga transformasi sekaligus:
Pertama, dari teori ke praktik. Siswa tidak sekadar membaca tentang ekosistem, tetapi menganalisis keberlanjutan sistem subak di desanya.
Mereka tidak hanya belajar klasifikasi tumbuhan, tetapi mendokumentasikan jenis-jenis tanaman obat yang digunakan keluarganya dan ancaman kepunahannya.
Kedua, dari kepasifan ke aksi. Pembelajaran berbasis etnosains secara alami mengarah pada project-based learning yang solutif.
Contohnya: kelas bisa membuat proyek pemilahan sampah terinspirasi konsep awig-awig (hukum adat) yang melarang pencemaran; atau kampanye penanaman kembali tumbuhan lokal multi-fungsi (pangan, obat, kosmetik) untuk mengembalikan keanekaragaman hayati.
Ketiga, dari keterputusasan ke kebanggaan lokal. Saat siswa menyadari bahwa ilmu pengetahuan tinggi ada dalam budaya mereka sendiri, tumbuhlah rasa percaya diri dan tanggung jawab untuk melestarikannya.
Mereka menjadi guardians of Lombok's ecology penjaga aktif warisan ekologis dan budayanya.
Tentu, jalan ini ada tantangannya. Pengetahuan etnosains sering tersebar dan bersifat lisan. Bahan ajar yang sistematis masih terbatas.
Yang lebih mengkhawatirkan, sumber belajar etnosains itu sendiri, lingkungan alam dan tradisi tengah terancam. Jika hutan sumber tanaman obat hilang, jika sistem subak terabaikan, maka kita kehilangan laboratorium alamiah yang tak tergantikan.
Oleh karena itu, kita perlu aksi kolektif yang cepat dan terstruktur:
1) Pemerintah Daerah harus memimpin dengan membuat kebijakan yang mengintegrasikan etnosains Lombok ke dalam Kurikulum Merdeka sebagai bagian dari proyek profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi "Bergotong Royong" dan "Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia" yang mencintai alam ciptaan-Nya.
2) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama perguruan tinggi dapat menyusun modul pembelajaran sederhana berbasis etnosains untuk guru, dilengkapi dengan pelatihan dan pendampingan.
3) Sekolah dan Guru perlu membangun kemitraan dengan komunitas adat, petani pintar air (pekaseh), dan para tetua. Undang mereka ke kelas, atau ajak siswa belajar langsung ke sawah, ke hutan adat, atau ke pantai tempat ritual Nyale.
4) Media dan Masyarakat memiliki peran membangun narasi bahwa kearifan lokal bukanlah hal kuno, melainkan teknologi hijau (green technology) asli Lombok yang relevan untuk masa depan.
Pada akhirnya, membawa etnosains Lombok dari krisis lingkungan ke ruang kelas adalah sebuah investasi untuk ketahanan pulau ini. Kita tidak hanya mengajar anak-anak untuk lulus ujian, tetapi mempersenjatai mereka dengan "pedang" pengetahuan lokal dan "perisai" kesadaran ekologis untuk menghadapi tantangan zaman.
Dengan cara ini, pendidikan menjadi ujung tombak untuk memulihkan hubungan simbiosis antara manusia Lombok dengan alamnya sebuah hubungan yang selama ini telah dirajut dengan begitu indah dan bijak oleh para leluhur. Saatnya kini generasi penerus yang merawatnya, dimulai dari bangku sekolah. (Dr. Syarifa Wahidah Al Idrus Dosen Tetap Prodi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Mataram)
Editor : Kimda Farida